Pengakuan Bos Ritel: Harga Barang Sudah Naik 5-10% Akibat Dolar Tinggi

4 hours ago  ·  2 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
ketua-umum-himpunan-peritel-dan-penyewa-pusat-perbelanjaan-indonesia-hippindo-budihardjo-iduansjah_169

Bos Hippindo: Kenaikan Harga Barang 5-10 Persen Sudah Berlangsung

Dailynesia.com – Jakarta — Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyampaikan bahwa sejumlah komoditas, terutama produk impor, telah mengalami penyesuaian harga dalam beberapa bulan terakhir. Faktor utama yang mendorong hal ini adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, proses kenaikan ini sudah dimulai sejak satu hingga dua bulan yang lalu, sehingga bukan merupakan hal yang baru akan terjadi pada kuartal IV tahun ini. Ia menjelaskan:

“Kalau kita sudah naik dari kemarin sih, ya. Jadi sebenarnya kuartal IV-2026 kalau dolarnya turun, ya pasti kita juga akan mengikuti.”

Budihardjo menekankan bahwa dampak pelemahan kurs rupiah terutama dirasakan pada barang-barang yang diimpor. Besaran penyesuaian harga yang terjadi berkisar antara lima hingga sepuluh persen. “Ya 5% sampai 10%,” ujarnya singkat.

Kestabilan Kurs Lebih Penting dari Level Tertentu

Meskipun harga telah menyesuaikan, Hippindo menilai bahwa pelaku usaha lebih membutuhkan kestabilan nilai tukar daripada level kurs tertentu. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menghitung harga jual dengan lebih akurat.

“Sebenarnya dolar atau Rupiah itu yang penting stabil ya, jangan naik-turun gitu ya. Jadi kalau stabil, berapapun ya kita bisa menghitung harga jual.”

Ia menambahkan bahwa jika kurs memang naik, maka kenaikan harga sudah menjadi keniscayaan, terutama untuk barang impor. Namun, melalui efisiensi dan pemanfaatan teknologi terkini, Hippindo berupaya menekan dampak kenaikan tersebut.

Omzet Naik, Namun Profit Tergerus

Di sisi lain, kondisi ini juga memberikan tekanan pada keuntungan pelaku usaha ritel. Budihardjo mengakui bahwa meskipun omzet penjualan terus meningkat, laba perusahaan justru menyusut akibat berbagai biaya yang naik. Pelaku usaha berusaha menahan kenaikan harga melalui diskon dan efisiensi.

“Omzet naik, tapi memang ada penurunan profit. Nah, itu memang ada strategi untuk menaikkan penjualan dengan menekan profit. Jadi ya dengan diskon-diskon itu otomatis kan berkurang ya profit kami. Nah, ini adalah kiat sebenarnya salah satu cara untuk mempertahankan penjualan.”

Ia menutup dengan penjelasan bahwa pelemahan rupiah turut menggerus margin keuntungan karena perusahaan berupaya menjaga harga jual agar tidak melonjak terlalu tinggi di tingkat konsumen. “Karena masalah ini kan sekarang biaya dan kenaikan dolar tadi. Rupiah melemah itu kan juga menggerus profit kita, karena kita berusaha untuk menstabilkan harga, ya seperti itu,” pungkasnya.

Frequently Asked Questions

What is Pengakuan Bos Ritel?

Pengakuan Bos Ritel is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pengakuan Bos Ritel matter?

Pengakuan Bos Ritel matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

MORE FROM THIS CATEGORY