Mengenal Pickaxe Mountain, Gunung Nuklir Iran yang Bikin Trump Waswas

1 week ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
00c17396-1e1d-47b1-8975-f0706d4f3aed-0

Ketegangan AS-Iran: Mengenal Pickaxe Mountain Gunung Nuklir

Dailynesia.com – Mengenal Pickaxe Mountain Gunung Nuklir Iran menjadi sorotan dunia internasional setelah Presiden Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan serangan militer terhadap fasilitas strategis tersebut. Kompleks nuklir bawah tanah ini terletak di dekat pusat pengayaan uranium Natanz dan diyakini terkubur hampir seratus meter di dalam perut gunung. Meskipun keberadaan fasilitas ini telah lama diketahui oleh komunitas intelijen global, informasi rinci mengenai kapasitas dan fungsinya masih terbatas. Ketegangan antara Washington dan Teheran semakin memanas seiring dengan perkembangan terbaru dalam program nuklir Iran.

Lokasi Geografis dan Latar Belakang Pembangunan

Pickaxe Mountain, yang dalam bahasa Persia dikenal sebagai Kuh-e Kolang Gaz La, berlokasi sekitar dua ratus dua puluh kilometer di selatan ibu kota Teheran. Jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari fasilitas nuklir Natanz yang telah beroperasi selama bertahun-tahun. Pembangunan kompleks bawah tanah ini dimulai pada tahun 2020 menyusul insiden sabotase yang merusak fasilitas Natanz. Saat itu, mantan Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi, menjelaskan bahwa negaranya membangun fasilitas yang lebih modern, lebih besar, dan lebih komprehensif di jantung gunung dekat Natanz untuk memproduksi sentrifugal canggih.

Fasilitas ini dirancang untuk melindungi aktivitas nuklir penting dari serangan udara dan sabotase. Dengan kedalaman yang signifikan, Pickaxe Mountain menawarkan perlindungan alami terhadap berbagai jenis ancaman militer. Pembangunan yang intensif menunjukkan keseriusan Iran dalam mengamankan aset strategisnya di tengah meningkatnya tekanan internasional.

Respons Trump dan Penilaian Intelijen AS

Trump menegaskan komitmen pemerintahannya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia bahkan menyebut militer AS akan “memukul daerah itu dalam waktu dekat, dan sangat berat”. Namun, ia juga mengakui bahwa intelijen AS tidak menemukan aktivitas signifikan di lokasi tersebut. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah fasilitas benar-benar aktif atau masih dalam tahap pembangunan.

“Mereka tidak berkinerja baik dengan situasi nuklir mereka. Setiap kali kita mendengar tentang hal itu, kita meledakkannya. Kami mungkin akan memberi Pickaxe kesempatan dalam waktu yang relatif dekat,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (23/7/2026).

Verifikasi Internasional dan Penguatan Pertahanan

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengonfirmasi bahwa Iran telah menyampaikan rencana memindahkan sebagian aktivitas nuklirnya ke bawah tanah. Hal ini sejalan dengan strategi Iran untuk mendiversifikasi lokasi fasilitas nuklirnya agar lebih tahan terhadap serangan.

“Ini adalah bagian dari niat mereka yang cukup sistematis untuk menempatkan fasilitas paling sensitif mereka di bawah tanah,” kata Grossi.

Berdasarkan analisis citra satelit Institute for Science and International Security (ISIS), kompleks tersebut memiliki dua pasang pintu masuk terowongan dan baru saja dilengkapi tembok pengaman. Sejak serangan AS dan Israel meningkat, salah satu akses terowongan bahkan diperkuat dan sebagian ditutup untuk menghambat kendaraan darat masuk ke lokasi. Peneliti Foreign Policy Research Institute, Sam Lair, menilai penguatan pintu masuk terowongan akan membuat fasilitas itu lebih sulit dihancurkan menggunakan bom penghancur bunker.

Prospek Operasional dan Opsi Militer

Laporan ISIS juga menyebut fasilitas Pickaxe Mountain diperkirakan belum beroperasi penuh karena pembangunan masih berlangsung. Meski demikian, lembaga tersebut menilai Iran berpotensi memanfaatkan kompleks itu sebagai lokasi perakitan sentrifugal dalam skala lebih kecil yang dapat mendukung program nuklirnya apabila pembangunan selesai. Para ahli menilai fasilitas yang berada sangat dalam di bawah gunung itu sulit dihancurkan melalui serangan udara, bahkan menggunakan bom penghancur bunker paling canggih milik AS.

Karena itu, ISIS menilai operasi darat atau aksi sabotase kemungkinan lebih efektif, meski serangan udara dengan senjata penembus tanah tetap berpeluang mengeksploitasi titik-titik lemah tertentu. Hingga kini belum ada indikasi Trump akan mengerahkan pasukan darat ke Iran. Namun, ancaman terbaru terhadap Pickaxe Mountain menunjukkan fasilitas tersebut tetap menjadi salah satu target strategis dalam meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran.

MORE FROM THIS CATEGORY