Menakutkan! Sekutu Amerika Mulai Jor-Joran Beli Senjata
Dailynesia.com – Pasca konflik yang terjadi di Ukraina, negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) kini memperlihatkan peningkatan signifikan dalam pengeluaran militer mereka. Anggaran pertahanan mereka semakin meningkat, terutama di Eropa dan kawasan Indo-Pasifik, menurut laporan tahunan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Data ini menunjukkan bahwa negara-negara sekutu AS memperkuat kemampuan militer mereka, sebagian besar sebagai respons terhadap tekanan politik dan militer dari pemerintahan Trump, serta untuk menghadapi risiko ketidakstabilan global yang meningkat.
Kenaikan Anggaran Militer Dunia Capai US$2,9 Triliun
Menurut laporan SIPRI, total belanja militer dunia mencapai US$2,9 triliun pada tahun 2025, dengan kenaikan sebesar 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya setelah dikoreksi inflasi. Ini merupakan tren kenaikan ke-11 secara beruntun, menunjukkan bahwa pengeluaran pertahanan global terus meningkat selama lebih dari satu dekade. Di antara negara-negara sekutu Amerika, anggaran militer mereka mengalami lonjakan yang mencolok, dengan beberapa negara seperti Jerman dan Prancis meningkatkan dana pertahanan lebih dari 10%. Momen ini dianggap sangat menakutkan karena menunjukkan pergeseran kekuatan global yang semakin cepat.
Kenaikan belanja militer di Eropa, khususnya di luar Rusia dan Ukraina, tercatat mencapai 14,1%, sehingga total anggaran kawasan tersebut mencapai US$864 miliar. Meski anggaran AS sendiri mengalami penurunan sebesar 7,5% menjadi US$954 miliar pada 2025, negara-negara sekutu tetap memperlihatkan kemampuan belanja militer yang jauh lebih besar ketika diukur berdasarkan daya beli PPP. Hal ini membuat kekhawatiran bahwa anggaran pertahanan sekutu Amerika kini menjadi lebih dominan daripada AS sendiri, menciptakan ketidakseimbangan dalam aliansi tersebut.
Indo-Pasifik: Kawasan dengan Pertumbuhan Anggaran Militer Tercepat
Di kawasan Indo-Pasifik, negara-negara sekutu AS seperti Jepang dan Korea Selatan terus meningkatkan dana militer mereka. Jepang, misalnya, mencatat kenaikan anggaran pertahanan sebesar 9,7% menjadi US$62 miliar pada 2025, dengan proporsi mencapai 1,4% dari PDB—angka tertinggi sejak tahun 1958. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh keberlanjutan konflik regional, seperti ketegangan di Semenanjung Korea dan Laut Cina Selatan. Di sisi lain, sekutu AS di kawasan ini juga memperkuat peran mereka dalam menghadapi ancaman dari Tiongkok, yang menjadi penantang utama di sektor pertahanan.
Menakutkan Sekutu Amerika Mulai Jor Joran juga terlihat dalam upaya memperbesar anggaran militer untuk keperluan pengembangan senjata canggih. Beberapa negara, seperti Inggris dan Kanada, berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka dengan pembelian senjata-senjata modern, termasuk rudal, pesawat tempur, dan sistem pertahanan udara. Selain itu, kenaikan dana militer juga menjadi alat untuk memperkuat hubungan diplomatik dan militer dengan AS, yang dianggap sebagai pengamanan kekuatan utama dalam aliansi tersebut.
AS Masih Dominan, Namun Kebiasaan Sekutu Mulai Berubah
Secara absolut, AS tetap menjadi negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, sekitar US$954 miliar pada 2025. Namun, ketika diukur berdasarkan daya beli PPP, anggaran pertahanan negara-negara sekutu AS kini mendekati tingkat AS. Dengan jumlah total anggaran yang mencapai 111% dari anggaran AS, pergeseran ini menunjukkan bahwa kekuatan militer sekutu mulai menjadi sumber perhatian besar. Jerman dan Prancis, sebagai negara-negara utama di Eropa, menjadi contoh nyata dari tren ini, di mana mereka terus memperluas kemampuan pertahanan untuk menghadapi ancaman di kawasan dan luar negeri.
Menakutkan Sekutu Amerika Mulai Jor Joran juga menjadi indikasi bahwa ancaman global yang dihadapi AS semakin beragam. Dari ancaman Tiongkok di Indo-Pasifik hingga risiko konflik regional di Eropa, negara-negara sekutu AS mulai membangun kekuatan militer yang lebih independen. Meski demikian, anggaran militer AS tetap menjadi fondasi utama untuk stabilitas internasional, dengan konsistensi dalam pengeluaran dana pertahanan. Tiongkok, sebagai negara kedua terbesar dalam belanja militer, menempati posisi 12,7% dari total global, yang menunjukkan kompetisi kekuatan internasional yang semakin ketat.
Dengan meningkatnya anggaran militer negara-negara sekutu AS, peran AS dalam mengendalikan kebijakan pertahanan global mulai mengalami pergeseran. Meski AS tetap menjadi pemimpin, kebijakan mereka kini harus diakui bahwa negara-negara sekutu telah menjadi kekuatan belanja pertahanan yang mengkhawatirkan. Ini menciptakan dinamika baru dalam aliansi, di mana peran AS menjadi lebih seperti penyokong dibandingkan pemimpin. Tren ini diprediksi akan berlanjut, terutama dalam menghadapi ketegangan geopolitik yang terus meningkat.

