Peta Kekuatan Militer 15 Negara Timur Tengah 2026, Siapa Terkuat?

20 hours ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
bc223121-d2dd-485d-868c-266545671a2f-0

Analisis Kekuatan Militer 15 Negara Timur Tengah Tahun 2026: Siapa yang Paling Dominan?

Ketegangan Regional yang Terus Meluas

Dailynesia.com – Agustus 2026 menandai babak baru bagi Timur Tengah, di mana konflik bersenjata tidak lagi terbatas pada dua medan pertempuran saja. Perang kini telah merambah ke berbagai wilayah, termasuk Iran, Irak, negara-negara Teluk, hingga rute pelayaran internasional yang vital. Pada hari Sabtu tanggal 1 Agustus 2026, sebuah kapal tanker mengalami kerusakan akibat proyektil misterius. Insiden ini terjadi sekitar 11 mil laut dari arah timur laut kota Lima, Oman. Ruang mesin kapal hancur sehingga operasionalnya terganggu, namun tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun pencemaran lingkungan.

Titik serangan tersebut berdekatan dengan Selat Hormuz, koridor maritim strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Dalam keadaan normal, selat sempit ini menampung sekitar 20 persen dari total pengiriman energi global. Kejadian ini menyusul pernyataan Iran sehari sebelumnya bahwa mereka telah menghentikan dua kapal yang berusaha meninggalkan Selat Hormuz serta memaksa empat tanker lain untuk kembali. Verifikasi independen atas klaim Teheran masih belum tersedia.

Eskalasi Konflik AS-Israel vs Iran

Ketegangan laut ini merupakan bagian dari perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 antara koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Teheran membalas serangan dengan menargetkan Israel serta pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. Situasi memburuk pada bulan Juli setelah perjanjian gencatan senjata sementara gagal dipertahankan.

Pada 29 Juli 2026, militer AS melakukan serangan intensif selama dua jam ke puluhan fasilitas Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Target meliputi pusat komando, instalasi rudal dan drone, sistem pertahanan pesisir, serta aset maritim Iran. Sebagai tanggapan, Iran menyerang fasilitas militer Amerika di Kuwait dan Bahrain pada Jumat, 31 Juli 2026. Kuwait mengklaim berhasil menghancurkan beberapa drone, meskipun serpihannya menyebabkan kerusakan material.

Perluasan Konflik ke Negara Tetangga

Arab Saudi dan Irak juga terlibat dalam eskalasi ini. Kelompok Houthi dari Yaman mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli 2026, disertai serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur kerajaan. Akhir Juli menandai serangan gabungan AS-Arab Saudi ke lokasi kelompok bersenjata pro-Iran di Irak, yang dilakukan setelah fasilitas minyak di timur Arab Saudi menjadi sasaran.

Sejarah Panjang Konflik Timur Tengah

Konflik 2026 ini merupakan kelanjutan dari dinamika perebutan pengaruh yang telah berlangsung selama berabad-abad. Berikut ringkasan perang besar yang pernah terjadi di kawasan tersebut:

Perang Arab-Israel: Konflik ini terjadi dalam empat gelombang utama, yaitu tahun 1948, 1956, 1967, dan 1973. Perang 1948 dimulai setelah proklamasi kemerdekaan Israel dan berakhir dengan perluasan wilayah Israel. Krisis Suez tahun 1956 menjadi titik balik berikutnya. Dalam Perang Enam Hari 1967, Israel menguasai Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dan Semenanjung Sinai. Serangan gabungan Mesir dan Suriah pada Perang Yom Kippur 1973 mencoba membalikkan keadaan.

Perang Iran-Irak: Bertahan selama delapan tahun dari 1980 hingga 1988, perang ini dipicu oleh sengketa perbatasan, persaingan hegemoni regional, serta kekhawatiran Irak terhadap Revolusi Iran tahun 1979. Ratusan ribu nyawa melayang tanpa perubahan territorial yang signifikan.

Perang Teluk: Invasi Irak ke Kuwait pada Agustus 1990 di bawah kepemimpinan Saddam Hussein memicu respons internasional. Operasi Desert Storm yang diluncurkan AS dan sekutunya pada Januari 1991 berhasil mengusir pasukan Irak dari Kuwait.

Perang Irak: Serangan Maret 2003 oleh AS dan sekutunya didasarkan pada klaim bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Meskipun Saddam digulingkan, senjata tersebut tidak pernah ditemukan. Kekosongan kekuasaan pasca-perang memperburuk konflik sektarian dan membuka peluang bagi kebangkitan ISIS.

Perang Saudara Suriah: Dimulai dari demonstrasi tahun 2011, konflik ini melibatkan pemerintahan Bashar al-Assad, pemberontak, ISIS, pasukan Kurdi, dan kekuatan asing. Rezim Assad akhirnya jatuh pada Desember 2024. Namun, kekerasan sektarian dan serangan Israel masih berlanjut. Israel menguasai beberapa wilayah strategis setelah kejatuhan Assad. Presiden Ahmed al-Sharaa saat ini berupaya mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel tanpa melepaskan klaim Suriah atas Dataran Tinggi Golan.

Perang Yaman: Konflik ini bermula pada 2014 ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa. Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya kemudian melancarkan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

MORE FROM THIS CATEGORY