Dolar AS Tembus Rp17.500, Gimana Nasib Harga BBM RI? Ini Kata ESDM

3 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
a028c595-07b8-4c35-9018-de84cf2dbe20-0

Meeting Results: Dolar AS Tembus Rp17.500, Bagaimana Nasib Harga BBM RI? Ini Penjelasan ESDM

Dailynesia.com – Dalam meeting results terbaru, nilai tukar rupiah terus melemah, dengan dolar AS mencapai level Rp17.500 per unit. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa pemerintah sedang memantau dampak pelemahan rupiah ini terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri. Dari data Refinitiv, rupiah mengalami koreksi 0,06% di awal perdagangan hari ini, mencapai Rp17.500/US$. Ini adalah penurunan terbesar sepanjang masa, setelah hari sebelumnya rupiah turun 0,49% ke Rp17.490/US$.

Kebijakan Harga BBM dan Hasil Meeting

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah sedang melakukan diskusi intensif mengenai kebijakan harga BBM. Menurutnya, meeting results menyebutkan bahwa pembicaraan melibatkan beberapa kementerian, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, untuk merumuskan strategi menghadapi perubahan nilai tukar. “Pak Menteri bersama jajaran kementerian sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk menstabilkan harga BBM di tengah tekanan dolar AS yang naik,” jelas Laode saat diwawancara di Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).

Laode menyatakan bahwa meeting results belum memberikan kepastian apakah pelemahan rupiah langsung akan memengaruhi kenaikan harga BBM. Ia menambahkan bahwa pemerintah masih menunggu dinamika pasar untuk menentukan keputusan yang tepat. “Kita perlu melihat perkembangan selanjutnya sebelum memutuskan apakah ada penyesuaian harga BBM,” tuturnya. Ia menekankan bahwa kebijakan harga BBM akan dihitung berdasarkan kondisi ekonomi secara keseluruhan, termasuk dinamika keuangan internasional.

Pemicu Pelemahan Rupiah

Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terutama dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah yang semakin memanas. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik di wilayah tersebut menaikkan harga minyak mentah, yang secara langsung memengaruhi pasar valuta asing. “Konflik di Middle East dengan intensitas tinggi mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry kepada media, Selasa (12/5/2026).

Destry juga menyebutkan bahwa permintaan dolar meningkat karena kebutuhan musiman, seperti pembayaran ULN, deviden, dan biaya ibadah haji. Menurutnya, aliran dana asing ke pasar modal dan pasar valuta asing (valas) masih berjalan stabil, meski ada tekanan dari perubahan dinamika global. “BI tetap mengawasi pasar dan siap melakukan intervensi cerdas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tambah Destry.

Dalam meeting results, Kementerian ESDM mengatakan bahwa mereka memperhatikan berbagai faktor, termasuk inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan moneter. Laode Sulaeman menekankan bahwa keputusan harga BBM akan diambil secara bijak, dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan ketersediaan dana subsidi. “Pemerintah tidak ingin mengganggu daya beli masyarakat, tetapi juga harus mengimbangi kebutuhan pemerintah untuk menstabilkan anggaran,” jelasnya.

Strategi Pemerintah untuk Stabilisasi Harga BBM

Menurut meeting results, Kementerian ESDM bersama kementerian lain sedang merancang skenario harga BBM yang lebih fleksibel. Laode Sulaeman menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk meminimalkan dampak pelemahan rupiah pada daya beli masyarakat. “Kita sedang mengevaluasi beberapa opsi, termasuk penyesuaian harga BBM dalam skala kecil,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa kementerian terkait akan berkoordinasi dengan lembaga keuangan dan perusahaan BBM untuk memastikan harga tetap terjangkau.

Salah satu langkah yang diperkirakan dalam meeting results adalah penggunaan cadangan devisa untuk menstabilkan harga minyak dalam negeri. Laode menambahkan bahwa ESDM juga akan berdiskusi dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk menentukan mekanisme transfer subsidi yang efisien. “Pemerintah ingin memastikan bahwa harga BBM tidak meningkat terlalu drastis, terutama dalam kondisi ekonomi yang sedang kritis,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, meeting results menyebutkan bahwa harga BBM akan tetap dijaga dalam batas yang wajar. Namun, jika rupiah terus melemah, pemerintah mungkin harus menyesuaikan kebijakan subsidi. “ESDM akan terus memantau kondisi pasar dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan rakyat,” pungkas Laode. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan harga BBM yang mungkin terjadi.

MORE FROM THIS CATEGORY