Perang Makin Gila Poros Perlawanan Iran Bangkit Lagi: Serangan Baru ke Arab Saudi Melalui Irak dan Yaman
Dailynesia.com – Perang Makin Gila Poros Perlawanan Iran kembali menunjukkan dinamika baru yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan laporan terbaru dari Reuters pada Jumat (31/7/2026), serangan terhadap fasilitas minyak di Provinsi Timur Arab Saudi ternyata melibatkan koordinasi kompleks antara milisi Irak dan kelompok Houthi dari Yaman. Operasi ini dilakukan di bawah pengawasan langsung Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, menandai kebangkitan kekuatan Poros Perlawanan yang selama ini sering diabaikan oleh publik internasional.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa kelompok-kelompok dalam jaringan Poros Perlawanan yang dipimpin Iran semakin memperkuat hubungan operasional mereka. Kemampuan untuk menyerang sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan juga meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun selama bertahun-tahun kelompok-kelompok tersebut menjadi target serangan dari Amerika Serikat dan Israel, mereka justru semakin solid dalam menghadapi tekanan eksternal.
Koordinasi Milisi Pro-Iran Semakin Kuat
Pemerintah Arab Saudi bersama mitra-mitra regionalnya mengungkap temuan penting mengenai serangan terhadap fasilitas minyak di Provinsi Timur kerajaan. Serangan yang awalnya diklaim dilakukan oleh kelompok Houthi dari Yaman, ternyata dilancarkan melalui wilayah Irak dengan dukungan penuh dari milisi-milisi Irak yang bersekutu dengan Teheran. Menurut dua pejabat kawasan yang dikutip Reuters, operasi gabungan antara Houthi dan kelompok bersenjata Irak ini berlangsung di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Hal ini berbeda dengan narasi resmi yang selama ini disampaikan kepada masyarakat. Sekarang terdapat pelatihan dan koordinasi langsung di antara anggota Poros Perlawanan itu sendiri, bukan hanya antara mereka dan Iran, seperti yang diungkapkan oleh Farea al-Muslimi, peneliti Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga kajian Chatham House. Pernyataan ini memperkuat analisis bahwa perang makin gila dengan munculnya koordinasi multi-negara dalam satu poros.
Respons Militer Saudi dan Amerika Serikat
Sebagai tanggapan, Arab Saudi bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke berbagai lokasi di Irak pada hari Rabu. Riyadh secara resmi menyalahkan kelompok-kelompok bersenjata Irak yang bersekutu dengan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak mereka. Media-media yang berafiliasi dengan Iran memberitakan bahwa serangan udara tersebut menewaskan sejumlah anggota IRGC, pejuang Irak, dan sedikitnya satu anggota Houthi.
Sementara itu, kelompok Houthi tetap mengklaim bahwa merekalah pelaku utama serangan tersebut. Serangan-serangan tersebut mencakup wilayah dari Lebanon hingga Iran, terutama setelah insiden serangan Hamas terhadap Israel pada tahun 2023. Perkembangan ini terjadi meskipun selama bertahun-tahun kelompok-kelompok tersebut menjadi target serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Irak Menjadi Basis Strategis Baru
Para analis menilai bahwa posisi Irak dalam jaringan Poros Perlawanan semakin penting. Hal ini terutama setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah dan melemahnya Hizbullah di Lebanon. Kerja sama antara Houthi dan kelompok bersenjata Irak yang loyal kepada Iran sebenarnya bukan hal baru. Hubungan tersebut terutama terjalin dengan Kataib Hizbullah, yang dianggap sebagai kelompok bersenjata Irak paling kuat dan paling terorganisasi.
Pada tahun 2024, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi mengumumkan keberadaan ruang operasi bersama antara Houthi dan kelompok-kelompok Irak. Tahun yang sama, kedua pihak juga mengumumkan operasi gabungan pertama mereka yang menargetkan Israel. Houthi juga memiliki kehadiran permanen di Irak, termasuk kantor dan perwakilan resmi bernama Ahmed al-Sharafi.
Menurut laporan Reuters, Sharafi beberapa kali menghadiri pertemuan terbuka dengan partai-partai Syiah Irak dan kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran. Pemerintah Arab Saudi, Iran, dan Irak tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Demikian pula kelompok Houthi yang sebelumnya mengatakan serangan terhadap Arab Saudi dilakukan sebagai balasan atas serangan Saudi di Yaman dan bertujuan mematahkan apa yang mereka sebut sebagai “pengepungan” oleh kerajaan tersebut.
Arab Saudi membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa puluhan kapal telah tiba di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Houthi sepanjang tahun ini. Dengan demikian, perang makin gila Poros Perlawanan Iran menunjukkan bahwa ancaman terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah semakin nyata dan memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional.
“Sekarang terdapat pelatihan dan koordinasi langsung di antara anggota Poros Perlawanan itu sendiri, bukan hanya antara mereka dan Iran,” ujar Farea al-Muslimi, peneliti Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga kajian Chatham House.

