Dunia Mengalami Ketidakstabilan, Bos FORE Prediksi Kenaikan Harga Kopi
Dailynesia.com – Dalam rangkaian kegiatan Special Plan yang berlangsung pada 11 Mei 2026, PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) membahas dinamika pasar global yang kian memanas. Menurut Vico Lomar, direktur utama perusahaan, ekonomi dunia tengah mengalami gangguan akibat berbagai faktor, seperti perang di Timur Tengah dan kenaikan harga bahan bakar non subsidi. Kondisi ini memengaruhi sektor pertanian dan industri, termasuk harga kopi, yang berpotensi naik di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian pasokan.
Analisis Harga Bahan Baku dan Strategi Mitigasi
Vico menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku di Indonesia terutama dipicu oleh gangguan rantai pasok global, khususnya di wilayah produksi kopi. Meski ada peningkatan sedikit di beberapa komoditas, plastik menjadi salah satu bahan baku yang mengalami kenaikan harga paling signifikan. Dalam rangka Special Plan untuk menjaga stabilitas operasional, perusahaan telah menerapkan strategi penguncian harga dengan kontrak berjangka untuk melindungi margin keuntungan.
“Dengan Special Plan ini, kami memperkuat keterlibatan dalam manajemen risiko ekonomi global. Beberapa bahan baku akan mengalami kenaikan di tahun ini, tetapi kami telah mempersiapkan mekanisme untuk mengurangi dampaknya,” ujar Vico saat Public Expose FORE secara virtual, Senin (11/5/2026).
Perusahaan juga mengakui bahwa kenaikan harga bahan bakar non subsidi memengaruhi biaya operasional, yang berdampak pada harga produk. Meski demikian, para direktur percaya bahwa langkah penguncian harga akan membantu mengantisipasi kenaikan biaya, sehingga dapat mempertahankan harga kopi yang relatif stabil hingga akhir tahun 2026.
Ekspansi Gerai dan Investasi Berkelanjutan
Sementara itu, dalam Special Plan 2026, Fore Kopi juga fokus pada pengembangan jaringan gerai. Direktur Utama M. Fahmi Rachmattulah mengungkapkan bahwa perusahaan bertekad membangun lebih dari 100 unit gerai baru, termasuk merek Fore Coffee dan Fore Donut. Rencana ekspansi ini dilakukan untuk memperkuat kehadiran merek di pasar nasional dan memperluas pangsa pasar.
“Anggaran belanja modal (capex) kami mencapai Rp250 miliar, dengan alokasi Rp200 miliar untuk Fore Coffee dan Rp50 miliar untuk Fore Donut. Capex tersebut akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur dan operasional,” tambah Fahmi dalam sesi diskusi.
Dalam Special Plan, pengembangan central kitchen menjadi prioritas untuk meningkatkan efisiensi produksi. Direktur Tjhong Pie Chen menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan mengurangi biaya logistik dan memastikan kualitas produk tetap terjaga. Ekspansi gerai juga diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.
Konteks Global dan Dampak pada Industri Kopi
Kenaikan harga kopi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga oleh dinamika ekonomi global. Vico menyoroti bahwa perang antara AS-Israel dan Iran, serta penutupan Selat Hormuz, telah memicu kenaikan harga minyak mentah dan berdampak pada inflasi di berbagai negara. Indonesia sebagai negara penghasil kopi terbesar dunia pun merasakan tekanan dari perubahan harga bahan bakar yang signifikan.
“Kenaikan harga bahan bakar non subsidi terlihat secara langsung di Indonesia. Dalam Special Plan kami, upaya mitigasi dilakukan melalui pengelolaan biaya operasional dan penguncian harga bahan baku,” ujar Vico.
Menurut analisis, harga kopi diproyeksikan akan naik sekitar 5-10% di tengah kenaikan biaya produksi. Direktur Utama mengimbau konsumen untuk bersiap dengan mengantisipasi perubahan harga, terutama untuk produk kopi yang dipesan melalui sistem online. Namun, perusahaan berkomitmen untuk tetap memberikan kualitas terbaik dengan harga yang seimbang.
Perspektif Pasar dan Tantangan Ke depan
Dalam Special Plan 2026, pihak FORE juga melihat peluang tumbuh dari permintaan pasar yang tetap stabil. Meski ada tekanan harga, konsumen di Indonesia masih mempertahankan kebiasaan konsumsi kopi, yang menjadi bagian dari budaya nasional. Vico menyebut bahwa konsumsi kopi diperkirakan akan terus meningkat, terutama di kota-kota besar yang menjadi pusat ekonomi.
“Kenaikan harga bahan baku bisa menjadi tantangan, tetapi juga momentum untuk memperkuat keberlanjutan bisnis. Dalam Special Plan ini, kami mencoba mengoptimalkan pengelolaan sumber daya agar bisa bersaing dalam pasar yang dinamis,” kata Vico.
Menurutnya, kenaikan harga kopi juga tergantung pada situasi politik dan ekonomi global. Jika perang di Timur Tengah berlanjut, maka pasokan bahan baku bisa lebih terganggu, sehingga harga kopi berpotensi naik lebih tinggi. Namun, FORE siap menghadapi perubahan ini dengan strategi yang terencana.

