Heboh Tambang Tembaga China Dikepung, 13 Orang Tewas

1 week ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
78f019e7-9027-4cca-8215-b9dfd02507b2-0

13 Tewas dalam Serangan Militer di Sekitar Tambang Tembaga China di Pakistan

Dailynesia.com – Ketegangan di wilayah Balochistan, Pakistan, semakin memanas setelah serangkaian serangan bersenjata mengancam operasional tambang tembaga Saindak yang dikelola oleh perusahaan asal Tiongkok. Insiden ini memicu kekhawatiran global mengenai keamanan investasi asing di kawasan tersebut. Heboh Tambang Tembaga China Dikepung 13 Orang – hingga kini, sedikitnya 13 nyawa melayang akibat aksi militan yang menyasar infrastruktur transportasi dan jalur logistik menuju lokasi pertambangan strategis ini.

Gangguan Logistik dan Kekhawatiran Pasokan

Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, tercatat tujuh serangan terjadi di provinsi barat daya Pakistan tersebut. Target serangan meliputi jalan raya, kendaraan pengangkut, konvoi mineral, serta area pertambangan itu sendiri. Dampaknya cukup signifikan, dengan puluhan unit kendaraan rusak atau terbakar, termasuk jalur utama N-40 Quetta-Taftan Highway yang sempat lumpuh total selama beberapa hari.

Kondisi ini berdampak langsung pada pasokan logistik ke tambang Saindak, satu-satunya fasilitas pertambangan tembaga milik China di Pakistan. Bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik di lokasi mulai menipis karena truk pengangkut kesulitan mencapai titik tujuan. Para pekerja tambang kini menghadapi tantangan tambahan dalam memastikan kelancaran operasional harian mereka.

Minyak bakar untuk menghasilkan listrik di proyek Saindak mulai menipis karena truk pengangkut tidak bisa mencapai lokasi akibat serangan militan, ujar seorang pejabat pemerintah Pakistan yang enggan disebutkan namanya.

Latar Belakang Investasi China di Saindak

Tambang Saindak terletak di Distrik Chagai, Provinsi Balochistan, yang berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan. Secara kepemilikan, fasilitas ini berada di bawah Saindak Metals Limited (SML), perusahaan negara Pakistan. Namun, sejak tahun 2002, operasionalnya telah diserahkan kepada MCC Resources Development (MRDL), anak usaha Metallurgical Corporation of China (MCC). Kontrak pengelolaan bahkan telah diperpanjang selama 15 tahun pada tahun 2022.

Seluruh produksi tembaga dari tambang tersebut diekspor ke Tiongkok. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tiongkok mengimpor tembaga senilai hampir US$1 miliar dari Pakistan pada tahun 2024, atau setara dengan sekitar Rp16,3 triliun. Angka tersebut mewakili sekitar 35% dari total impor Tiongkok dari Pakistan, termasuk sekitar 23.700 metrik ton tembaga yang diproduksi di Tambang Saindak. Heboh Tambang Tembaga China Dikepung 13 Orang menjadi perhatian serius bagi para investor internasional.

Strategi Blokade Ekonomi Separatis Baloch

Sean Hagarty, CEO Region Alert, perusahaan intelijen risiko pertambangan asal Amerika Serikat, menjelaskan bahwa kelompok separatis Baloch kini menerapkan strategi “blokade ekonomi” dengan menguasai jalur distribusi utama. Metode ini bertujuan untuk menekan ekonomi regional dan memaksa pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap tuntutan mereka.

Apa yang terjadi di Saindak merupakan bukti paling jelas bahwa blokade ekonomi tersebut mulai berdampak. Siapa pun yang mengangkut barang atau personel melalui jalur yang sama menghadapi risiko serupa, katanya.

Perusahaan juga mengakui dalam pernyataan terpisah pekan ini bahwa tingkat risiko keamanan di Chagai dan wilayah Balochistan tergolong tinggi. Serangan berulang di sepanjang Jalan Raya N-40 telah menghambat pergerakan truk logistik, konvoi keamanan, serta distribusi berbagai kebutuhan tambang. Heboh Tambang Tembaga China Dikepung 13 Orang menunjukkan bahwa ancaman ini bukan sekadar insiden tunggal.

Respons Pemerintah Pakistan

Meski demikian, Direktur Utama SML Raziq Sanjrani menegaskan bahwa operasional tambang masih berjalan normal. Proyek tersebut telah beroperasi selama 25 tahun dan belum ada rencana penghentian produksi. Para pekerja terus melakukan tugas mereka dengan protokol keamanan yang ditingkatkan.

Pemerintah Pakistan menyatakan telah meningkatkan pengamanan di sekitar proyek-proyek pertambangan. Menteri Negara Urusan Dalam Negeri Pakistan Talal Chaudhry mengatakan pemerintah juga telah menerima keluhan keamanan dari pengelola tambang Saindak dan mengerahkan tambahan personel untuk melindungi fasilitas, pekerja, serta pengiriman logistik. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan memastikan kelancaran produksi tembaga untuk pasar global.

MORE FROM THIS CATEGORY