Anak Presiden Turun Gunung Selamatkan Rupiah, Ajak Warga Buang Dolar

1 month ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
82b662b1-b96b-46ac-b957-4ae75f1229e3-0

Anak Presiden Selamatkan Rupiah, Ajak Warga Buang Dolar

Dailynesia.com – Dalam menghadapi tantangan ekonomi tahun 1998, putri Presiden Soeharto, Tutut, memimpin gerakan untuk memperkuat nilai rupiah. Gerakan ini diluncurkan sebagai respons terhadap tekanan moneter yang menyebabkan rupiah melorot tajam terhadap dolar AS. Dengan kata Facing Challenges, Tutut mengajak masyarakat mengambil langkah konkret untuk mendukung mata uang lokal sebagai solusi dari krisis ekonomi yang semakin parah.

Gerakan Cinta Rupiah di Tengah Krisis

Krisis moneter di Indonesia pada 1998 memicu perubahan besar dalam nilai tukar rupiah. Menurut Jan Luiten van Zanden, dalam bukunya Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), rupiah sempat stabil di sekitar Rp2.000 per dolar AS, lalu melorot hingga mencapai Rp10.000-12.000 per dolar. Peristiwa ini dipengaruhi gejolak mata uang baht Thailand pada 1997 yang menyebar ke Asia Tenggara. Dalam situasi Facing Challenges, Tutut menjadi tokoh sentral dalam upaya stabilisasi rupiah.

“Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang dipelopori Ny. Siti Hardianti Rukmana atau Mbak Tutut benar-benar menggetarkan,” tulis Bali Post (16 Januari 1998). Gerakan ini mengajak masyarakat melepas dolar AS dan menukar uangnya ke rupiah untuk meningkatkan kepercayaan terhadap mata uang lokal. Selain itu, gerakan ini diharapkan menjadi bentuk penyelesaian masalah secara bersama-sama.

Untuk memulai, Tutut mengorbankan US$50 ribu dari tabungannya sendiri. Gerakan ini mengundang partisipasi dari sejumlah pejabat negara, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu masih anggota MPR dari fraksi ABRI. Dalam laporan Bali Post (13 Januari 1998), Yudhoyono mengubah US$1.300 menjadi rupiah, sementara Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono juga turut serta. Dana yang terkumpul mencapai sekitar US$650 ribu.

Peran Pengusaha dalam Gerakan Ini

Kelompok pengusaha besar juga terlibat dalam Facing Challenges yang dihadapi Indonesia. Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing melepas US$100 ribu, sementara Sukamdani Sahid Gitosardjono menyerahkan US$50.100 dan 1 kg emas. Tutut sendiri menambah kontribusinya dengan menyerahkan 2 kilogram emas kepada pemerintah.

“Ini tak akan menyelesaikan masalah,” ungkap Fahmi Idris, dikutip Bali Post (1 Februari 1998). Kritik muncul karena dana yang terkumpul dinilai masih kurang untuk mengatasi krisis yang mencapai miliaran dolar AS. Meski demikian, gerakan Getar menjadi simbol perlawanan terhadap inflasi dan devaluasi rupiah.

Selain kontribusi finansial, gerakan ini juga menciptakan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga nilai rupiah. Dengan Facing Challenges yang dihadapi, masyarakat mulai terlibat secara aktif dalam upaya stabilitas ekonomi. Meski perlahan, gerakan ini menunjukkan keberanian dalam menghadapi tekanan global.

Krisis Ekonomi ke Krisis Sosial dan Politik

Meski gerakan Getar memberikan dorongan positif, rupiah masih terus melemah. Krisis ekonomi akhirnya berubah menjadi krisis sosial dan politik pada Mei 1998. Tepat pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi mengundurkan diri setelah memimpin Indonesia selama lebih dari 32 tahun. Gerakan ini menjadi bagian dari Facing Challenges yang mengarah pada perubahan besar dalam pemerintahan.

Krisis yang berlangsung tidak hanya mengguncang pasar keuangan, tetapi juga memicu kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Meski upaya stabilisasi rupiah berhasil mengurangi tekanan, peran Facing Challenges yang dihadapi oleh Tutut dan para pejabat negara tetap menjadi titik balik dalam sejarah Indonesia. Gerakan ini memberikan dampak jangka panjang pada kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi nasional.

MORE FROM THIS CATEGORY