Pelajaran Penting untuk AS: Tak Semudah Itu Tundukkan Iran
Dailynesia.com – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung sejak lama kini mulai berakhir. Namun, kesepakatan yang tercapai pekan lalu tidak langsung menjadi jaminan damai. Tantangan besar masih mengemuka, termasuk tekanan dari Presiden Donald Trump dan ketegangan dengan Lebanon serta Selat Hormuz. MoU yang ditandatangani Trump di Prancis dianggap sebagai langkah penting, tetapi masih banyak isu yang harus diperjuangkan dalam 60 hari ke depan.
Kesepakatan ini menawarkan beberapa manfaat, seperti menghentikan pertempuran dan membuka kembali jalur laut strategis. Iran berharap mendapatkan insentif ekonomi atas komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Meski demikian, poin krusial seperti masa depan program nuklir dan stok uranium yang telah diperkaya masih memerlukan pembahasan intensif.
Kemenangan Pertama, Tantangan Masih Ada
Pembicaraan antara AS dan Iran dianggap sebagai pencapaian besar. Menurut Philip Gordon, mantan pejabat keamanan nasional AS, gencatan senjata ini bisa bertahan karena sesuai dengan kepentingan kedua belah pihak. “Ada peluang cukup baik bahwa penjedaan perang ini terus berlanjut,” ujarnya melalui CNN International, Senin (22/6/2026).
“Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa jika ancaman mereka benar-benar berhasil, mereka tidak akan sampai pada tingkat keputusasaan seperti sekarang?”
Kata-kata tersebut disampaikan Mohammad Bagher Ghalibaf, pemimpin negosiasi Iran, yang menunjukkan sikap Teheran tidak ingin langsung kalah dalam diplomasi. Iran juga memanfaatkan momentum ini untuk menekan Trump agar memaksa Israel menghentikan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon. Langkah penutupan Selat Hormuz, kata pihak Iran, menjadi strategi menguji kemampuan Trump mengendalikan Netanyahu.
Sebaliknya, Trump membalas dengan ancaman bahwa AS akan menyerang Iran “sangat keras” jika negara itu tidak mengendalikan Hizbullah. Di tengah ketegangan, Wakil Presiden JD Vance tetap menawarkan hubungan baru dengan Iran. “Jika para pemimpin Anda bersedia berhenti menjadi pendorong ketidakstabilan, kami bersedia mengubah hubungan secara mendasar,” ujarnya.
Kekhawatiran dan Kontroversi
Beberapa pengamat skeptis terhadap kemungkinan perubahan besar. Mereka mengingat bahwa selama hampir 50 tahun, para pemimpin Iran telah membangun identitas sebagai lawan AS. Kesepakatan ini juga memicu polemik di Washington, di mana politisi mengkritik pengurangan sanksi terhadap ekspor energi dan farmasi Iran.
Sementara itu, Senator Partai Republik Lindsey Graham membenarkan pendekatan diplomatik. “Jika Anda tidak memiliki jalan melalui MoU, maka harus berperang atau menggunakan cara lain,” katanya. Meski setuju, ia juga mengakui keraguan terhadap strategi tersebut.
Dalam perundingan, Qatar dan Pakistan sebagai mediator melaporkan kemajuan. Keduanya menyatakan proses berlangsung dalam suasana positif, dengan peta jalan kesepakatan final telah disepakati. Namun, kekhawatiran terhadap kerapuhan kerangka perdamaian mulai terlihat, terutama karena Iran dan AS masih saling menantang di berbagai isu kritis.

