Permintaan Pasar Minyak Menguat, Harga Tembus US$105
Jakarta, 12 Mei 2026
Dailynesia.com – Pasar energi kembali mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa pagi, dengan harga minyak global mencapai level yang lebih tinggi. Lonjakan harga ini memperpanjang tren penguatan yang terjadi sejak akhir pekan lalu, ketika para pelaku pasar mulai memperhatikan risiko gangguan pasokan akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz juga memengaruhi dinamika permintaan dan penawaran minyak, mengantarkan harga ke level baru dalam beberapa hari terakhir.
Dalam perdagangan pada pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) mencapai US$105,3 per barel, naik 1,05% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$104,21 per barel. Sementara harga West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$99,24 per barel, dengan kenaikan dari US$98,07 per barel. Kenaikan ini menggambarkan kecemasan pasar terhadap potensi pengurangan pasokan minyak dari Iran, yang terancam oleh perang dagang dan sanksi internasional.
“Ketidakstabilan di Selat Hormuz serta kegagalan negosiasi antara AS dan Iran masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga minyak global. Sampai saat ini, harga bisa tetap bertahan di atas US$100 per barel selama risiko pasokan tidak berkurang,” ungkap Tim Waterer dari KCM Trade, menjelaskan dampak dari dinamika politik terhadap pasar energi.
Pengaruh Tensi Geopolitik pada Pasar Energi
Menurut data dari Refinitiv, dalam delapan hari perdagangan terakhir, harga minyak Brent telah naik hampir 19% dari posisi US$88-an di awal April. Lonjakan harga ini terjadi setelah krisis Timur Tengah mencapai puncaknya, yang memicu kekhawatiran tentang keamanan pasokan. WTI juga mencatat kenaikan signifikan, dengan harga menyentuh level psikologis US$100 per barel. Tingkat ini menunjukkan kecemasan pasar terhadap fluktuasi geopolitik yang berdampak langsung pada stabilitas energi global.
Perusahaan pengumpul data pelacakan kapal menunjukkan adanya penurunan produksi minyak OPEC pada April, mencapai titik terendah dalam lebih dari dua dekade. Beberapa negara produsen mengurangi ekspor karena hambatan dalam distribusi, yang terutama terjadi di wilayah strategis seperti Selat Hormuz. Amin Nasser, CEO Saudi Aramco, memperingatkan bahwa stabilitas pasar minyak bisa tertunda hingga 2027 jika konflik antara AS dan Iran terus berlanjut, dengan proyeksi hilangnya pasokan mencapai 100 juta barel per minggu.
Di tengah kenaikan harga, pemerintah AS mencoba mengendalikan fluktuasi pasar dengan mengumumkan pengiriman 53,3 juta barel minyak dari cadangan strategis (SPR). Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menenangkan pasar sekaligus memastikan pasokan jangka pendek. Data menunjukkan bahwa sebagian dari minyak SPR sudah dikirim ke Turki, memberikan dorongan permintaan di pasar internasional.
Topics Covered – Sanksi yang diberikan AS kembali memicu perhatian global, dengan tiga individu dan sembilan perusahaan diduga terlibat dalam pengiriman minyak Iran ke China. Perusahaan yang terkena sanksi berasal dari Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman. Pemerintah AS menyebut jaringan ini membantu Garda Revolusi Iran menjual minyak melalui perusahaan cangkang dan armada tanker bayangan, menegaskan kebijakan sanksi sebagai alat tekanan ekonomi.
Dalam konteks ini, negosiasi antara AS dan Iran terancam gagal, menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan. Kebijakan sanksi yang diterapkan AS, termasuk pembatasan ekspor minyak Iran, terus memperkuat tekanan pada produksi negara tersebut. Hal ini memicu meningkatnya permintaan pasar untuk menjaga keseimbangan pasokan, terutama di tengah ekspor yang mengalami gangguan akibat perang dagang dan krisis geopolitik.
Pasaran kini menunggu hasil pertemuan diplomatik antara Washington, Beijing, dan Tehran dalam beberapa hari mendatang. Pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping dianggap menjadi salah satu faktor penentu arah pasar energi global. China tetap menjadi pembeli utama minyak Iran, sehingga perubahan sikap Beijing langsung memengaruhi keseimbangan pasokan dunia. Keputusan Beijing untuk memperkuat atau mengurangi pembelian minyak Iran akan menjadi indikator utama bagi pasar dalam menilai dampak jangka panjang dari krisis ini.

