Latest Program: Awas Perang Arab! Trump Dorong Negara Muslim Terlibat Invasi Iran
Dailynesia.com – Jakarta, Tensi perang di wilayah Teluk Persia semakin memuncak setelah Amerika Serikat (AS) mengambil inisiatif untuk mendorong negara-negara Muslim, khususnya Uni Emirat Arab (UEA), terlibat dalam operasi militer terhadap satu pulau strategis milik Iran. Tindakan ini menjadi sorotan media internasional, termasuk The Telegraph, yang melaporkan bahwa AS tengah mengembangkan strategi untuk mengurangi ketergantungan langsung pada militer mereka dengan mengandalkan sekutu regional. Perencanaan ini dilakukan dalam konteks meningkatnya biaya konflik dan kehabisan stok senjata rudal yang telah dihabiskan dalam operasi penyerangan terhadap Iran.
Keterlibatan UEA dalam Strategi Militer AS
Kabarnya, UEA diberi peran kunci dalam perencanaan invasi pulau Lavan, yang menjadi pusat ekspor minyak Iran. Pulau ini dikenal sebagai titik strategis karena memiliki infrastruktur penting seperti kilang minyak, gudang penyimpanan, dan pelabuhan tanker yang terhubung ke lapangan minyak utama. Selain itu, Lavan juga menyimpan cadangan gas alam yang besar, menjadikannya target utama bagi strategi AS dalam memutus rantai pasokan energi Iran. Rencana ini disampaikan oleh lingkaran dalam kekuatan utama AS, yang ingin mempercepat operasi melalui kemitraan dengan negara Muslim yang lebih terjangkau.
“Kami percaya bahwa dengan menambahkan negara-negara Muslim ke dalam serangan ini, AS bisa mengurangi risiko langsung dan memperkuat dominasi di wilayah Teluk,” jelas sumber militer dalam analisis terbaru tentang Latest Program.
Konflik Teluk dan Tekanan dari Pentagon
Konflik dengan Iran telah berlangsung selama beberapa bulan, dengan AS menghabiskan sekitar US$29 miliar untuk operasi udara dan pertahanan rudal. Angka ini terus meningkat seiring persediaan senjata yang berkurang, sehingga Pentagon memutuskan untuk berkolaborasi dengan sekutu regional seperti UEA. Tindakan ini merupakan bagian dari Latest Program yang bertujuan mempercepat pengisian senjata melalui pemesanan dari perusahaan pertahanan baru, yang menawarkan harga lebih terjangkau namun dengan kualitas cukup memadai.
Analisis militer AS menunjukkan bahwa serangan berkelanjutan dengan sistem THAAD, Patriot, dan Tomahawk telah menyebabkan pengurasan cadangan senjata. Dalam rangka mendukung Latest Program, Pentagon juga sedang mengembangkan strategi penggunaan senjata tahan lama yang bisa digunakan dalam operasi jangka panjang. Selain itu, AS berupaya menguatkan koordinasi dengan negara-negara Muslim lainnya, termasuk Arab Saudi, untuk menjaga kestabilan di wilayah Teluk Persia.
Sementara itu, Teheran menuduh Abu Dhabi menjadi basis kekuatan musuh dalam operasi militer mereka. Pernyataan ini disusul dengan respons dari Iran yang menargetkan wilayah Emirat Arab, termasuk serangan terhadap fasilitas pangan dan transportasi. Meski demikian, keterlibatan langsung UEA dalam Latest Program masih terbuka, tergantung pada keputusan pemerintah mereka mengenai persiapan militer dan politik.
Beberapa sekutu AS, seperti Jerman, Spanyol, dan Inggris, tampak ragu untuk meningkatkan partisipasi militer mereka dalam operasi ini. Mereka lebih memilih untuk memantau dinamika konflik secara aktif daripada terlibat secara langsung. Di sisi lain, Arab Saudi, meskipun terlibat dalam penyerangan terbatas terhadap Iran, justru tidak sepenuhnya mendukung Latest Program, karena khawatir terjadi perpecahan di antara negara-negara Arab.
Latest Program juga memperlihatkan peran Trump dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara Muslim di Timur Tengah. Langkah ini sejalan dengan agenda politik Trump yang ingin membangun koalisi anti-Iran. Dengan memasukkan UEA sebagai mitra utama, AS berharap mempercepat penghancuran infrastruktur Iran dan mengurangi tekanan dari sekutu utama seperti Israel. Namun, strategi ini masih menunggu respons dari negara-negara Muslim lainnya, yang mungkin bergantung pada keuntungan ekonomi atau keamanan dari keikutsertaan mereka.

