Dolar Tembus Rp17.500, Pengusaha Ungkap Hal Tak Terduga

3 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
e6ca86a7-bfb5-4802-b2fd-f894e7a3bd9b-0

Dolar Melonjak ke Rp17.500, Pengusaha Sebut Kebijakan Ekonomi Menjadi Faktor Pendorong

Dailynesia.com – Nilai tukar dolar AS yang kembali melonjak hingga mencapai Rp17.500 telah menarik perhatian sejumlah pengusaha di Indonesia. Dalam sebuah wawancara terkini, Cecep M. Wahyudi, Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan Kadin Indonesia, menyebutkan bahwa peningkatan nilai dolar ini menjadi bukti keberhasilan new policy yang diterapkan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. “Kebijakan ekonomi baru ini membantu menjaga stabilitas pasar meski terjadi pelemahan rupiah,” ujarnya saat diwawancarai di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Pengaruh New Policy terhadap Stabilitas Ekonomi

Kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, diklaim Cecep sebagai faktor utama yang menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Meski rupiah mengalami pelemahan signifikan, tingkat aktivitas ekonomi di tingkat dasar tetap terjaga. “Justru dengan adanya new policy, masyarakat ekonomi menengah bawah mampu bertahan meski harga kebutuhan pokok meningkat,” tambahnya.

“Selama ini, rupiah selalu dikenal sebagai mata uang yang rentan terhadap tekanan eksternal, tapi new policy berhasil mengurangi risiko tersebut,” ujarnya. “Program-program seperti MBG dan pengaturan harga bahan pokok menjadi bagian dari strategi ini. Ini bukan sekadar kebijakan moneter, tapi juga kebijakan sosial yang menjangkau kehidupan sehari-hari masyarakat.”

Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat

Dalam situasi dolar yang menguat, Cecep mengatakan bahwa indikator pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil menunjukkan keberhasilan new policy dalam menjaga daya beli masyarakat. Data terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% pada kuartal pertama tahun ini, yang dianggap sebagai bukti bahwa kebijakan tersebut memperkuat koordinasi antar-sektor, termasuk investasi dan konsumsi primer serta sekunder.

“Meski rupiah terus melemah, kebijakan new policy mampu mengimbangi efek negatifnya dengan mendorong pembangunan infrastruktur dan program subsidi,” jelasnya. “Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada kebijakan moneter, tapi juga memperhatikan kebutuhan dasar warga,” lanjut Cecep.

Secara terpisah, Refinitiv mencatatkan bahwa rupiah terus melemah, bahkan pada perdagangan hari ini, mata uang Garuda mengalami pelemahan sepanjang sejarah. Pada pukul 09.15 WIB, rupiah turun 0,43% ke level Rp17.480 per dolar AS. Sementara itu, DXY, indeks dolar AS terhadap mata uang utama lainnya, naik 0,21% menjadi 98,115. Pelemahan ini dipicu oleh kebijakan new policy yang berdampak pada aliran modal dan permintaan pasar.

Respons dari Sektor Ekonomi Menengah Bawah

Salah satu aspek yang menarik dari new policy adalah kemampuannya menjaga daya beli masyarakat ekonomi menengah bawah. Menurut Cecep, kelompok ini justru tidak terlalu terganggu oleh pelemahan rupiah, sebaliknya mereka terbantu oleh kebijakan yang memberikan pengamanan terhadap kebutuhan pokok. “Kebijakan new policy membuat rakyat kecil tetap bisa berbelanja, sementara kelompok atas lebih rentan karena inflasi yang terus merangkak,” tambahnya.

Dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan bagian dari new policy, pemerintah memastikan akses makanan sehat bagi masyarakat miskin dan kelompok menengah bawah. “Ini adalah kebijakan yang jauh lebih luas dari sekadar pengendalian nilai tukar. MBG membantu menstabilkan konsumsi masyarakat yang sebelumnya terganggu oleh kenaikan harga bahan pokok,” ujarnya. “Jika new policy ini diteruskan, ekonomi kerakyatan bisa terus berkembang.”

Analisis Ekonomi dan Proyeksi Masa Depan

Para ekonom juga menilai bahwa new policy menjadi faktor penting dalam mencegah resesi di tengah pelemahan rupiah. Meski dolar AS menguat, kebijakan tersebut memastikan ekosistem perekonomian tetap seimbang. “Peningkatan nilai dolar seharusnya mengurangi daya beli, tapi new policy berhasil menutupi efek tersebut melalui berbagai stimulus ekonomi,” kata seorang ekonom dari lembaga penelitian independen.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa new policy juga memberikan dampak positif pada sektor pertanian. Dengan program subsidi pupuk dan pengembangan sumber daya manusia, produksi pertanian tidak terganggu meski harga kebutuhan pokok meningkat. “Ini adalah bukti bahwa kebijakan new policy tidak hanya fokus pada kenaikan harga, tapi juga menjaga ketahanan pangan,” tambahnya.

Dengan pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS, new policy terus menjadi topik yang dibahas secara intensif oleh kalangan pengusaha dan akademisi. Mereka berharap kebijakan tersebut bisa terus dijalankan secara konsisten untuk menjamin stabilitas ekonomi jangka panjang. “Kalau new policy ini terus diterapkan, Indonesia bisa menjadi contoh negara yang mampu menghadapi tekanan eksternal sambil mempertahankan pertumbuhan,” tutup Cecep.

MORE FROM THIS CATEGORY