Harga Tembaga Dekati Rekor, Perang Mengubah Segalanya!

3 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
faeebcbb-18d3-4d04-adfc-c5da7c51dac1-0

Harga Tembaga Dekati Rekor, Perang Mengubah Segalanya!

Dailynesia.com – Seiring berlakunya new policy terbaru, harga tembaga global kembali menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Menurut data dari Trading Economics, harga logam tembaga mencapai US$6,27 per pound pada Senin (11/5/2026), naik 0,35% dari hari sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, kenaikan hingga 4,94% telah tercatat, sementara pertumbuhan tahunan mencapai 36,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Level harga ini semakin mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, yaitu US$6,58 per pound, yang pernah dicatat di Januari 2026.

Kenaikan harga tembaga tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar, tetapi juga oleh faktor geopolitik yang semakin intens. New policy dalam konteks ini mencakup perubahan strategi pemerintah dalam mengatur pasokan dan kebijakan ekspor. Pergeseran kebutuhan industri terhadap tembaga, terutama untuk proyek jaringan listrik, kendaraan listrik, dan pembangunan energi bersih, memperkuat posisi logam ini sebagai komoditas kritis di era transisi ekonomi. Proyeksi S&P Global pada Januari 2026 menyebutkan kebutuhan global akan mencapai 42 juta metrik ton pada 2040, hampir 50% lebih tinggi dibandingkan saat ini.

Pasokan Tembaga Terancam oleh New Policy dan Ketidakstabilan Global

Perkembangan harga tembaga yang melonjak juga dipengaruhi oleh tekanan pasokan yang semakin mengguncang. Pemerintah China, sebagai produsen dan eksportir utama asam sulfat, mengambil kebijakan baru yang menghentikan ekspor bahan tersebut dari Mei hingga Desember 2026. New policy ini diperkirakan mengurangi pasokan laut global sebesar 3 juta ton, berdampak langsung pada proses pemurnian tembaga di negara-negara seperti Chile, Indonesia, dan India.

Kenaikan harga tembaga selama beberapa bulan terakhir juga terkait dengan kebijakan pemerintah AS yang menganggap tembaga sebagai bahan kritis untuk keamanan nasional. Sejak Februari 2025, new policy AS menekankan keandalan pasokan daripada biaya terendah, memicu perubahan strategi perdagangan internasional. Pemerintah menilai ketergantungan pada pasokan luar negeri berisiko memperparah ketidakstabilan geopolitik, terutama dalam situasi perang yang memengaruhi rantai pasok global.

Kebijakan New Policy dan Dampaknya pada Pasar Tembaga

Penghentian ekspor asam sulfat oleh China bukan hanya satu new policy, tetapi bagian dari rencana jangka panjang untuk mengontrol pasar logam. Kebijakan ini memperkuat posisi dominasi negara-negara seperti Peru dan Kolombia dalam perebutan pasar smelter global. Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz dan kenaikan harga diesel juga memengaruhi biaya produksi dan logistik tambang, memperparah tekanan pada harga.

New policy yang berlaku di berbagai negara memaksa industri logam untuk mengubah cara kerja mereka. Dalam hal tembaga, perusahaan-perusahaan mulai mengalihkan fokus dari harga rendah menjadi keandalan pasokan. Armada alat berat, transportasi bijih, dan proses pengolahan semakin bergantung pada bahan bakar yang harganya meningkat drastis. Ini menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan yang tinggi dan pasokan yang terbatas, sehingga new policy menjadi faktor utama dalam mengubah dinamika pasar.

“Dengan new policy yang berlaku, kita melihat pergeseran prioritas industri dari efisiensi biaya ke kepastian pasokan,” jelas Dr. Maya Wijaya, ekonom dari Institut Ekonomi Dunia. “Tembaga bukan hanya bahan bakar ekonomi, tetapi juga penyangga keamanan nasional dalam kondisi geopoltik yang tidak menentu.”

Kenaikan harga tembaga yang terus berlanjut memicu perdebatan tentang kebijakan new policy yang diambil oleh negara-negara produsen. Beberapa pihak menilai bahwa kebijakan ini diperlukan untuk menjaga stabilitas harga, sementara yang lain khawatir akan mengurangi akses pasar. Meski demikian, tingkat harga yang tinggi berpotensi mempercepat transisi ke energi bersih, karena tembaga tetap menjadi bahan utama untuk kabel listrik dan baterai.

Situasi pasar tembaga kini menjadi cerminan dari perubahan global yang berlangsung. New policy dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun industri, menciptakan lingkungan yang lebih dinamis dan kompetitif. Namun, dengan menghadapi tantangan seperti krisis energi, perang dagang, dan ketidakstabilan geopolitik, new policy ini harus bisa menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan risiko ketergantungan pada sumber daya global.

MORE FROM THIS CATEGORY