Hakim Tiba-Tiba Mau Dibunuh Gara-Gara Vonis ‘Geng Sapi’

3 weeks ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
bendera-india-dok-pixabay-1778482382486_169

Hakim Tiba Tiba Mau Dibunuh Setelah Vonis ‘Geng Sapi’

Dailynesia.com – Dalam kasus yang memicu kehebohan di jagat digital, Hakim Tiba Tiba Mau Dibunuh terjadi setelah seorang hakim Muslim, Tabassum Khan, memberikan vonis hukuman seumur hidup kepada 14 pelaku pengeroyokan brutal. Tindakan ini menjadi sasaran serangan dari kelompok sayap kanan Hindu, yang menilai vonis tersebut tidak adil dan memicu kebencian terhadap komunitas Muslim. Ancaman pembunuhan dan pemerkosaan terus mengalir di media sosial, memperlihatkan bagaimana keputusan hukum bisa menjadi alasan untuk menargetkan individu secara fisik.

“Putusan hakim berdasarkan identitas agama korban adalah bentuk diskriminasi yang memicu perang saudara,”

kata seorang aktivis sayap kanan, menambahkan bahwa serangan ini bisa terjadi kapan saja jika sistem hukum tidak cepat bertindak.

Tindakan Provokatif dan Anarki

Kasus pengeroyokan pada tahun 2022, di mana Nazir Ahmad (50 tahun) dianiaya oleh “Gau Rakshaks” atau kelompok sayap kanan Hindu, menjadi dasar bagi vonis hukuman seumur hidup terhadap 14 pelaku. Pelecehan terhadap Ahmad terjadi saat ia dicegat saat mengangkut ternak, kemudian dianiaya hingga tewas dengan tongkat dan besi. Dua rekannya yang selamat menjadi saksi penting dalam persidangan, yang berlangsung di pengadilan tambahan distrik Madhya Pradesh.

“Vonis ini menunjukkan bagaimana keputusan hukum bisa dipengaruhi oleh prasangka agama, bukan fakta-fakta yang terbuka untuk pembuktian,”

tulis seorang pengamat hukum, menyoroti ketidakseimbangan dalam sistem peradilan.

Sejak vonis diumumkan, kelompok sayap kanan terus memperkuat kampanye mereka melalui media sosial dan aksi langsung. Di Punjab, organisasi Gau Raksha Parishad melakukan pembakaran patung Hakim Khan, sementara di Uttar Pradesh, Rashtriya Bajrang Dal menggelar demonstrasi besar-besaran. Ancaman online terus meningkat, termasuk video yang menampilkan slogan “Bunuh Hakim Muslim” dan meme yang memperlebar perbedaan antara agama.

“Masyarakat kini menunggu tindakan serius dari pihak berwajib untuk melindungi hakim dan menegakkan hukum agama,”

ujar aktivis lokal yang terlibat dalam penggalangan dukungan untuk Hakim Khan.

Kasus di Madhya Pradesh

Tabassum Khan, sebagai hakim ketua pengadilan tambahan distrik di Madhya Pradesh, menjadi sasaran utama dari gelombang protes yang dipicu oleh vonis tersebut. Tindakan anarkis melibatkan pembakaran, ancaman, dan serangan terhadap bangunan pengadilan. Penyebaran video penghasutan online terus berlanjut, dengan salah satu pelaku menyatakan bahwa kekacauan akan meluas jika para terpidana tidak dibebaskan dalam waktu 10 hari.

“Ini bukan hanya kasus hukum, tapi juga perang ideologis yang dipicu oleh keputusan satu hakim,”

ungkap seorang analis politik, menambahkan bahwa kasus ini mencerminkan ketegangan antaragama yang sudah lama memanas di India.

Vonis hukuman seumur hidup diberikan setelah penyelidikan terhadap peristiwa tahun 2022 yang menimbulkan kontroversi. Dalam persidangan, para terdakwa dianggap bersalah karena melakukan pengeroyokan teror terhadap Nazir Ahmad dan dua rekannya. Tindakan ini dianggap melanggar hak asasi manusia, namun kelompok sayap kanan menilai bahwa keputusan hakim terlalu berat dan tidak adil.

“Hakim memiliki kewenangan untuk menetapkan hukuman, tetapi serangan fisik terhadapnya menunjukkan kebencian yang melebihi keadilan,”

komentar dari seorang pengamat hukum yang menyoroti kelemahan perlindungan hakim di tengah kekacauan politik.

Dampak pada Sistem Hukum

Kasus ini menimbulkan perdebatan mengenai keadilan hukum dan peran agama dalam penegakan hukum. Pihak kepolisian setempat, melalui pejabat Sudhakar Baraskar, mengonfirmasi bahwa laporan pidana terhadap anggota sayap kanan telah diterima. Dua orang terduga menyebarkan video penghasutan ditangkap oleh tim siber, namun ancaman terus berdatangan.

“Hakim Tiba Tiba Mau Dibunuh karena vonis mereka dianggap memihak Muslim, ini adalah sinyal bahwa sistem hukum bisa dipengaruhi oleh prasangka,”

kata seorang anggota Komite Hukum Nasional. Kekhawatiran juga mengemuka mengenai keamanan hakim lain di wilayah yang sama.

Di tingkat nasional, organisasi sayap kanan seperti Rashtriya Bajrang Dal dan Gau Raksha Parishad dianggap sebagai pelaku utama kampanye diskriminasi berbasis agama. Mereka memanfaatkan keputusan Hakim Khan sebagai alasan untuk membangun kesadaran umum tentang “kesalahan” terhadap agama Islam.

“Hakim Tiba Tiba Mau Dibunuh setelah vonis Geng Sapi menunjukkan bagaimana keputusan hukum bisa menjadi bahan penghasutan,”

tulis sebuah media lokal, menambahkan bahwa kejadian ini memicu pernyataan dari berbagai kalangan yang menuntut perlindungan maksimal bagi para hakim.

MORE FROM THIS CATEGORY