Main Agenda: Hemat Lahan, 10.000 Hektare Permukaan Waduk Akan Disulap Jadi PLTS

1 month ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
ada598fa-69ed-43e8-961d-ab48ef6039c2-0

Main Agenda: PLTS Terapung Hemat Lahan di Waduk 10.000 Hektare

Dailynesia.com – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung yang dicanangkan sebagai Main Agenda baru dalam pembangunan energi terbarukan di Indonesia semakin mendapat perhatian. Proyek ini menargetkan penggunaan lahan permukaan waduk seluas 10.000 hektare untuk menghasilkan kapasitas listrik sebesar 10,3 GWp. Dengan konsep ini, PLN (Persero) berupaya mengatasi tantangan keterbatasan ruang darat, yang sebelumnya menjadi hambatan utama dalam mempercepat pengembangan energi bersih. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa Main Agenda ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan hingga 100 GW.

Penggunaan Waduk Sebagai Solusi Energi Terbarukan

“Dengan tambahan pembangunan PLTS berbasis BESS di waduk-waduk, luasnya mencapai 10.000 hektar. Ini hanya berlaku di Pulau Jawa, sehingga menambah kapasitas 10 GWp,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, seperti yang dikutip Jumat (3/7/2026).

Keputusan untuk mengembangkan PLTS terapung di waduk ini diambil sebagai langkah strategis untuk memaksimalkan penggunaan lahan. Waduk, yang selama ini difungsikan sebagai sumber air dan irigasi, kini menjadi area strategis untuk pembangunan infrastruktur energi. Darmawan Prasodjo menekankan bahwa Main Agenda ini tidak hanya efisien dari segi ruang, tetapi juga meminimalkan dampak lingkungan karena tidak mengganggu ekosistem daratan. Teknologi PLTS terapung ini dipercaya dapat menjadi model inovatif dalam transisi energi menuju pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Kolaborasi dengan Pemerintah untuk Menyelaraskan Tujuan

“Kami mengakui bahwa PLTS dengan BESS sangat sensitif terhadap harga lahan. Jika harga tanah naik, biaya jual listrik per kWh juga akan meningkat, sekitar 1 sen untuk kenaikan Rp 200.000 per meter, dan hingga 3 sen jika harganya mencapai Rp 600.000 per meter,” jelasnya.

Pemerintah turut mendukung Main Agenda ini melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam RDP, Darmawan Prasodjo menyebutkan bahwa pihaknya telah mengajukan usulan 28.000 hektare lahan darat untuk mempercepat pengembangan PLTS sebesar 100 GW. “Usulan 28.000 hektar sudah diajukan oleh Kementerian ATR/BPN, lalu kami overlaykan dengan peta jaringan transmisi dan gardu induk yang dimiliki,” tambahnya. Dengan integrasi lahan darat dan waduk, PLN berharap dapat mengoptimalkan penggunaan ruang serta meningkatkan efisiensi pembangunan energi terbarukan.

Dalam Main Agenda ini, sistem penyimpanan baterai atau BESS juga dianggap sebagai elemen kunci. PLN akan memadukan teknologi ini untuk memastikan stabilitas pasokan listrik, terutama pada jam-jam puncak saat kebutuhan energi meningkat. BESS dipercaya dapat menyimpan energi surplus dari PLTS terapung dan memasok kebutuhan saat matahari tidak bersinar. Dengan kombinasi ini, PLN mengharapkan adanya peningkatan kapasitas listrik secara signifikan, seiring dengan peningkatan permintaan energi di Indonesia yang terus bertumbuh.

Proyek PLTS terapung di waduk juga dinilai sebagai bagian dari Main Agenda nasional untuk mencapai transisi energi yang lebih hijau. Direktur Energi dan Listrik PLN menyebutkan bahwa waduk memiliki keunggulan karena lokasinya yang terbuka, ketersediaan air, dan kemudahan akses untuk pembangunan infrastruktur. “Selain itu, waduk juga memiliki kapasitas untuk mempercepat proses penyerapan energi dari PLTS,” tambahnya. Dengan memanfaatkan waduk, PLN berharap dapat mengurangi biaya operasional dan meningkatkan keberlanjutan proyek energi terbarukan di tengah tantangan harga lahan yang semakin tinggi.

Di sisi lain, pengembangan PLTS terapung ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif pada perekonomian lokal. Selain menciptakan lapangan kerja, proyek ini dapat mendorong pertumbuhan industri pendukung seperti manufaktur panel surya dan pengadaan baterai. Darmawan Prasodjo menyatakan bahwa Main Agenda PLTS terapung ini akan menjadi fondasi bagi pembangunan energi terbarukan di masa depan, terutama di tengah upaya meningkatkan daya tahan terhadap krisis energi global. Dengan lahan seluas 10.000 hektare, proyek ini menargetkan produksi listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,2 juta rumah tangga di Pulau Jawa.

Para ahli juga menilai Main Agenda ini sebagai inisiatif yang mampu mengakomodasi kebutuhan energi terbarukan sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Kementerian ESDM menegaskan bahwa penggunaan waduk sebagai lahan PLTS terapung tidak mengganggu fungsi utamanya sebagai sumber air, karena struktur waduk dirancang untuk mengizinkan penggunaan permukaan secara simultan. Proyek ini juga diharapkan dapat menjadi contoh terbaik dalam penggunaan ruang secara efisien, terutama di daerah-daerah yang padat penduduk dan keterbatasan lahan.

MORE FROM THIS CATEGORY