Latest Program: Amran Bicara Soal Harga Beras Mahal dan Nasib Petani
Jakarta, 22 Juni 2026
Dailynesia.com – Dalam acara Latest Program Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyoroti keluhan masyarakat terkait kenaikan harga beras. Ia menegaskan bahwa isu ini bukan hanya tentang konsumen, tetapi juga menyangkut kesejahteraan para petani yang menjadi tulang punggung produksi pangan nasional. “Kita harus mencari titik tengah antara kepentingan petani dan kebutuhan konsumen,” ujarnya, menekankan perlunya keseimbangan dalam kebijakan harga beras.
Ekonomi Pertanian dan Kehidupan Petani
Amran menyoroti bahwa petani sering kali mengalami kesulitan finansial, terutama saat harga beras terus meningkat. Ia menyebutkan, kehidupan para petani sangat tergantung pada harga jual hasil panen mereka. “Petani itu 4 bulan mandi lumpur. Mereka hanya dapat Rp30.000 per hari. Mana yang lebih rendah, 30.000 atau 75.000? Jelas petani yang lebih rendah pendapatan,” tegasnya dalam sesi wawancara.
Amran menjelaskan bahwa pendapatan petani yang terbatas membuat mereka kesulitan mengembangkan pertanian secara berkelanjutan. Jika keuntungan dari harga beras terus dipangkas, maka keberlanjutan produksi beras di Indonesia akan terganggu, berpotensi menyebabkan kelaparan yang menimpa sekitar 1-2 juta penduduk.
Menurutnya, dalam Latest Program Economic Update 2026, pemerintah berupaya memastikan kebijakan harga beras tidak merugikan petani. Ia membandingkan pendapatan petani dengan profesi lain seperti tukang batu dan pegawai. Petani hanya mendapatkan Rp10-30 ribu per hari, sementara tukang batu mencapai Rp75.000 dan pegawai meraup hingga Rp100.000-200.000 per hari. Bahkan, harga satu bungkus rokok sekarang mencapai Rp50.000.
Dampak Penurunan Harga Beras
Pendapatan petani yang rendah membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga. Amran memperingatkan bahwa jika harga beras terus diturunkan tanpa pertimbangan keuntungan petani, bisa berdampak negatif terhadap semangat mereka. “Kita beri mereka Rp20.000 per hari, tega nggak? Saudara-saudara kita yang menjadi benteng pangan nasional, lalu keluar dari sektor pertanian,” jelasnya.
Menurut data SP2KP Kementerian Perdagangan, Indonesia pada tahun 2023 mengimpor beras akibat tekanan harga. Beberapa negara produsen, seperti India, membatasi ekspor untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. “Presiden pernah ke India dan China, minta 1 juta ton, tapi tidak didapat. Akhirnya kita tanam cepat, dan rakyat kita antre beli beras,” tambah Amran, menggambarkan tantangan yang dihadapi pemerintah.
Surplus Beras dan Kebijakan Pemerintah
Saat ini, menurut laporan SP2KP, Indonesia telah surplus beras sekitar 1,5 juta ton. Hal ini mendorong beberapa negara datang membeli beras dari Tanah Air, mengubah posisi Indonesia menjadi eksportir. Namun, Amran menyoroti bahwa kenaikan harga beras medium mencapai 0,30% dari Rp13.660 per kg pada 18 Juni 2025 menjadi Rp13.809 per kg pada 18 Juni 2026. Sementara harga beras premium naik 0,34%, dari Rp15.419 per kg menjadi Rp15.471 per kg.
Dalam Latest Program, Amran juga menekankan bahwa surplus beras tidak sepenuhnya membawa keuntungan. Ia menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah harus memastikan harga beras tetap stabil tanpa menyebabkan ketidaknyamanan bagi petani. “Jika harga beras terus diturunkan, impor bisa mencapai 10 juta ton. Kalau negara lain tidak mau ekspor, kelaparan bisa menimpa rakyat Indonesia,” peringatannya menyoroti efek domino dari kebijakan tersebut.
Amran berharap, melalui Latest Program dan kebijakan yang lebih bijak, keadaan para petani bisa diperbaiki. Ia menekankan pentingnya pemerintah memperhatikan peran petani dalam menjaga ketahanan pangan nasional. “Kita harus berpikir jangka panjang, bukan hanya jangka pendek,” tutupnya, menegaskan kebutuhan strategi yang bertahan lama dalam mengatasi masalah harga beras.

