Pemerintah Siapkan Standar Keselamatan Penggunaan CNG Pengganti LPG

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
pgn-gaslink-5_169

Pemerintah Siapkan Standar Keselamatan CNG untuk Pengganti LPG

Dailynesia.com – Program Terkini – Pemerintah tengah mengembangkan standar keselamatan dalam penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam rangka mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor. Dalam rangka memperkuat kebijakan energi nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama instansi terkait sedang memfinalisasi protokol teknis penggunaan CNG 3 kilogram. Koordinasi lintas sektor menjadi prioritas untuk memastikan standar yang dibuat tidak hanya kompeten, tetapi juga dapat diterapkan secara luas di sektor rumah tangga dan industri.

“Keselamatan menjadi elemen kunci dalam program terkini ini. Tidak hanya Kementerian ESDM yang terlibat, tetapi juga Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, serta Badan Standar Nasional (BSN) yang bertugas mengawasi proses penyusunan standar,” kata Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Penerapan CNG akan diawali melalui proyek percontohan tahun ini sebagai bagian dari program terkini yang diharapkan bisa menjadi fondasi untuk penerapan skala nasional. Laode menjelaskan bahwa CNG memiliki sifat tekanan berbeda dibandingkan LPG, sehingga memerlukan penyesuaian pada desain tabung serta penggunaan alat. “Kita sedang menyinkronkan semua aspek teknis untuk mengatasi tantangan ini secara terpadu,” tambahnya.

Strategi Transisi ke CNG

Program terkini ini juga dirancang sebagai bagian dari strategi transisi energi yang bertahap. Laode menegaskan bahwa perpindahan dari LPG ke CNG tidak terjadi secara instan, tetapi diatur melalui tahapan yang detail agar masyarakat dan industri bisa beradaptasi tanpa gangguan. “Kata ‘pengganti’ menunjukkan pergeseran besar-besaran, sedangkan ‘alternatif’ berarti ada ruang untuk pemanfaatan bersama hingga waktu yang tepat,” jelasnya.

Dalam proses implementasi, pemerintah memperhatikan kesiapan infrastruktur dan kesadaran masyarakat. Peralihan dari bahan bakar tradisional ke CNG juga melibatkan pendidikan kepada pengguna, baik dari segi teknis penggunaan tabung maupun manfaat lingkungan. “Kita perlu memastikan semua pihak memahami risiko dan manfaat dari program terkini ini,” imbuhnya.

Kebutuhan Energi dan Sumber Daya

Program terkini ini didukung oleh kepastian pasokan gas bumi dalam negeri yang mencukupi. Pemerintah menekankan bahwa cadangan gas bumi di Indonesia masih memadai untuk memenuhi kebutuhan CNG dalam jangka pendek hingga long-term. Penemuan lapangan gas baru, termasuk oleh perusahaan ENI, diharapkan memperkuat kapasitas pasokan selama peralihan. “Kita punya cadangan yang cukup besar, sehingga program terkini ini bisa berjalan lancar,” kata Laode.

Menurut rencana, pemanfaatan CNG akan berdampak signifikan pada pengurangan emisi karbon dibandingkan bahan bakar tradisional. Gas alam yang dimampatkan ini dianggap lebih ramah lingkungan karena mengandung sebagian besar metana, yang mempunyai dampak global warming lebih rendah dibandingkan propana atau butana yang terdapat dalam LPG. “Ini adalah langkah strategis dalam program terkini untuk mencapai keberlanjutan energi,” tuturnya.

Perbandingan CNG, LPG, dan LNG

CNG, LPG, dan LNG memiliki perbedaan mendasar dalam karakteristik penyimpanan dan penggunaan. CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi di tabung, sedangkan LPG berbentuk cair dan diperlukan tekanan serta suhu moderat untuk dipertahankan. LNG, di sisi lain, dibekukan hingga suhu sangat rendah (-162°C) untuk pengangkutan jarak jauh. Dalam konteks program terkini, CNG dipilih karena sifatnya yang lebih praktis untuk penggunaan di rumah tangga dan transportasi ringan.

Perbedaan ini menjadi pertimbangan utama dalam penerapan teknologi CNG. Dengan kepadatan energi yang lebih tinggi dan biaya operasional yang lebih rendah, CNG dianggap lebih efisien untuk daerah-daerah yang terpencil. Selain itu, proses pengisian dan penggunaan CNG lebih sederhana dibandingkan LPG, yang seringkali memerlukan alat tambahan. “Program terkini ini juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan jaringan distribusi CNG,” lanjut Laode.

Menyusul keberhasilan program terkini, pemerintah berharap masyarakat semakin mengenal manfaat CNG. Mereka juga terus melakukan evaluasi berkala untuk memastikan standar keselamatan tetap relevan dan bisa diperbaiki seiring perkembangan teknologi. “Kita harus selalu adaptif, karena program terkini ini adalah bagian dari transformasi energi yang berkelanjutan,” tutupnya.

MORE FROM THIS CATEGORY