Video: Siap-siap! Bahlil Minta Warga RI Pakai CNG Agar Impor LPG Turun

1 month ago  ·  4 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
b51c3e9c-9cac-413d-be88-c3b27aae24a1-0

Bahlil Minta Warga RI Pakai CNG untuk Kurangi Impor LPG

Dailynesia.com – Dalam sebuah meeting results yang diadakan di Jakarta, CNBC Indonesia melangsungkan diskusi mengenai strategi pembangunan energi nasional. Acara ini menjadi ajang untuk menggali solusi terkait ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa penggunaan meeting results sebagai landasan kebijakan sangat penting dalam menghadapi tantangan global seperti krisis energi dan kenaikan harga minyak. Ia menekankan bahwa meeting results ini bertujuan untuk mengurangi impor LPG (Liquefied Petroleum Gas) sebesar 8,5 juta ton per tahun, yang saat ini menelan anggaran hingga Rp 150 triliun.

Kebutuhan Impor Minyak Mentah dan Bahan Bakar

Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah hingga 1 juta barel per hari karena penurunan produksi migas yang terus berlanjut. Kondisi sumur minyak yang semakin tua menjadi penyebab utama dari meeting results yang menyoroti kebutuhan pengembangan teknologi eksplorasi baru. Bahlil menjelaskan bahwa meeting results ini menekankan perlunya percepatan eksplorasi di wilayah Indonesia Timur, termasuk daerah dengan potensi sumur mati yang perlu direaktivasi. Selain itu, meeting results juga menggarisbawahi pentingnya hilirisasi sawit sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar.

“Pemanfaatan batubara tetap menjadi pilihan untuk memastikan pasokan listrik stabil,” kata Bahlil, saat membahas isu pemadaman listrik yang terjadi di sebagian daerah akibat ketergantungan pada sumber daya tersebut. Meeting Results juga menyoroti bahwa batubara akan tetap menjadi alternatif utama hingga teknologi energi terbarukan berkembang lebih luas.

Pengurangan Impor Bahan Bakar dan Diversifikasi Sumber Daya

Salah satu fokus meeting results adalah pengurangan impor bahan bakar non subsidi, khususnya solar. Untuk tujuan ini, pemerintah menargetkan penggunaan bahan bakar biodiesel B50 yang akan dimulai pada 1 Juli 2026. Meeting Results menyebut bahwa biodiesel B50 diharapkan bisa mengurangi impor solar hingga 20 persen. Di sisi lain, konsumsi bensin nasional mencapai 40 juta kiloliter per tahun, sehingga meeting results menekankan perlunya solusi lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor dari Singapura dan Malaysia.

Meeting Results ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi melalui kebijakan yang terukur dan berkelanjutan,” ujar Bahlil. Ia menambahkan bahwa dengan meeting results yang telah ditetapkan, Indonesia bisa mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam yang ada, termasuk batubara dan CNG, sebagai alternatif untuk mengurangi biaya impor.

Strategi CNG sebagai Solusi Energi Berkelanjutan

Penggunaan meeting results dianggap sebagai bagian krusial dari strategi pemerintah untuk mencapai ketahanan energi nasional. Bahlil menyatakan bahwa Compressed Natural Gas (CNG) akan menjadi alternatif utama untuk menggantikan LPG, terutama di sektor transportasi dan industri. Meeting Results menargetkan penggunaan CNG secara masif dalam beberapa tahun ke depan, dengan estimasi penghematan biaya impor mencapai Rp 50 triliun per tahun. Ia juga menyoroti bahwa meeting results ini memberikan rekomendasi untuk mengembangkan infrastruktur CNG di daerah-daerah dengan populasi padat.

Menurut Bahlil, meeting results ini memberikan arah yang jelas untuk mengurangi impor bahan bakar non subsidi. Ia menekankan bahwa pemerintah akan fokus pada penerapan teknologi dan kebijakan yang mendukung penggunaan CNG. Selain itu, meeting results juga menyebut bahwa peningkatan produksi lokal LPG bisa mencapai 3 juta ton per tahun jika ada inovasi dalam pengolahan migas. Hal ini akan membantu mengurangi ketergantungan pada impor yang menyebabkan defisit devisa mencapai Rp 150 triliun setiap tahun.

Kebijakan Subsidi dan Sosialisasi Penggunaan CNG

Meeting Results menggarisbawahi bahwa pengurangan impor bahan bakar harus diimbangi dengan kebijakan subsidi yang tepat. Harga bahan bakar subsidi tetap dipertahankan untuk melindungi masyarakat miskin, dengan anggaran mencapai Rp 200-250 triliun per tahun. Namun, Bahlil menegaskan bahwa meeting results ini juga menyoroti pentingnya sosialisasi penggunaan CNG sebagai solusi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Ia menjelaskan bahwa program penggunaan CNG akan diluncurkan secara bertahap, dengan fokus pada daerah dengan tingkat konsumsi bahan bakar yang tinggi.

“Kita perlu mempercepat transisi ke CNG agar bisa menekan impor LPG secara signifikan. Meeting Results ini akan menjadi pedoman untuk percepatan implementasi kebijakan tersebut,” terang Bahlil. Ia menambahkan bahwa meeting results ini juga menyoroti kerja sama dengan sektor swasta untuk membangun fasilitas pengisian CNG yang memadai, serta pengurangan biaya operasional melalui pemanfaatan teknologi kompresi yang lebih canggih.

Keberlanjutan Kebijakan Energi di Masa Depan

Meeting Results menunjukkan bahwa pemerintah sedang mengambil langkah strategis untuk menciptakan keberlanjutan dalam pengelolaan energi. Bahlil menekankan bahwa meeting results ini membentuk kerangka kerja untuk kebijakan yang akan diterapkan dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini mencakup pengembangan energi terbarukan, penguasaan teknologi CNG, dan peningkatan produksi migas secara lokal. Dengan meeting results yang jelas, Bahlil berharap Indonesia bisa mengurangi impor LPG hingga 50 persen dalam lima tahun ke depan, sekaligus menekan defisit devisa yang selama ini menjadi beban ekonomi.

Selengkapnya simak Energy Forum, CNBC Indonesia (Selasa, 24/06/2026).

MORE FROM THIS CATEGORY