Perang Iran Jadi Bumerang Trump, AS Kehabisan Rudal Andalan

3 weeks ago  ·  4 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
komando-pusat-amerika-serikat-centcom-selaku-unit-militer-menyatakan-minggu-1272026-meluncurkan-serangan-baru-ke-iran-1783915116857_169

Topics Covered: Perang Iran Jadi Bumerang Trump, AS Kehabisan Rudal Andalan

Dailynesia.com – Ketersediaan rudal utama militer Amerika Serikat (AS) terus berkurang seiring memanaskan kembali konflik dengan Iran. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Washington mungkin menghadapi risiko penurunan kesiapan menghadapi perang lain di masa depan, termasuk potensi konflik dengan Tiongkok atau Korea Utara. Dengan adanya perang Iran sebagai bumerang kebijakan Trump, AS kini terlihat dalam posisi yang lebih rentan dalam hal senjata udara dan pertahanan strategis.

Ketersediaan Rudal dan Dampak Operasi Militer

Menurut analis pertahanan Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), jika perang terus berlangsung dengan intensitas yang sama, persediaan rudal AS akan terus berkurang. “Topics Covered ini menunjukkan bahwa AS kini memasuki fase di mana stok amunisi terbatas, terutama di kawasan Indo-Pasifik,” katanya, seperti diungkapkan CNN International, Senin (13/7/2026). Ia mengingatkan bahwa konsumsi senjata udara dan jarak jauh selama Operasi Epic Fury telah menyedot ribuan unit rudal.

“Dengan ketersediaan rudal yang semakin menipis, AS harus mempertimbangkan kebijakan defensif yang lebih ketat,” ujar Michael O’Hanlon dari Brookings Institution.

Operasi militer terhadap Iran tidak hanya menguras stok rudal, tetapi juga menunjukkan kelemahan dalam logistik persenjataan. Berdasarkan data internal Departemen Pertahanan AS, Pentagon telah menghabiskan setengah dari stok rudal balistik THAAD, hampir separuh rudal Patriot, dan sekitar 30% rudal Tomahawk. Situasi ini menggarisbawahi kebutuhan AS untuk mempercepat produksi senjata strategis agar tidak terjebak dalam perang lain.

Risiko Jangka Panjang dan Kebijakan Trump

Persediaan rudal yang menurun menciptakan risiko bagi keterlibatan AS dalam perang skala besar. Elaine McCusker dari American Enterprise Institute memperkirakan pemulihan amunisi akan memakan waktu dua hingga lima tahun, tergantung pada jenis senjata. “Topics Covered ini menunjukkan bahwa ketersediaan rudal tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat, terutama jika perang terus berlanjut,” jelasnya.

Sebagai respons, Presiden Donald Trump mempercepat upaya memperkuat kekuatan militer melalui aktivasi Defense Production Act pada Juni 2026. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi hambatan regulasi dan mempercepat produksi rudal. Namun, para analis mengingatkan bahwa usulan anggaran tambahan untuk menutup biaya operasi perang masih dalam proses pembahasan.

“Trump ingin menekankan bahwa AS tetap mampu menghadapi ancaman internasional, meski dengan risiko kehabisan rudal andalan,” kata seorang pejabat Departemen Pertahanan.

Kebijakan Trump juga menyebabkan pengiriman senjata ke negara-negara mitra seperti Jerman dan Jepang. Jepang, misalnya, membutuhkan tiga tahun untuk menyelesaikan fasilitas produksi rudal Patriot. Sementara Jerman hingga saat ini belum mampu menghasilkan rudal dalam jumlah signifikan meski proyeknya telah dimulai sejak 2022. Proses ini menunjukkan bahwa restock rudal tidak bisa dilakukan secara instan, sehingga AS harus mengandalkan stok yang tersisa.

Strategi Deterrence dan Keterbatasan

Analisis terkini menunjukkan bahwa kehabisan rudal andalan memengaruhi keefektifan deterrence AS terhadap negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Utara. O’Hanlon dari Brookings Institution menyatakan, “Topics Covered ini memperlihatkan bahwa meski kekuatan militer AS tidak melemah secara signifikan, daya tahan dalam menghadapi konflik yang berkelanjutan tetap terbatas.” Ia menambahkan bahwa jika persediaan rudal terus menipis, AS mungkin kesulitan dalam menjaga dominasi strategis di kawasan Asia Tenggara.

Ketersediaan rudal yang menurun juga menjadi isu utama dalam rapat Konsultatif Keamanan Nasional AS. Para pejabat mengingatkan bahwa ekspansi produksi senjata udara dan jarak jauh membutuhkan waktu, sehingga AS harus mengoptimalkan penggunaan rudal yang tersisa. Jika tidak, kehabisan senjata bisa mengikis kemampuan AS dalam menjaga keseimbangan kekuasaan global.

Perbandingan dengan Konflik Sebelumnya

Operasi terhadap Iran menunjukkan bahwa AS sedang mengalami krisis persediaan rudal setelah perang di Suriah dan Irak. Jumlah stok rudal saat ini jauh dari ideal, dengan konsumsi yang meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir. “Topics Covered ini menunjukkan pola penggunaan senjata yang tidak teratur, terutama dalam menanggapi ancaman dari Iran,” kata Cancian.

Para ahli mengungkapkan bahwa respons AS terhadap serangan Iran sejauh ini menunjukkan keterbatasan dalam strategi pertahanan. Dengan persediaan rudal yang terus berkurang, AS harus memprioritaskan penggunaan senjata yang paling efektif, termasuk rudal Tomahawk dan Patriot. Namun, kehabisan rudal bisa memaksa AS untuk mengandalkan kekuatan udara yang lebih rendah, sehingga risiko terhadap keamanan nasional meningkat.

Kesimpulan dan Proyeksi Masa Depan

Menurut analisis CSIS, diperlukan setidaknya tiga tahun untuk mengembalikan stok rudal AS ke tingkat sebelum perang. Dalam periode ini, AS harus terus mempercepat produksi dan memperluas kerja sama internasional. “Topics Covered ini menjadi peringatan bahwa kebijakan militer yang terlalu agresif bisa mengikis kemampuan pertahanan jangka panjang,” jelas McCusker.

Kebutuhan AS untuk mengembalikan stok rudal juga menyoroti pentingnya perencanaan yang lebih matang. Meski Trump mencoba mempercepat proses produksi, kehabisan rudal andalan menunjukkan bahwa negara-negara besar seperti AS tetap rentan terhadap tekanan geopolitik. Dengan demikian, perang Iran tidak hanya menjadi bumerang bagi Trump, tetapi juga menyebabkan refleksi terhadap kebijakan pertahanan AS dalam masa depan.

MORE FROM THIS CATEGORY