KKI Soroti Diskriminasi Galon Guna Ulang dan Risiko BPA
Dailynesia.com – Di tengah tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dalam memilih produk air minum, Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyoroti perbedaan standar keamanan kemasan pada dua jenis galon guna ulang yang diperkenalkan oleh merek asing. Menurut David Tobing, Ketua KKI, keberadaan dua galon dengan bahan polikarbonat dan Polyethylene Terephthalate (PET) yang ditawarkan dengan harga serupa menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi produk. “Facing Challenges ini menjadi isu utama, karena konsumen merasa tidak adil ketika galon dengan bahan berbeda dijual dengan tarif yang sama,” jelas David dalam wawancara dengan detik.com, Selasa (12/5/2026).
Perbedaan Bahan Kemasan dan Ketidaksesuaian Harga
Sejak 2019, galon guna ulang PET bebas BPA mulai diperkenalkan secara terbatas, sementara galon polikarbonat dengan kandungan BPA tetap beredar. Namun, kebijakan ini mengalami perubahan pada 2024 saat distribusi PET di Jawa semakin luas. Meski sama-sama dijual dengan harga identik, KKI menemukan bahwa standar keamanan material kedua galon ini jauh berbeda. Dalam laporan pengaduan yang dikumpulkan selama Maret hingga April 2026, sebanyak 62% konsumen menyadari perbedaan bahan, sehingga merasa dirugikan karena tidak ada penjelasan yang jelas.
Permasalahan Konsumen dan Risiko BPA
Menurut David Tobing, galon polikarbonat yang diberikan kepada konsumen seringkali memiliki usia yang lebih tua. Dari 250 laporan yang diterima, 92% konsumen mengaku mendapatkan galon yang sudah digunakan lebih dari satu tahun. Kondisi fisik galon yang usang seperti kusam, berlumut, dan retak menambah kekhawatiran masyarakat. “Facing Challenges ini mengarah pada keluhan bahwa kualitas produk tidak sesuai dengan harga yang dibayar,” tegas David, menyoroti risiko BPA yang bisa berdampak pada kesehatan, seperti obesitas, diabetes, dan gangguan reproduksi.
BPA, yang ditemukan dalam galon polikarbonat, memiliki risiko peluruhan yang meningkat ketika terpapar panas atau dicuci secara tidak teratur. Sebaliknya, galon PET dianggap lebih aman karena tidak mengandung bahan tersebut. Namun, konsumen mengeluhkan kurangnya informasi jelas tentang perbedaan jenis galon dan masa pakai. “Kita menghadapi tantangan transparansi, karena konsumen perlu tahu apa yang mereka beli,” ujar David, menggarisbawahi pentingnya kesetaraan nilai antara harga dan kualitas produk.
Desakan untuk Regulasi yang Lebih Tegas
KKI mendesak pemerintah menetapkan regulasi tegas untuk menutup celah perbedaan standar galon guna ulang. “Kekosongan regulasi masa pakai menjadi akar masalah, sehingga konsumen harus dilindungi dari risiko BPA yang tidak terduga,” lanjut David. Selain itu, ia menyarankan produsen menyertakan label informasi yang jelas, baik tentang bahan kemasan maupun durasi penggunaan. “Facing Challenges ini bisa diatasi dengan regulasi yang memperkuat transparansi dan perlindungan konsumen,” imbuh David, menyoroti pentingnya kebijakan yang menguntungkan masyarakat.
Keluhan konsumen terus berdatangan, terutama mengenai galon yang sudah usang. Sebanyak 30% laporan menyebut galon polikarbonat terlihat kusam, sementara 18% mengalami retak akibat penggunaan berulang. Masalah ini mengingatkan bahwa galon yang dipakai selama lebih dari satu tahun berpotensi mengeluarkan BPA dalam jumlah signifikan. Menurut pakar polimer Universitas Indonesia, galon polikarbonat sebaiknya digunakan maksimal 1 tahun atau 40 kali pengisian ulang untuk menghindari risiko kesehatan. “Kita berhadapan dengan tantangan besar, karena produk yang dijual sama, tetapi dampaknya berbeda,” jelas David, menegaskan bahwa kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.
KKI juga menyoroti bahwa praktik ini berpotensi mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap produk air minum dalam kemasan. “Masyarakat ingin memiliki informasi yang transparan dan bisa mengambil keputusan secara bijak,” kata David. Dengan menghadapi tantangan ini, KKI meminta produsen untuk memperjelas spesifikasi bahan dan masa pakai galon. “Jika konsumen membeli dengan harga sama, mereka berhak mendapatkan produk yang aman dan berkualitas,” pungkas David, yang menggarisbawahi pentingnya regulasi yang menyeluruh dalam mengatasi masalah BPA di galon guna ulang.
“Facing Challenges ini tidak hanya tentang harga, tetapi juga tentang kualitas dan keamanan yang kita terima. Regulasi harus mengikuti perkembangan teknologi dan pengetahuan konsumen,” ungkap David Tobing, meminta pemerintah segera bertindak untuk melindungi masyarakat dari risiko kesehatan yang mungkin timbul.

