BRIN Sudah Kembangkan Reaktor Nuklir Mini dengan Kapasitas 50 Megawatt
Dailynesia.com – Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah resmi mengumumkan kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi energi nuklir. BRIN Sudah Kembangkan Reaktor Nuklir Mini yang dikenal sebagai Small Modular Reactor (SMR) dan siap untuk diimplementasikan sebagai sumber pembangkit listrik di Indonesia. Kepala BRIN, Arif Satria, menyampaikan bahwa teknologi ini telah mencapai tahap kesiapan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan investasi yang dibutuhkan.
Menurut informasi yang disampaikan oleh Arif Satria, proyek pengembangan reaktor nuklir modular kecil ini memerlukan dana investasi sebesar Rp2,5 triliun. Jumlah tersebut dinilai cukup terjangkau untuk memulai implementasi teknologi canggih ini di Indonesia. BRIN telah menyiapkan berbagai aspek teknis dan administratif untuk mendukung proyek strategis nasional ini.
Spesifikasi Teknis dan Generasi Reaktor
Reaktor nuklir mini yang dikembangkan oleh BRIN memiliki kapasitas daya sekitar 50 megawatt (MW). Kapasitas ini memang lebih kecil dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional yang biasanya menghasilkan daya hingga ratusan megawatt. Namun, keunggulan utama dari teknologi SMR terletak pada fleksibilitas penggunaannya dan kemudahan dalam proses instalasi di berbagai lokasi.
“Kecil masih sekitar 50 megawatt. Tapi memang namanya small, paling tidak kita punya teknologinya,” ujar Arif Satria di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026).
BRIN telah menyiapkan dua level teknologi SMR yang mencakup generasi ketiga dan generasi keempat. Kedua generasi ini memiliki tingkat keselamatan yang sangat tinggi dan telah melalui berbagai tahap pengujian. Dengan adanya dua generasi yang siap digunakan, BRIN kini menunggu pihak-pihak yang berminat untuk mengadopsi teknologi ini dalam proyek-proyek energi nasional.
Investasi dan Peluang Pengembangan
Arif Satria menjelaskan bahwa investasi sebesar Rp2,5 triliun merupakan jumlah yang tidak terlalu besar untuk memulai pengembangan reaktor nuklir mini. BRIN telah menyiapkan infrastruktur dan sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung implementasi teknologi ini. Dengan dua generasi yang sudah siap, langkah selanjutnya adalah menunggu siapa yang akan menggunakan teknologi tersebut.
“Tapi BRIN juga siap dengan dua level: satu generasi tiga, dua generasi empat. Nah, dengan dua generasi yang sudah kita siapkan ini, ini tinggal nunggu siapa yang akan pakai teknologinya BRIN ini. Karena untuk itu kan butuh investasi. Berapa investasinya? Rp2,5 triliun. Itu kecil, tidak besar. Kalau kita mau coba, ya, BRIN sudah siap untuk itu,” tuturnya.
Aplikasi Luas di Sektor Non-Kelistrikan
Selain fokus utama pada pembangkit listrik, BRIN juga terus menyempurnakan desain dan model SMR sebagai bagian dari pengembangan teknologi nuklir nasional. Riset teknologi nuklir BRIN saat ini juga difokuskan untuk mendukung sektor nonkelistrikan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Arif menyebutkan bahwa aplikasi teknologi nuklir tidak hanya terbatas pada energi. Penggunaan teknologi nuklir untuk sektor kesehatan mencakup radiofarmaka yang digunakan untuk identifikasi penyakit kanker. Selain itu, metode pengawetan buah-buahan juga dikembangkan agar lebih tahan lama ketika dilakukan ekspor ke berbagai negara tujuan.
“Yang jelas, BRIN untuk teknologi nuklir yang berkaitan dengan energi ya itu SMR yang sedang kita siapkan desainnya, modelnya. Namun yang sekarang kita arahkan adalah pemanfaatannya untuk pangan dan kesehatan,” katanya.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Reaktor Nuklir Mini BRIN
Berapa kapasitas daya reaktor nuklir mini BRIN? Reaktor nuklir mini BRIN memiliki kapasitas daya sekitar 50 megawatt (MW).
Berapa jumlah investasi yang dibutuhkan? Investasi yang diperlukan untuk pengembangan reaktor nuklir mini BRIN adalah sebesar Rp2,5 triliun.
Generasi apa saja yang telah disiapkan BRIN? BRIN telah menyiapkan dua level teknologi SMR, yaitu generasi ketiga dan generasi keempat.
Apa saja aplikasi nonkelistrikan dari teknologi nuklir BRIN? Aplikasi nonkelistrikan mencakup penggunaan radiofarmaka untuk identifikasi penyakit kanker dan metode pengawetan buah-buahan untuk ekspor.
Kapan informasi ini disampaikan? Informasi ini disampaikan oleh Kepala BRIN, Arif Satria, pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, di Kompleks Istana Kepresidenan.

