Perang Memanas: Ini Peta Kekuatan Militer Iran, Irak, Arab Saudi-Mesir

3 days ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
2469c149-2177-4903-9729-3afcc8f2ea59-0

Ketegangan Iran dan AS Meluas: Analisis Kekuatan Militer Regional

Dailynesia.com – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kini telah merambah hingga ke wilayah Mesir. Pada Rabu (29/7/2026), sebuah drone berhasil menghantam kapal penyimpanan gas Energos Winter yang berlabuh di Pelabuhan Damietta. Kebakaran yang terjadi kemudian menyebar ke kapal GasLog Salem yang berada di dekatnya. Eskalasi ini juga melibatkan Irak dan Arab Saudi dalam dinamika yang semakin kompleks.

Saudi Arabia mencatat dua kali upaya pencegatan drone yang diarahkan ke fasilitas minyaknya pada Senin (27/7/2026) dan Selasa (28/7/2026). Pihak Riyadh menyatakan bahwa drone-drone tersebut diluncurkan oleh kelompok-kelompok pro-Iran dari Irak. Sebagai respons, AS dan Saudi bersama-sama menyerang basis-basis kelompok pro-Iran di Irak pada Rabu (29/7/2026). Keesokan harinya, AS kembali melakukan serangan terhadap puluhan fasilitas militer Iran.

Peringkat Global Firepower 2026

Meluasnya konflik ini memicu perbandingan kekuatan militer keempat negara yang terlibat. Berdasarkan data Global Firepower 2026, Iran menempati posisi teratas di antara Iran, Irak, Arab Saudi, dan Mesir. Negara tersebut berada di peringkat ke-16 dari 145 negara dengan PowerIndex sebesar 0,3199.

Mesir berada tidak jauh di bawah Iran pada peringkat ke-19 dengan skor 0,3651. Arab Saudi menduduki posisi ke-25 dunia dengan skor 0,4473, sementara Irak berada pada peringkat ke-44 dengan skor 0,8115. Dalam sistem penilaian Global Firepower, semakin mendekati angka nol menunjukkan kekuatan militer yang lebih besar. Penilaian ini tidak hanya melihat jumlah senjata, tetapi juga personel, anggaran, sumber daya alam, logistik, dan kondisi geografis.

Jumlah Personel Militer

Peringkat tersebut mencerminkan bahwa Iran memiliki kekuatan yang paling merata. Namun, setiap negara memiliki keunggulan masing-masing. Iran memiliki sekitar 610.000 tentara aktif, angka tertinggi di antara keempat negara. Mesir berada di urutan kedua dengan sekitar 438.500 tentara aktif, disusul Arab Saudi sebanyak 247.000 orang dan Irak sekitar 193.000 orang.

Kekuatan Iran menjadi lebih signifikan ketika pasukan cadangan dan paramiliter diperhitungkan. Global Firepower memperkirakan total personel militer Iran mencapai sekitar 1,18 juta orang. Menariknya, Mesir memiliki jumlah personel militer keseluruhan yang sedikit lebih besar, yakni sekitar 1,22 juta orang. Angka tersebut mencakup 438.500 personel aktif, 479.000 tentara cadangan, dan 300.000 anggota paramiliter.

Irak memiliki sekitar 100.000 personel paramiliter di luar tentara aktif. Keberadaan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan kekuatan politik dan negara lain membuat struktur keamanan Irak jauh lebih rumit.

Keunggulan Anggaran Arab Saudi

Keunggulan Arab Saudi terlihat paling jelas dari sisi anggaran pertahanan. Global Firepower mencatat anggaran pertahanan Saudi mencapai US$63,99 miliar. Nilainya hampir tujuh kali lipat anggaran Iran yang sebesar US$9,23 miliar. Anggaran militer Irak tercatat sebesar US$8 miliar, sedangkan Mesir hanya sekitar US$5,19 miliar.

Besarnya anggaran memungkinkan Arab Saudi membeli pesawat, rudal, radar, serta sistem pertahanan udara berteknologi tinggi dari AS dan Eropa. Namun, anggaran besar tidak otomatis menghasilkan personel, tank, artileri, atau kapal dalam jumlah lebih banyak. Saudi hanya memiliki 247.000 tentara aktif, jauh di bawah Iran dan Mesir. Jumlah tank Saudi juga menjadi yang paling sedikit di antara keempat negara, yakni sekitar 1.085 unit.

Kekuatan Rudal dan Drone Iran

Kekuatan utama Iran tidak sepenuhnya terlihat dalam perhitungan Global Firepower. Salah satu penyebabnya adalah inventaris drone tidak dimasukkan dalam jumlah armada pesawat GFP. Padahal, Iran merupakan salah satu produsen drone militer terbesar di dunia. Senjata yang paling dikenal adalah keluarga drone Shahed. Shahed-136 merupakan drone serang satu arah yang membawa bahan peledak menuju sasaran. Bentuknya menyerupai sayap delta dan dapat diterbangkan pada ketinggian rendah untuk menyulitkan radar.

Keunggulan terbesarnya berada pada biaya. Reuters memperkirakan sebuah drone Shahed berharga sekitar US$20.000-US$50.000. Biayanya jauh lebih murah dibandingkan rudal pertahanan udara yang digunakan untuk menembak jatuhnya. Iran dapat meluncurkan drone tersebut dalam jumlah besar bersama rudal atau drone pengecoh. Tujuannya membuat radar mendeteksi banyak sasaran sekaligus dan memaksa lawan menghabiskan persediaan rudal pencegat.

Selain drone, Iran disebut memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Salah satu senjata yang paling banyak diperbincangkan adalah Fattah. Iran memperkenalkan Fattah pada 2023 sebagai rudal hipersonik pertamanya. T

MORE FROM THIS CATEGORY