Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Tunggu Selat Hormuz Dibuka

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
minyak-dunia-1743725322723_169

Harga Minyak Dunia Naik Sedikit, Pasar Antisipasi Pemulihan Selat Hormuz

Dailynesia.com – Harga minyak global mengalami kenaikan kecil pada perdagangan pagi ini, setelah sebelumnya terpengaruh oleh berita kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut data Refinitiv, pada Selasa (16/6/2026) pukul 08.35 WIB, harga minyak Brent mencapai US$83,40 per barel, naik 0,25% dari penutupan Senin lalu di US$83,17 per barel. Sementara itu, harga WTI juga mengalami kenaikan 0,42% ke US$81,09 per barel, meningkat dari US$80,75 per barel sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan adanya penyesuaian pasar setelah sebelumnya cemas mengenai gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, yang menjadi poros penting bagi rantai pasok dunia.

Permintaan Pasar dan Proyeksi Harga

Kenaikan harga minyak ini terjadi saat pasar masih menunggu pemulihan jalur Selat Hormuz, yang menjadi fokus utama dalam program terbaru untuk stabilisasi pasokan energi global. Meski konflik di wilayah tersebut telah menimbulkan ketakutan terhadap produksi minyak, kabar perundingan damai antara AS dan Iran memberikan harapan. Analis menilai bahwa harga yang kembali naik mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kesepakatan ini, meskipun masih ada risiko dari faktor geopolitik lain yang belum teratasi.

Terlepas dari kenaikan kecil, kinerja harga minyak tetap dipengaruhi oleh dinamika pasokan dan permintaan. Berdasarkan laporan terbaru, stok minyak global yang rendah memperkuat tekanan untuk menjaga harga tidak terlalu turun. Beberapa lembaga seperti UBS dan Citi memproyeksikan harga Brent akan mencapai US$75 per barel di kuartal III-2026 dan US$70 per barel di kuartal IV-2026, tergantung pada kecepatan pemulihan produksi di Teluk Arab.

Program Terbaru dan Impact di Pasar Asia

Latest Program – Kesepakatan antara AS dan Iran tidak hanya menjadi momen penting untuk Selat Hormuz, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap pasar Asia. National Iranian Oil Company mengumumkan penurunan harga jual resmi minyak ringan untuk pembeli Asia, dengan harga light crude untuk Juli ditetapkan di US$7,15 per barel, turun dari premi US$13 per barel bulan sebelumnya. Ini menunjukkan upaya Iran untuk meningkatkan eksportasi ke pasar utama, termasuk Indonesia, yang menjadi salah satu negara tujuan utama.

Program terbaru ini juga mencakup langkah-langkah konkret untuk mempercepat pembukaan kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi poros kritis distribusi minyak dan gas alam cair. Selat Hormuz mengangkut sekitar 20% pasokan energi global, sehingga gangguan di wilayah tersebut dapat mengakibatkan kenaikan harga hingga 10% dalam beberapa hari. Namun, kembalinya arus perdagangan diprediksi akan memperkuat pasokan, sehingga menekan tekanan inflasi.

Menurut laporan Reuters, nota kesepahaman antara AS dan Iran telah ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Acara penandatanganan resmi akan berlangsung di Jenewa pada Jumat mendatang, sebagai bagian dari program terbaru yang mengupayakan stabilitas pasar energi. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi risiko geopoliitik di kawasan Teluk.

Analisis Ekspert dan Tantangan Mendatang

Kenaikan harga minyak juga didukung oleh faktor-faktor lain, seperti permintaan energi yang stabil di berbagai negara. Dengan pasokan yang sedang diperbaiki, analis menilai bahwa harga akan terus berfluktuasi hingga stok dan produksi kembali ke level normal. “Program terbaru ini mencerminkan komitmen untuk mempercepat pemulihan, meskipun masih ada tantangan teknis dan logistik,” kata Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di Bok Financial.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak masih terhenti akibat konflik. Meski ada harapan dari program terbaru, pemulihan ke level produksi sebelumnya diperkirakan memakan waktu cukup lama. Analis menekankan bahwa kecepatan pemulihan akan bergantung pada kondisi infrastruktur dan koordinasi antar pihak terkait. “Harga masih rentan terhadap berita yang muncul, terutama terkait selat Hormuz,” tambah Giovanni Staunovo dari UBS.

Dalam jangka panjang, pasar akan terus memantau perkembangan program terbaru ini, baik dari segi kebijakan Iran maupun kesiapan pasokan global. Kebutuhan untuk mengisi cadangan strategis, tingkat permintaan yang meningkat, dan ketersediaan pasokan dari negara-negara lain akan menjadi faktor penentu. Pemulihan Selat Hormuz, sebagai bagian dari program terbaru, diharapkan dapat menstabilkan harga dan memperkuat ekspektasi pasar untuk kuartal berikutnya.

MORE FROM THIS CATEGORY