Harga Perak Terkapar Gegara The Fed, Ambruk 5% Dalam Sepekan!

3 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
update-pergerakan-harga-perak-dalam-setahun-1769414781406_169

Harga Perak Terkapar Gegara The Fed, Ambruk 5% Dalam Sepekan!

Penurunan Harga Perak Dipicu oleh Kebijakan The Fed

Dailynesia.com – Harga perak global mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir, dengan penurunan hingga 5,44% selama periode satu minggu terakhir. Data Refinitv menunjukkan bahwa harga perak spot turun ke level US$75,95 per troy ons, yang menjadi titik terendah sejak bulan Mei 2023. Penurunan ini secara langsung dipengaruhi oleh kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang terus menegaskan komitmen untuk menjaga suku bunga tinggi dalam jangka panjang.

Key Strategy – Tegangan inflasi di Amerika Serikat menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika harga perak. Dalam April 2026, angka inflasi (CPI) mencapai 0,6% per bulan dan 3,8% tahunan, sedikit di atas ekspektasi pasar. Meski inflasi inti—yang tidak mencakup makanan dan energi—mengalami peningkatan lebih kecil, yaitu 0,4% bulan ini, angka tahunan 3,8% tetap menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023. Kebijakan suku bunga The Fed yang “higher for longer” memperkuat kemungkinan kebijakan moneter yang ketat, yang secara tidak langsung mengurangi daya tarik perak sebagai aset investasi.

Proyeksi The Fed dan Perubahan Ekspektasi Pasar

Setelah data inflasi dirilis, peluang pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed meningkat menjadi sekitar 30% hingga akhir tahun ini. Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dilihat sebagai strategi untuk mengendalikan inflasi, terutama dalam konteks permintaan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Key Strategy – Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed berdampak besar pada kinerja perak. Sebelumnya, investor masih optimis tentang kemungkinan satu hingga dua kali penurunan suku bunga selama tahun ini. Namun, data inflasi yang melebihi prediksi memicu pergeseran fokus ke strategi pengendalian inflasi yang lebih agresif. Ini menjadikan perak sebagai salah satu komoditas yang terkena tekanan signifikan, karena kebijakan moneter yang ketat membuat investor lebih tertarik pada aset-aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Banyak ahli ekonomi menilai bahwa kebijakan “higher for longer” The Fed adalah bagian dari strategi yang lebih luas untuk menstabilkan perekonomian AS. Dengan menaikkan suku bunga lebih lanjut, The Fed berusaha mengurangi permintaan tenaga kerja dan mengendalikan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi. Hal ini mengakibatkan nilai perak tergerus, karena mata uang AS menjadi lebih kuat dan investasi dalam aset berisiko lebih rendah.

Permintaan Struktural dan Peran Perak dalam Pasar Industri

Key Strategy – Meski harga perak turun akibat tekanan makroekonomi, permintaan struktural dari industri masih menjadi faktor yang mendukung stabilitas harga jangka panjang. Perak berperan sebagai komoditas utama dalam sektor tenaga surya, sistem kelistrikan, komponen elektronik, dan manufaktur kendaraan listrik. Pertumbuhan sektor-sektor ini memberikan lantai harga yang kuat, meski saat ini harga perak sedang terpuruk.

Selain itu, kebutuhan global terhadap perak juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dunia. Negara-negara berkembang yang sedang mendorong pembangunan infrastruktur dan industri keuangan mengandalkan perak sebagai aset aman yang memiliki daya beli tetap tinggi. Namun, kebijakan moneter AS yang ketat membuat aliran dana ke komoditas seperti perak lebih terbatas, sehingga mengurangi daya tariknya di pasar global.

Key Strategy – Dalam konteks ini, peran perak sebagai komoditas industri justru menjadi kunci untuk memahami strategi investasi jangka panjang. Meski terjadi penurunan harga sementara, permintaan struktural dari sektor teknologi dan energi terbarukan menunjukkan bahwa perak tetap relevan dalam rantai pasok global. Hal ini menantang pasar untuk menilai kembali strategi investasi dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas.

Ketidakpastian Geopolitik dan Dampaknya pada Harga Perak

Key Strategy – Di sisi lain, ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah juga memengaruhi harga perak. Konflik yang berkepanjangan memicu kenaikan harga energi, yang secara tidak langsung memperkuat tekanan inflasi. Kenaikan harga minyak mentah mengurangi daya beli konsumen dan meningkatkan biaya produksi, yang berdampak pada permintaan komoditas seperti perak.

Kebijakan The Fed yang konservatif juga memperkuat dampak ketidakpastian geopolitik. Jika harga energi terus meningkat, inflasi inti mungkin akan lebih stabil, tetapi inflasi total akan tetap menjadi sumber tekanan. Hal ini menyebabkan investor lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana ke aset yang rentan terhadap fluktuasi harga, termasuk perak.

MORE FROM THIS CATEGORY