Pimpinan MPR Sebut Ada Migrasi Pengguna Pertamax Cs, Ini Alasannya

1 week ago  ·  2 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
d8fa26b1-e8cb-4e1e-851f-60fcc2731257-0

Migrasi Konsumen ke Pertalite Dipicu Selisih Harga yang Luas

Dailynesia.com – Lonjakan harga minyak mentah dunia jenis Brent yang kini mencapai level US$ 96 per barel menjadi pendorong utama penyesuaian harga pada produk BBM non subsidi Pertamax series. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih belum stabil diperkirakan bakal terus mendorong harga minyak dunia hingga menembus angka triple digit. Kondisi ini membuat Pertamax terpaksa disesuaikan karena tekanan harga mentah yang semakin tinggi.

MPR RI Catat Pergeseran Pola Konsumsi BBM

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menyoroti fenomena migrasi konsumen bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite. Pergeseran konsumen tersebut dinilai akibat disparitas harga jual yang sangat tinggi. Mengingat, harga jual BBM non subsidi mengikuti harga pasar yang berlaku saat ini. Sedangkan untuk BBM subsidi masih dibantu oleh anggaran negara agar menjaga daya beli masyarakat.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno membeberkan bahwa pergeseran konsumsi tersebut mengakibatkan penyaluran di tingkat SPBU meningkat drastis. Ia melihat antrean kendaraan mulai muncul di berbagai wilayah sebagai dampak langsung dari lonjakan permintaan BBM subsidi tersebut.

“Hari ini kalau kita lihat terjadi migrasi besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite karena disparitas harga yang signifikan. Oleh karena itu Pak Taufiq (Direktur Utama Pertamina Patra Niaga) dan teman-teman agak pontang-panting kerjanya, kerjanya luar biasa sekarang. Dan terjadi antrian di beberapa SPBU yang kita bisa saksikan,” katanya dalam Coffee Morning CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2026).

Analisis Selisih Harga Subsidi vs Non Subsidi

Selisih harga antara BBM subsidi dan non subsidi saat ini dinilai sangat kontras, di mana Pertalite masih dipatok pemerintah sebesar Rp 10.000 per liter. Padahal, nilai keekonomian atau harga asli dari produk Pertalite tersebut sudah menyentuh angka Rp 16.100 per liter berdasarkan perhitungan pasar.

“Kita beli Pertalite Rp 10.000 di mana pun Rp 10.000. Berapa nilai keekonomiannya? Rp 16.100 (per liter). Jadi bisa dibayangkan,” tandasnya.

Perubahan pola konsumsi ini menunjukkan bagaimana mekanisme harga pasar dan kebijakan subsidi saling berinteraksi dalam menentukan preferensi konsumen terhadap jenis bahan bakar tertentu.

MORE FROM THIS CATEGORY