Zulhas Mendadak Telepon Bos BGN saat Sidak di Pasar Palmerah, Ada Apa?

3 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com

Key Strategy: Zulhas Mendadak Telepon Bos BGN Saat Sidak di Pasar Palmerah untuk Stabilisasi Harga

Jakarta, 13 Mei 2026

Dailynesia.com – Menjadi strategi utama yang diambil oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) saat melakukan inspeksi mendadak di Pasar Palmerah, Jakarta. Tindakan mendadak menghubungi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana tersebut dilakukan setelah Zulhas menemukan harga telur ayam yang turun di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) dan menerima keluhan dari para peternak. Ini menunjukkan upaya pemerintah untuk mengatasi fluktuasi harga pangan dengan pendekatan yang cepat dan responsif.

Analisis Harga Telur yang Turun

Sidak yang dilakukan Zulhas menunjukkan bahwa harga telur saat ini berada di Rp27.000 per kilogram, lebih rendah dari HAP yang seharusnya antara Rp28.000 hingga Rp30.000 per kg. Kondisi ini menciptakan tekanan signifikan bagi peternak, karena harga jual di tingkat mereka juga mengalami penurunan, sementara biaya pakan meningkat. Dalam Key Strategy ini, Zulhas menekankan pentingnya keseimbangan antara permintaan dan penawaran untuk menjaga stabilitas pasar.

“Telur yang agak terlalu murah. Biasanya HAP-nya Rp28.000-Rp30.000. Ini tadi harganya Rp27.000 per kg,” kata Zulhas saat ditemui di Pasar Palmerah, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

Zulhas menambahkan bahwa harga telur yang diterima peternak dalam beberapa hari terakhir bahkan mencapai Rp20.000 per kg, turun dari biasanya Rp23.000 per kg. “Nah, kita harus jaga seimbang. Jangan sampai ada beberapa peternak yang mengeluh. Dia kena dua. Harganya di peternak itu biasanya Rp23.000 (per kg), sekarang terimanya ada yang Rp20.000 (per kg). Tetapi jagungnya naik, harga pakannya naik,” ujarnya dalam Key Strategy yang dijalankan untuk menstabilkan harga.

Strategi Penyerapan Pasokan Telur

Setelah menjelaskan situasi tersebut, Zulhas langsung mengambil ponsel dan menghubungi Dadan Hindayana. Ia meminta peningkatan penggunaan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama beberapa hari ke depan, agar pasokan berlebih dapat diserap. “Kemudian harganya ini agar bisa sesuai HAP, kita minta BGN… Ini lagi saya mau telepon Kepala BGN. Karena kalau BGN dua hari saja pakai telur, itu berarti kan 48 juta telur, satu kali belanja itu. Jadi kalau dalam seminggu dua kali, itu bisa kembali kepada harga HAP,” ujarnya sebelum menelpon.

“Assalamualaikum, Pak Dadan. Ini yang berkuasa ini,” kata Zulhas membuka percakapan. “Ini harga telur di bawah HAP. Ada permohonan dari para peternak petelur. BGN beberapa hari ini pakai telur dulu Pak (untuk menu MBG), agar bisa sesuai HAP,” sambungnya.

“Iya, didorong,” jawab Dadan. Zulhas lalu kembali meminta dukungan agar peternak tetap bisa bertahan. “Didorong, tolong bantu ya Pak. Agar peternak petelurnya bisa tetap senyum,” ucap Zulhas. “Iya, siap,” jawab Dadan. “Baik. Terima kasih Pak Dadan,” tutup Zulhas.

Peran BGN dalam Stabilisasi Harga

Zulhas menjelaskan bahwa program MBG memiliki peran penting dalam menstabilkan harga telur di pasar, karena skalanya besar dan dampaknya langsung terasa. Dalam Key Strategy ini, ia menekankan bahwa perubahan menu MBG, seperti peningkatan penggunaan telur, dapat menjadi kunci untuk menyerap pasokan dan menjaga harga di tingkat produsen. “Ini soalnya kalau harga pengaruh banget ya. BGN ini bisa naik bisa turun. Karena demandnya besar sekali,” ujarnya.

Strategi tersebut juga mempertimbangkan faktor eksternal, seperti kenaikan harga bahan baku pakan. Zulhas menyebutkan bahwa ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual menjadi tantangan utama bagi peternak. Dengan mengintegrasikan Key Strategy ke dalam pengelolaan program MBG, pemerintah berharap bisa mengurangi tekanan harga secara bertahap.

Persiapan untuk Penerapan Key Strategy

Dalam Key Strategy yang diusulkan, pemerintah akan meningkatkan frekuensi penggunaan telur dalam MBG menjadi dua kali dalam seminggu. Tindakan ini diharapkan dapat memberikan stimulus permintaan sehingga harga telur bisa kembali stabil. “Tapi kalau ada darurat begini. Bukan darurat ya, tapi untuk stabilisasi gini, kita usul seminggu ini dua kali (menggunakan menu telur). Kalau seminggu ini dua kali, minggu depan sudah,” pungkas Zulhas.

Dengan adopsi Key Strategy ini, Zulhas memprediksi bahwa pasar akan lebih seimbang dalam jangka pendek. Namun, ia juga menyadari bahwa strategi tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah lainnya. “Key Strategy ini adalah langkah responsif, tapi harus dipertahankan secara konsisten untuk mencapai hasil optimal,” jelasnya.

Perubahan menu MBG menjadi lebih dominan telur dalam Key Strategy ini akan diuji coba terlebih dahulu di beberapa titik distribusi. Pemerintah berharap hasilnya bisa menjadi dasar untuk kebijakan jangka panjang. “Ini adalah bagian dari perencanaan yang lebih matang, agar harga pangan tidak fluktuatif terlalu parah,” tambah Zulhas.

MORE FROM THIS CATEGORY