RI Bakal Ciptakan BBM Bensin Baru E20, Butuh 4 Juta Kilo Liter Etanol

1 month ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
5a374f2d-8d05-47f4-96fc-bdbbe7334552-0

New Policy: Indonesia Akan Mengembangkan BBM E20 untuk Kurangi Impor

Dailynesia.com – Pemerintah Indonesia kini menerapkan kebijakan baru dalam pengembangan bahan bakar minyak (BBM) berupa campuran bensin dan etanol dengan kadar 20 persen, atau E20. Kebijakan ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor dan menciptakan alternatif energi yang lebih ramah lingkungan. Untuk mendukung pelaksanaan New Policy ini, kebutuhan etanol per tahun diperkirakan mencapai 4 juta kiloliter (KL), yang akan diperoleh dari bahan baku pertanian lokal seperti tebu, singkong, dan jagung.

Peran Kilang Balikpapan dalam New Policy BBM E20

Dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa kebijakan E20 adalah bagian dari New Policy yang mengubah struktur industri bahan bakar nasional. Pemerintah menegaskan bahwa kapasitas produksi bensin saat ini hanya sekitar 14,3 juta KL, sedangkan kebutuhan masyarakat mencapai 40 juta KL. Dengan kilang Balikpapan yang mulai beroperasi bulan Januari 2026, produksi bensin diperkirakan meningkat 5,5 juta KL, sehingga impor bensin yang tersisa sebesar 20 juta KL bisa diminimalkan melalui penggunaan E20.

“New Policy ini juga memastikan bahwa etanol akan menjadi bagian integral dari kebijakan energi nasional. Dengan target produksi etanol 4 juta KL per tahun, pemerintah akan menjadi off-taker utama untuk menjamin penggunaan hasil produksi dari petani dan industri bioenergi,” tambah Bahlil dalam pidatonya.

Kebijakan E20 dan Dampak Ekonomi

Kebijakan E20 sebagai bagian dari New Policy diharapkan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terutama bagi sektor pertanian. Produksi etanol yang berasal dari tebu, singkong, dan jagung akan meningkatkan permintaan bahan baku lokal, sehingga mendorong pertumbuhan industri pengolahan dan meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, pemerintah memperkirakan bahwa adopsi E20 bisa mengurangi defisit energi nasional hingga 3,5 juta KL setiap tahun, yang merupakan langkah strategis dalam mencapai kemandirian energi.

Bahlil juga menyoroti bahwa New Policy ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060. Dengan menggantikan sebagian bensin fosil dengan etanol, emisi karbon dari transportasi akan berkurang secara signifikan. Pemerintah berencana menyelesaikan langkah-langkah ini secara bertahap, mulai dari meningkatkan kapasitas produksi etanol hingga memperluas jaringan distribusi BBM E20 ke berbagai daerah di Indonesia.

Pengembangan Etanol: Tantangan dan Peluang

Pengembangan etanol untuk New Policy E20 tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada efisiensi produksi dan kestabilan pasokan. Menteri Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah sedang berupaya meningkatkan efektivitas penggunaan etanol melalui kerja sama dengan produsen lokal dan perusahaan bioenergi. Dengan kebijakan ini, Indonesia berharap bisa memperkuat industri dalam negeri sekaligus menurunkan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak.

“New Policy E20 adalah kunci untuk mempercepat transisi energi Indonesia menuju lebih ramah lingkungan. Etanol yang diproduksi dari bahan baku lokal tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan dan petani,” tambah Bahlil dalam sesi diskusi.

Kebijakan New Policy ini juga menyoroti pentingnya kerja sama antar sektor. Kementerian ESDM bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pengatur Hilir Minyak (BPHM) untuk memastikan stabilitas pasokan bahan baku etanol. Selain itu, pemerintah mengajak pelaku usaha di sektor transportasi dan manufaktur untuk mengadopsi BBM E20 secara masif. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat perekonomian nasional, tetapi juga menurunkan dampak lingkungan dari penggunaan bahan bakar fosil.

MORE FROM THIS CATEGORY