Indonesia’s Rare Earth Potential Attracts UK and Canada Interest Under New Policy
Dailynesia.com – Dalam upaya memperkuat daya saing sektor pertambangan nasional, pemerintah Indonesia meluncurkan New Policy yang menargetkan pemanfaatan sumber daya logam tanah jarang (LTJ) sebagai bagian dari strategi hilirisasi. Hal ini diungkapkan oleh Irwandy Arif, ketua Indonesian Mining Institute (IMI), dalam webinar yang digelar oleh Badan Industri Mineral (BIM), menunjukkan bahwa beberapa perusahaan global dari Inggris hingga Kanada pernah tertarik menggarap potensi LTJ di Indonesia. Menurut Irwandy, kekayaan mineral kritis seperti monasit, uranium, dan torium di endapan timah serta komoditas lainnya membuat Indonesia menjadi target utama bagi mitra internasional.
“Saya ceritakan rintisan-rintisan kerja sama yang dilakukan oleh PT Timah dengan perusahaan-perusahaan global, termasuk Less Common Metals (LCM) dari Inggris, United Kingdom, dan Canada Rare Earth Corporation dari Kanada, untuk mengolah monasit menjadi logam tanah jarang. Meski telah diupayakan sejak 2018, kesepakatan komersial hingga saat ini belum tercapai,” kata Irwandy.
Proyek kerja sama teknologi pengolahan LTJ dengan perusahaan asing seperti LCM dan Canada Rare Earth Corporation menjadi fokus utama New Policy yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan baku mentah. PT Timah Tbk (TINS) telah menjajaki berbagai bentuk kolaborasi, termasuk penggunaan teknologi canggih untuk memisahkan LTJ dari endapan timah. Namun, tantangan utama adalah kebutuhan penguasaan teknologi pemrosesan yang sebagian besar masih dipegang oleh negara-negara lain.
Proses hilirisasi ini juga dilakukan melalui kemitraan dengan perusahaan dari Malaysia, seperti Malaco Mining, serta negara Australia melalui Lynas Rare Earths. Selama ini, Indonesia lebih dikenal sebagai produsen mineral mentah, tetapi New Policy menargetkan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan menjadi produk akhir. Kepala BIM, Brian Yuliarto, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asing secara aktif berkomunikasi dengan pihak pemerintah untuk mendukung pengembangan infrastruktur dan kemitraan teknologi dalam sektor ini.
Dalam New Policy, pemerintah menggagas langkah-langkah konkret untuk menghadirkan investor asing yang mampu menanamkan modal dalam pengolahan LTJ. Contohnya, BIM sedang menjajaki kerja sama dengan pihak Jepang, negara yang dikenal sebagai penghasil LTJ terbesar dunia. “Kemitraan dengan Jepang bisa menjadi bagian dari New Policy untuk menjamin ketersediaan teknologi pemrosesan yang andal dan efisien,” tambah Irwandy, yang menekankan pentingnya kebijakan ini dalam menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan.
Logam Tanah Jarang: Jenis, Fungsi, dan Kekayaan Indonesia
Logam tanah jarang (LTJ) merupakan kelompok dari 17 unsur kimia yang memiliki sifat magnetik dan kimia unik. Unsur-unsur ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu logam tanah jarang ringan dan berat. Kelompok berat lebih langka, dengan contoh seperti skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), dan lutesium (Lu), yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Sementara itu, logam ringan seperti cerium (Ce) dan praseodymium (Pr) lebih umum ditemukan dalam endapan alam.
Di Indonesia, LTJ sering muncul sebagai mineral ikutan dalam penambangan timah, nikel, dan bauksit. Lokasi utama endapan monasit, xenotim, dan zirkon terletak di Kepulauan Bangka Belitung, yang merupakan salah satu daerah penghasil LTJ terbesar di Asia Tenggara. Meski jumlahnya belum sepenuhnya dikembangkan, kekayaan ini menawarkan peluang besar jika dikelola secara efisien. New Policy diharapkan dapat mempercepat proses ini dengan menarik perusahaan asing yang memiliki keahlian dalam teknologi pemurnian.
Perusahaan-perusahaan internasional seperti LCM dan Canada Rare Earth Corporation telah menunjukkan minat pada kekayaan LTJ Indonesia, tetapi hambatan utama terletak pada penguasaan teknologi pemrosesan. New Policy bertujuan memperbaiki kondisi ini dengan mengatur kerja sama yang lebih strategis, termasuk pendanaan penelitian dan pengembangan. Irwandy menegaskan bahwa pemerintah perlu memastikan kebijakan ini tidak hanya fokus pada ekspor, tetapi juga membangun industri dalam negeri yang kompetitif di tingkat global.
Kemitraan dan Tantangan dalam Implementasi New Policy
Salah satu upaya dalam New Policy adalah memfasilitasi komunikasi antara perusahaan pertambangan nasional dengan investor asing yang memenuhi kriteria. Kemitraan dengan Lynas Rare Earths dari Australia, yang sudah memiliki pabrik pemurnian di Malaysia, menjadi contoh awal kerja sama ini. Namun, Irwandy mengungkapkan bahwa komitmen dari pihak asing masih tergantung pada kejelasan kebijakan pemerintah dan kemudahan akses ke pasar internasional.
Para ahli menyatakan bahwa hilirisasi LTJ membutuhkan pendekatan yang holistik, mulai dari penambangan hingga pemasaran produk akhir. New Policy diharapkan mendorong percepatan proses ini dengan memastikan bahwa perusahaan lokal tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga aktif dalam produksi dan pemasaran. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan mengurangi risiko kekacauan pasar global yang sering memengaruhi harga komoditas mineral.
Irwandy menambahkan bahwa New Policy akan berdampak signifikan pada sektor pertambangan Indonesia jika diterapkan secara konsisten. “Kemitraan yang sebelumnya hanya bersifat eksplorasi sekarang

