Gubernur dan Anggota Dewan di Jawa Kumpul Kebo, Ini Nama-Namanya

6 days ago  ·  2 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
voc_169

Fenomena Kumpul Kebo: Dari Zaman Kolonial Hingga Kini

Dailynesia.com – Praktik hidup bersama tanpa ikatan pernikahan resmi atau yang dikenal sebagai kumpul kebo merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah sosial Indonesia. Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak masa kolonial, khususnya di kalangan para pejabat Belanda yang menetap di Hindia Belanda. Banyak pejabat tinggi dan warga Belanda kala itu memilih menjalani hubungan rumah tangga dengan perempuan lokal tanpa melalui pernikahan formal.

Keputusan tersebut didorong oleh dua faktor utama. Pertama, membawa istri dari Eropa ke Hindia Belanda membutuhkan biaya yang sangat besar. Kedua, perjalanan tersebut menyimpan risiko tinggi. Sebagai alternatif, mereka membentuk hubungan dengan perempuan lokal yang sebagian besar berasal dari kalangan budak.

Para Pejabat Kolonial dan Pasangan Lokal Mereka

Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff yang berkuasa antara tahun 1743 hingga 1750 menjadi salah satu contoh nyata. Menurut catatan dalam buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta terbitan 2016, van Imhoff yang sudah memiliki istri resmi pernah menerima seorang budak cantik dari Ratu Bone sebagai hadiah. Budak tersebut kemudian dibaptis dengan nama Helena Pieters dan tinggal di rumah bersama sebagai teman hidup. Dari hubungan ini, mereka dikaruniai beberapa anak.

Van Imhoff yang tercatat punya istri pernah menerima budak cantik dari Ratu Bone sebagai hadiah.

Contoh lainnya adalah Gubernur Jenderal VOC Reinier de Klerk yang memimpin pada periode 1777-1780. Ketika tiba di Jawa, de Klerk hidup bersama seorang budak perempuan. Hubungan mereka menghasilkan banyak anak yang kemudian dikirim ke Belanda untuk pendidikan.

Praktik serupa juga dilakukan oleh kalangan elit lainnya. Herman Warner Muntinghe, anggota Dewan Hindia, dan Thomas Stamford Raffles yang menjadi penasihat Gubernur Jenderal (1811-1816) tercatat tinggal bersama tiga budak perempuan meskipun keduanya sudah memiliki istri berdarah Indo-Belanda.

Raffles dikenal tidak terlalu mempermasalahkan hubungan tak sah yang dilakukan bawahannya dengan para budak. Karena sikap longgar ini, praktik kumpul kebo menjadi sangat lazim pada masa kekuasaannya. Alexander Hare, teman Raffles, memiliki pasangan hidup dari berbagai wilayah. Tim Hannigan mencatat dalam bukunya Raffles and the British Invasion of Java (2012) bahwa Hare memanfaatkan posisi dan kekuasaannya untuk mengeksploitasi perempuan lokal sebagai teman hidup.

Kumpul Gerbouw: Sindiran untuk Mereka yang Berbagi Atap

Sebenarnya, tindakan para elit hanyalah puncak gunung es. Di tingkat bawah, para pegawai, prajurit, hingga pedagang Eropa juga sering menjalani kehidupan serupa. Mereka tinggal bersama perempuan lokal tanpa ikatan nikah. Masyarakat menyebut praktik ini sebagai kumpul Gerbouw.

Dalam bahasa Belanda, kata Gerbouw berarti bangunan atau rumah. Sebutan ini dimaksudkan sebagai sindiran halus bagi mereka yang hidup berbagi atap tanpa pernikahan resmi.

MORE FROM THIS CATEGORY