Warga Kristen Lebanon Ngamuk “Difitnah” Netanyahu, Begini Kronologinya

4 weeks ago  ·  2 min read
By David Williams - dailynesia.com
toni-elias-40-pendeta-dari-desa-kristen-rmeish-membaca-di-tengah-ketegangan-antara-israel-dan-hizbullah-di-gereja-saint-george_169

Latest Program: Warga Kristen Lebanon Ngamuk di Difitnah Netanyahu

Dailynesia.com – Konflik politik di Lebanon kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut warga Kristen di wilayah selatan negara itu ingin aneksasi wilayah mereka ke Tel Aviv. Klaim ini mengundang reaksi keras dari masyarakat dan otoritas lokal, yang menilai Netanyahu mengadu domba komunitas minoritas untuk memperkuat posisi Israel di tengah ketegangan yang terus memburuk.

Kronologi Peristiwa

Pernyataan Netanyahu muncul dalam program televisi internasional The Sunday Briefing yang disiarkan oleh Fox News. Ia menyatakan bahwa sejumlah desa Kristen di Lebanon telah meminta perlindungan militer dari Israel karena ancaman Hizbullah, kelompok yang dikritik karena sering menargetkan umat Kristen. Pernyataan tersebut segera menyebar dan memicu protes di beberapa kota utama, termasuk Beirut.

“Beberapa desa Kristen di Lebanon sebenarnya sudah meminta aneksasi ke Israel karena kami melindungi mereka dari Hizbullah, kelompok fanatik yang ingin membunuh mereka, serta melakukan tindakan serupa terhadap umat Kristen di daerah lain,” ujar Netanyahu dalam program tersebut.

Reaksi masyarakat kristen datang berupa aksi unjuk rasa besar-besaran dan penolakan terhadap klaim Netanyahu. Pemimpin partai lokal, seperti Melhem Khalaf dari faksi Kristen Ortodoks Yunani, langsung menggelar konferensi pers darurat untuk menolak penggunaan istilah ‘difitnah’ yang dianggap menyesatkan. Mereka menegaskan bahwa keinginan untuk melindungi diri dari Hizbullah tidak berarti ingin bergabung dengan Israel.

Analisis Politik dan Dampaknya

Analisis politik mengungkap bahwa Netanyahu memanfaatkan situasi konflik untuk memperkuat gambaran Israel sebagai penjaga keamanan bagi minoritas. Profesor hubungan internasional dari Saint Joseph University of Beirut, Karim Emile Bitar, menilai taktik ini bertujuan menggiring opini publik Lebanon agar memihak Israel dalam usaha memecah belah persatuan nasional.

“Klaim Netanyahu jelas ditujukan untuk menabur perang saudara di Lebanon, memisahkan sesama warga negara demi mempromosikan gagasan bahwa Israel bisa menjadi pelindung minoritas tertentu,” tambah Bitar saat ditemui Al Jazeera.

Data dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) menunjukkan bahwa desa-desa kristen di sepanjang perbatasan dengan Israel menjadi korban serangan udara dan artileri secara masif. Infrastruktur sipil, termasuk sekolah dan rumah ibadah, kerap rusak. Manajer penelitian ACLED, Nasser Khdour, menjelaskan bahwa insiden vandalisme patung Yesus oleh tentara Israel pada April lalu memperkuat tudingan bahwa Israel menggunakan kekerasan untuk memperkuat klaimnya terhadap wilayah kristen.

Kebijakan aneksasi ini juga memicu kritik terhadap sistem kuota sektarian di pemerintahan Lebanon. Banyak ahli menilai Netanyahu memanfaatkan kecemasan masyarakat lokal untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan Israel dalam mengatasi konflik di wilayah Palestina. Selain itu, klaim ini dianggap sebagai upaya menghancurkan solidaritas Lebanon terhadap Palestin.

MORE FROM THIS CATEGORY