Special Plan: Putin Serang Kyiv dengan 1.500 Drone dan 56 Rudal
Dailynesia.com – Menjadi perhatian utama setelah Rusia meluncurkan serangan udara massal terhadap Kyiv, ibu kota Ukraina, dengan memanfaatkan 1.500 drone dan 56 rudal dalam dua hari terakhir. Serangan ini dilaporkan berlangsung dari Rabu hingga Kamis waktu setempat, mengakibatkan kerusakan parah di berbagai wilayah kota. Pihak lokal masih berusaha mengungkap jumlah korban yang tertimbun di bawah bangunan yang hancur, sementara perang udara ini dianggap sebagai salah satu operasi terbesar dan terlama menggunakan drone sejak konflik dimulai.
Keseriusan Serangan dan Korban Jiwa
Menurut laporan dari AFP, jumlah korban tewas akibat serangan udara Rusia di Kyiv telah mencapai 21 orang. Jumlah ini meningkat karena ditemukan sejumlah mayat di antara reruntuhan gedung yang hancur akibat rudal dan drone milik Moskow. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa lebih dari 1.560 drone telah diluncurkan ke wilayah Ukraina dalam dua hari terakhir, menjadikannya operasi terbesar dalam sejarah konflik. “Rusia menimbun drone dan rudal selama periode tertentu, lalu dengan sengaja memilih waktu serangan untuk memastikan skalanya signifikan serta menyulitkan pertahanan udara kami,” ujar Zelensky, mengutip CNN Internasional.
Sejumlah korban meninggal terjadi di distrik Darnytskyi, khususnya di sebuah gedung apartemen sembilan lantai. Dalam peristiwa tersebut, setidaknya 16 orang tewas, termasuk seorang gadis berusia 12 tahun. Walikota Kyiv Vitali Klitschko menambahkan bahwa seorang remaja 15 tahun dan satu pria yang mengalami luka parah juga menjadi korban. Serangan ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga menimbulkan ketakutan besar di tengah masyarakat.
Strategi dan Penyelidikan Kehadiran Special Plan
Special Plan diklaim sebagai bagian dari strategi Rusia untuk mempercepat penyelesaian konflik dengan menghancurkan fasilitas penting Ukraina. Serangan tersebut mengenai tempat-tempat yang dianggap menjadi pusat operasional dan pendukung pemerintah Ukraina. Menurut laporan, sejumlah sumber menyebut bahwa serangan ini merupakan bagian dari rencana terpadu yang dirancang untuk menciptakan tekanan politik dan psikologis terhadap pemerintah Kyiv.
Dalam wawancara dengan CNN Internasional, Zelensky menyatakan bahwa operasi drone dan rudal Rusia dilakukan secara terencana, dengan tujuan mengganggu kestabilan listrik, komunikasi, dan transportasi di Kyiv. “Kami sedang mempersiapkan respons yang tegas untuk melawan agresi ini,” tegasnya. Dalam waktu yang sama, klitschko menyebut serangan ini sebagai “serangan terbesar musuh terhadap ibu kota” dan menetapkan hari berkabung nasional untuk besok sebagai bentuk penghormatan kepada korban.
Testimoni Korban dan Dampak Psikologis
Salah satu warga Kyiv, Olena Suntovska (38 tahun), menggambarkan momen mengerikan saat bangunan apartemennya hancur akibat ledakan. “Saya mendengar suara ledakan yang keras. Saya lari ke dapur, lalu melihat orang-orang berlarian di halaman, berteriak meminta bantuan. Setelah itu, saya tergesa-gesa keluar gedung dan menemukan pintu depan sudah lenyap,” ujarnya. Keterpanikan Olena mencerminkan ketakutan warga Kyiv yang semakin meningkat setelah serangan Special Plan terjadi.
Testimoni serupa juga diberikan oleh Polina (76 tahun), yang terbangun di tengah malam dan menemukan jendela balkonnya rusak berat. “Saya tidak pernah membayangkan kerusakannya bisa separah ini; ketika saya ke halaman, saya tidak percaya dengan mata saya sendiri. Kami tidak punya tempat perlindungan bom yang layak di sini,” katanya. Dengan jarak yang semakin dekat, serangan Special Plan terus memperkuat dampak psikologis dan fisiologis terhadap warga sipil.
Kerusakan tidak hanya terbatas pada bangunan. Serangan pada Kamis pagi juga menyasar Kharkiv dan Odesa, mengakibatkan setidaknya 28 korban di Kharkiv serta dua korban cedera di Odesa. Infrastruktur energi menjadi target utama, termasuk gardu induk listrik milik DTEK dan jalur kereta api nasional Ukrzaliznytsia. Penghancuran ini mengganggu pasokan listrik dan transportasi, yang menjadi bagian dari rencana menekan ekonomi Ukraina.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas Special Plan, Rusia melibatkan berbagai jenis senjata udara, termasuk drone yang dipasang sensor canggih untuk mengenali target strategis. Sementara itu, rudal yang digunakan tergantung pada jenis target: drone digunakan untuk serangan luas, sedangkan rudal diprioritaskan untuk menargetkan fasilitas militer dan transportasi. Strategi ini mencerminkan kecanggihan teknologi Rusia dalam operasi militer modern.
Dengan jumlah korban yang terus meningkat, Special Plan memperlihatkan intensitas pertarungan yang semakin berat di Kyiv. Serangan ini tidak hanya menjadi ujian bagi pertahanan Ukraina, tetapi juga menguji kekuatan dan kemampuan komando Rusia dalam mengkoordinasikan operasi udara yang bersifat massal. Meski begitu, Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tetap fokus pada strategi pertahanan, dengan harapan mengurangi kerusakan dan memperkuat posisi politik mereka di tengah dunia.

