Pertagas Target Pipa BBM 96 Km Cikampek-Plumpang Tuntas di 2027

3 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
ketahanan-energi-pertagas-perkuat-transportasi-bbm-rambah-bisnis-biometan-hidrogen-1777523170973_169

Pertagas Target Pipa BBM 96 Km Cikampek-Plumpang Tuntas di 2027

Dailynesia.com – Dalam upaya mewujudkan New Policy terkini, PT Pertamina Gas (Pertagas) telah menetapkan target penyelesaian pembangunan proyek pipa bahan bakar minyak (BBM) sepanjang 96 kilometer yang menghubungkan Cikampek dan Plumpang pada awal tahun 2027. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan sistem distribusi energi nasional. Direktur Utama Pertagas, Indra Pehulisa Sembiring, mengungkapkan bahwa proyek ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada metode transportasi konvensional, sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah tantangan global dan domestik.

Proyek sebagai Pilar Baru Distribusi Energi

Proyek pipa BBM 96 km ini dianggap sebagai salah satu pilar utama dalam New Policy yang menekankan keberlanjutan dan efisiensi. Proyek ini akan mempercepat distribusi BBM ke daerah-daerah strategis, terutama Jakarta, yang menjadi pusat distribusi energi kritis. Dengan jarak 96 km, jalur pipa ini dirancang untuk meminimalkan waktu dan biaya pengiriman, serta meningkatkan kapasitas pasokan bahan bakar minyak.

Dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Indra menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari New Policy yang ingin menyeimbangkan antara kebutuhan energi yang meningkat dan upaya pengurangan emisi karbon. “Kita sedang membangun dari terminal BBM Cikampek ke terminal BBM Plumpang. Target kami adalah menyelesaikannya di awal 2027. Semoga bisa tuntas tepat waktu,” ujarnya. Penyelesaian proyek ini diperkirakan akan membantu mengatasi keterbatasan kapasitas distribusi yang saat ini menghambat kebutuhan pasar.

Kehadiran jalur pipa ini juga berdampak signifikan pada kestabilan pasokan energi. Dengan membangun infrastruktur yang lebih modern, Pertagas mengharapkan proyek ini mampu meningkatkan keandalan distribusi BBM, terutama di wilayah yang rentan terhadap gangguan logistik. Proyek ini sekaligus menjadi contoh nyata implementasi New Policy dalam memperkuat keberlanjutan industri energi nasional.

Fokus pada Bisnis Inti

Pertagas tetap menekankan prioritas pada bisnis intinya, yaitu pengangkutan minyak dan gas bumi, sebagai bagian dari New Policy yang mengarahkan perusahaan untuk fokus pada sektor energi yang menjadi fondasi ekonomi Indonesia. Saat ini, sekitar 78% dari volume transportasi gas nasional dioperasikan oleh Pertagas, yang menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan.

Dalam wawancara serupa, Indra menambahkan bahwa bisnis inti Pertagas tetap menjadi pilar utama dalam New Policy. “Volume transportasi gas Pertagas hampir 78% dari total penyaluran gas di Indonesia. Kebanyakan digunakan untuk kebutuhan pembangkit listrik, pupuk, serta industri dan komersial lainnya,” jelasnya. Proyek pipa BBM juga diharapkan mendukung pengembangan bisnis inti ini dengan memastikan pasokan yang stabil dan efisien.

Dalam New Policy, Pertagas juga berupaya memperluas jangkauan layanan energi ke daerah-daerah yang belum terakses sepenuhnya. Ini termasuk pengembangan jaringan distribusi yang lebih luas, terutama di kawasan pesisir dan daerah terpencil. Dengan memperkuat jaringan pipa, perusahaan berharap mampu meningkatkan aksesibilitas energi untuk masyarakat dan industri secara bersamaan.

Perusahaan juga memperhatikan dampak lingkungan dalam New Policy ini. Proyek pipa BBM diharapkan mengurangi emisi karbon dari transportasi darat yang seringkali menjadi penyumbang utama polusi. Dengan menggunakan jalur pipa, Pertagas berkomitmen untuk menurunkan jejak karbon seiring dengan peningkatan permintaan energi di masa depan.

Kesiapan Pertagas dalam menghadapi perubahan energi semakin terlihat melalui New Policy yang menekankan adaptasi terhadap tren global. Perusahaan tidak hanya fokus pada penyediaan energi tradisional, tetapi juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk mengintegrasikan energi baru terbarukan (EBT) ke dalam sistem distribusi. Langkah ini dilakukan agar keberlanjutan energi bisa tercapai tanpa mengorbankan keandalan pasokan.

MORE FROM THIS CATEGORY