Airlangga Hartarto Jelaskan Dampak Penggunaan B50: Indonesia Tidak Lagi Impor Solar
Dailynesia.com – Dalam sebuah konferensi pers di Kementerian Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan manfaat dari kebijakan wajib menggunakan biodiesel 50% atau B50. Menurutnya, implementasi ini berdampak signifikan pada kemandirian energi nasional.
“Program mandatory B50 yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kemampuan Indonesia untuk mandiri dalam energi. Sekarang, negara tidak perlu mengimpor solar lagi, sehingga menghemat devisa sekitar US$ 177 miliar,” ujar Airlangga.
Dari sisi lingkungan, Airlangga menegaskan bahwa B50 membantu mencapai target emisi nol bersih. Ia menyebutkan bahwa kebijakan ini menurunkan emisi CO2 sebanyak 44,46 juta ton, dibandingkan 39,66 juta ton saat menggunakan B40.
Launching B50 di Karawang: Peningkatan Penggunaan Biodiesel
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dengan campuran minyak sawit 50% atau B50 pada Kamis, 9 Juli 2026, di SPBU Pertamina, Rest Area KM 57, Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ini merupakan peningkatan dari program B40 yang berlaku sejak awal 2025.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kebutuhan biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) untuk B50 meningkat menjadi 16,7-18 juta kilo liter, dibandingkan 14,9 juta kiloliter saat B40. Sementara kebutuhan minyak sawit (PO) naik dari 13,6 juta ton menjadi 15,2-16,3 juta ton.

