4.000 Pekerja Nike Dirumahkan, Pengusaha Ungkap Alasannya

2 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
3bf103ba-72c1-4f5c-a252-557b87eecf42-0

Latest Program: 4.000 Pekerja Nike Dirumahkan, Pengusaha Ungkap Alasannya

Dailynesia.com – Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Indonesia pada Jumat, 19 Juni 2026, Anton Supit, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), menjelaskan bahwa pengangguran sekitar 4.000 karyawan pabrik sepatu Nike di Bandung, Jawa Barat, bukan disebabkan oleh keterlambatan pasokan bahan baku, melainkan karena penurunan pesanan dari pasar global. Ini menjadi sorotan dalam Latest Program yang mencakup upaya pemulihan ekonomi dan perubahan strategi bisnis di tengah tantangan krisis dunia.

Penurunan Pesanan Global Menjadi Faktor Utama

Keluhan sekitar 4.000 pekerja yang dirumahkan menimbulkan pertanyaan mengenai dampak ekonomi global terhadap industri manufaktur Indonesia. Anton menegaskan bahwa industri sepatu nasional sangat bergantung pada ekspor, dan fluktuasi permintaan internasional secara langsung memengaruhi operasional perusahaan. “Latest Program ini memperlihatkan bahwa ketika ekonomi dunia melambat, pesanan dari merek internasional seperti Nike akan berkurang, bahkan bisa menyebabkan penyesuaian produksi,” jelasnya.

“Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa pasar global sangat dinamis. Jika ekonomi memburuk, maka industri seperti ini harus beradaptasi. Itu yang terjadi, dan Latest Program ini menjadi bukti bagaimana perusahaan merespons perubahan lingkungan pasar,”

Perbedaan Penjelasan Awal dan Pandangan Anton

Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi mengungkapkan bahwa penurunan pesanan Nike disebabkan oleh keterlambatan supply bahan baku yang disuplai oleh vendor ketiga. Namun, Anton membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa Latest Program ini lebih tepat dikaitkan dengan kondisi ekonomi global yang melanda sektor manufaktur. “Karena Latest Program ini sejalan dengan tren penurunan pesanan global, bukan kesalahan dalam rantai pasokan,” tegasnya.

“Jadi, Latest Program ini bukan hanya isu pasokan, tapi juga refleksi dari bagaimana industri sepatu Indonesia berusaha bertahan di tengah tekanan pasar internasional. Itu lebih merupakan respons terhadap perubahan tren global, bukan kesalahan lokal,”

Kebijakan Pemerintah dan Perusahaan Harus Disinkronisasi

Pengangguran 4.000 pekerja Nike menimbulkan diskusi mengenai kebijakan pemerintah dalam mendukung industri lokal. Anton menyoroti perlunya harmonisasi antara upaya pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri dan strategi perusahaan dalam memanfaatkan peluang ekonomi. “Latest Program ini bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali iklim investasi dan kebijakan yang mendorong pertumbuhan industri dalam negeri,” lanjutnya.

“Latest Program ini memperlihatkan bahwa perusahaan-perusahaan besar seperti Nike tidak bisa bekerja sendirian. Mereka membutuhkan dukungan pemerintah dan perbaikan iklim bisnis agar tetap bisa bertahan dan menyelesaikan masalah ini secara efektif,”

Langkah Sementara: Rumah Karyawan Tidak Diserahkan ke PHK

Kebijakan dirumahkan, bukan PHK, menjadi strategi yang dipilih oleh Nike dalam menangani masalah ini. Anton menjelaskan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk mempertahankan kestabilan ekonomi karyawan hingga ada peningkatan pesanan. “Latest Program ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk menjaga hubungan kerja yang sehat, meski ada tekanan ekonomi,” ujarnya.

Impak terhadap Pasar Kerja dan Kebutuhan Adaptasi

Kebijakan penyesuaian produksi oleh Nike menimbulkan dampak signifikan terhadap pasar kerja di Bandung. Dengan total 14.000 karyawan yang terdampak, Anton menegaskan bahwa adaptasi adalah kunci untuk bertahan. “Latest Program ini memberi pelajaran bahwa industri manufaktur harus cepat bereaksi terhadap perubahan kondisi pasar, agar tidak tertinggal oleh kompetitor lain,” tambahnya.

“Latest Program ini juga mengingatkan kita bahwa pengusaha harus tetap proaktif dalam menghadapi krisis. Dengan mengutamakan kestabilan tenaga kerja, mereka bisa membangun kepercayaan dan daya tahan terhadap fluktuasi ekonomi,”

Kesimpulan dan Peluang di Depan

Latest Program yang terjadi di Nike menjadi contoh nyata bagaimana industri manufaktur Indonesia harus beradaptasi dengan tantangan global. Anton mengatakan bahwa keputusan ini bukan akhir dari cerita, melainkan langkah awal untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan bisnis. “Dengan menyesuaikan produksi dan mengoptimalkan sumber daya, kita bisa memastikan bahwa industri sepatu nasional tetap berjalan baik meski ada perubahan pesanan global,” pungkasnya.

MORE FROM THIS CATEGORY