Minyakita Masih Langka di Pasaran? Ini Jawaban Bos Bulog

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
minyak-goreng-minyakita-cnbc-indonesiamuhamad-sabki-1770796982238_169

Minyakita Masih Langka di Pasaran? Ini Jawaban Bos Bulog

Dailynesia.com – Ketersediaan Minyakita di pasar rakyat masih menjadi sorotan publik, terutama setelah sejumlah pedagang mengeluhkan sulitnya menemukan minyak goreng merek ini. Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani membantah klaim tersebut, menegaskan bahwa distribusi Minyakita sudah diberikan secara optimal ke pasar-pasar yang diawasi pemerintah. “Jika ingin memantau ketersediaan Minyakita, cukup lihat peta sebarannya. Di aplikasi Minyakita, sejak minggu lalu semuanya sudah hijau, Alhamdulillah,” ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat Bulog.

Penjelasan tentang Kuota dan Distribusi Minyakita

Rizal menjelaskan bahwa Bulog telah menyalurkan sekitar 35% dari kuota DMO (Distribusi Minyak Goreng) Minyakita ke pasar-pasar SP2KP (Subsidi Pangan) dan pasar tradisional. “Kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyebar ke seluruh pasar SP2KP serta pasar tradisional,” tambahnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Bulog tidak diberikan kebebasan untuk menyalurkan Minyakita ke seluruh jalur distribusi. “Ada aturan yang membatasi Bulog hanya boleh menyalurkan Minyakita ke pasar SP2KP dan pasar tradisional yang memiliki NIB,” lanjut Rizal.

Permasalahan Distribusi Minyakita di Wilayah Timur Indonesia

Ketersediaan Minyakita di wilayah timur Indonesia terbilang masih terbatas, terutama karena biaya logistik yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Untuk mengatasi kendala ini, Bulog menerapkan skema subsidi silang dari distribusi minyak goreng di Jawa. “Kalau dibilang Minyakita hanya tersedia di timur doang, itu nggak benar. Kita menghitung subsidi silang dari Jawa untuk mengimbangi biaya transportasi ke daerah-daerah yang lebih jauh,” pungkas Febby Novita, Direktur Bisnis Perum Bulog.

Distribusi Minyakita juga menghadapi tantangan dalam mencapai kepadatan pasar. Meski Bulog telah menyalurkan 110 juta liter Minyakita ke seluruh Indonesia, distribusi melalui BUMN pangan belum sepenuhnya optimal. “Karena kuota DMO Minyakita berlaku untuk seluruh BUMN pangan, termasuk ID Food. Jadi, tugas distribusi tidak hanya jatuh pada Bulog,” jelas Febby. Namun, ia menegaskan bahwa Bulog tetap menjadi mitra utama dalam memastikan Minyakita sampai ke pasar-pasar yang diawasi pemerintah.

Kebijakan Pemerintah dan Tantangan dalam Ketersediaan Minyakita

Menurut Rizal, kebijakan pemerintah yang membatasi distribusi Minyakita ke pasar SP2KP dan tradisional menjadi alasan utama mengapa merek ini tidak merata di seluruh daerah. “Kebijakan ini diatur melalui Permendag, sehingga Bulog hanya bisa menyalurkan Minyakita ke pengecer yang memiliki NIB. Jika tidak punya, kami tidak bisa mengirimkan,” imbuhnya. Meski demikian, Rizal menambahkan bahwa penyaluran Minyakita ke pasar-pasar tersebut tetap dilakukan secara teratur.

Kebijakan ini memastikan Minyakita dapat bersaing dengan minyak goreng premium dan curah, terutama di wilayah yang masih mengalami keterbatasan stok. “Selama ini, Minyakita cukup langka di pasar rakyat, tetapi dengan kebijakan ini, ketersediaannya sudah lebih terjangkau,” kata Rizal. Namun, ada juga pengecer yang masih mengeluhkan Minyakita kurang banyak dijual, terutama di daerah dengan akses logistik yang lebih sulit.

Bulan ini, pasar Senen, Jakarta Pusat, menjadi contoh nyata Minyakita yang sempat langka. Sejumlah pedagang mengaku sulit menjual minyak goreng merek ini, meski harga minyak premium masih terus naik. “Kita sedang menyesuaikan distribusi Minyakita ke pasar-pasar yang lebih kecil, agar tidak ada pengecer yang kesulitan memperolehnya,” tambah Febby. Ia juga menyebutkan bahwa kelancaran distribusi Minyakita tergantung pada ketersediaan stok dan kebijakan pemerintah.

Dengan peran Bulog sebagai mitra distribusi, Minyakita diharapkan dapat mencapai ketersediaan yang lebih merata. Namun, tantangan masih ada, terutama di daerah dengan jaringan logistik yang kurang memadai. “Kita terus memantau Minyakita, karena ketersediaannya sangat penting untuk masyarakat yang bergantung pada bahan pokok ini,” pungkas Rizal. Kebijakan yang berlaku saat ini menjadi alat untuk memastikan Minyakita bisa sampai ke tangan konsumen dengan efisien.

MORE FROM THIS CATEGORY