Presiden Lee Jae Myung: Negara Rusak Parah di Depan Pendahulunya
Dailynesia.com – Di Seoul, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara terbuka mengkritik kondisi negara yang ia anggap telah hancur secara mendalam. Pernyataan ini dikeluarkan dalam pertemuan resmi pertamanya dengan mantan presiden Moon Jae-in, yang berlangsung di wisma Sangchunjae, Cheong Wa Dae, Rabu (1/7/2026). Pertemuan tersebut berbentuk makan siang bersama, di mana Lee menegaskan komitmen untuk memperbaiki berbagai aspek kebijakan, termasuk hubungan internasional. Dalam kesempatan itu, ia menyebut bahwa negara ini telah mengalami kerusakan parah, menyentuh kritis kebijakan pendahulunya yang dianggap gagal dalam mengatasi tantangan politik dan ekonomi.
Pertemuan Diplomasi dan Kebijakan Internasional
Kebijakan diplomatik Korea Selatan selama pemerintahan Moon Jae-in menjadi fokus utama kritik Lee Jae Myung. Ia menilai bahwa pendekatan pendahulunya, yang cenderung lebih konfrontatif terhadap Korea Utara, telah menyebabkan konflik antar-Korea semakin memburuk. Dalam Topics Covered ini, Lee menyatakan bahwa kebijakan perdamaian yang diperkenalkan Moon tidak cukup stabil, sehingga negara kehilangan momentum dalam menegosiasi penyelesaian konflik. Ia berjanji akan memperkuat upaya dialog dengan Pyongyang, terutama dalam mengatasi isu nuklir dan ketegangan perbatasan.
“Kebijakan pendahulunya tidak cukup mengembangkan kepercayaan antar-Korea. Di bidang diplomasi, keamanan, dan ekonomi, negara ini mengalami kerusakan parah,” kata Lee, dilansir dari The Korea Herald, Rabu (1/7/2026). Ia menyoroti kegagalan pemerintahan Moon dalam menstabilkan ekonomi, termasuk lonjakan utang pemerintah dan inflasi yang terus meningkat. Dalam Topics Covered ini, Lee menyatakan bahwa ia akan memprioritaskan kebijakan yang lebih inklusif, dengan menekankan kerja sama bilateral dan investasi di sektor infrastruktur.
Selain mengkritik kebijakan luar negeri, Lee juga menyoroti kegagalan pemerintahan Moon dalam memperbaiki kinerja ekonomi. Menurut laporan The Korea Herald, penurunan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan mencapai 2,3% pada kuartal pertama 2026, yang lebih rendah dari proyeksi awal. Lee menjanjikan kebijakan fiskal yang lebih berorientasi pada kebutuhan rakyat, termasuk subsidi energi dan program bantuan sosial. Dalam Topics Covered ini, ia menegaskan bahwa perbaikan kebijakan ekonomi menjadi prioritas utama untuk memulihkan kepercayaan publik dan menstabilkan perekonomian.
Perebutan Kekuasaan dalam Partai Liberal
Pertemuan antara Lee dan Moon juga terjadi di tengah persaingan sengit di kalangan partai liberal. Faksi pro-Lee dianggap lebih konservatif dibandingkan kelompok yang mendukung Moon, yang cenderung progresif. Perbedaan ini menyebabkan ketegangan dalam pemerintahan saat ini, terutama dalam mengambil keputusan penting terkait kebijakan luar negeri. Lee menyebut bahwa perbedaan ini berpotensi menghambat upaya memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga, termasuk Jepang dan Tiongkok.
“Kami harus mengingat bahwa kebijakan pendahulunya telah menciptakan ketidakstabilan dalam hubungan internasional. Dalam Topics Covered ini, Lee mengkritik kebijakan Moon yang dianggap kurang adaptif terhadap perubahan global, seperti krisis energi dan fluktuasi pasar keuangan. Ia menegaskan bahwa pemerintahan barunya akan fokus pada koordinasi dengan negara-negara tetangga, terutama dalam menyelesaikan konflik perbatasan yang sudah berkepanjangan.
Dalam Topics Covered ini, Lee juga memuji beberapa aspek kebijakan pendahulunya, terutama dalam pengembangan energi terbarukan. Ia mengakui bahwa inisiatif Moon dalam memperluas penggunaan panel surya berdampak positif, terutama di wilayah barat daya Korea Selatan. Namun, Lee menilai bahwa kebijakan tersebut tidak cukup efektif dalam mengatasi krisis energi yang melanda negara tersebut. Ia berjanji akan mengembangkan proyek energi terbarukan dengan lebih cepat, serta mengintegrasikan teknologi hijau ke dalam strategi pemerintahan jangka panjang.
Dalam pertemuan tersebut, Lee Jae Myung juga menyebut bahwa pemerintahan pendahulunya gagal dalam menjaga kestabilan politik nasional. Menurutnya, kebijakan pendahulunya terlalu bergantung pada kekuasaan otoriter, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Dalam Topics Covered ini, ia menegaskan bahwa kebijakan baru akan berfokus pada demokratisasi dan keadilan sosial, dengan mengurangi pengaruh korporat dalam proses pengambilan keputusan.
Selain itu, Lee menyebut bahwa masalah keamanan nasional juga mengalami penurunan kualitas selama pemerintahan Moon. Ia menyoroti kegagalan dalam menangani ancaman dari Korea Utara, termasuk serangan rudal dan pengujian nuklir. Dalam Topics Covered ini, Lee menegaskan bahwa ia akan memperkuat aliansi dengan AS dan Jepang, serta membangun sistem pertahanan yang lebih modern untuk menghadapi ancaman di masa depan.

