Jutaan Warga Kelas Menengah RI Jatuh Miskin, Gegara Air Galon!

2 months ago  ·  4 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
sejumlah-pekerja-mengangkut-air-minum-dalam-kemasan-amdk-galon-dengan-alat-pemberat-di-distributor-aqua-di-kawasan-jakarta-kam-2_169

Penurunan Kelas Menengah RI Terkait New Policy: Dampak Ekonomi dari Kebiasaan Konsumsi Air Galon

Dailynesia.com – Jakarta — Laporan Mandiri Institute berjudul “Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di Tahun 2025” menyatakan bahwa jumlah penduduk kelas menengah Indonesia mengalami penurunan signifikan seiring pelaksanaan New Policy. Data yang diterbitkan Februari 2026 menunjukkan bahwa populasi warga kelas menengah turun sebanyak 1,2 juta orang, dari 47,9 juta pada 2024 menjadi 46,7 juta di tahun 2025. Perubahan ini menyebabkan proporsi kelas menengah dalam total populasi Indonesia menurun dari 17,1% menjadi 16,6%, menggambarkan dampak serius dari kebijakan yang diterapkan.

Kebiasaan Menggunakan Air Galon dan New Policy

Kebiasaan sehari-hari masyarakat kelas menengah mengandalkan air minum dalam kemasan seperti galon dan botol menjadi salah satu faktor utama yang memicu penurunan kasta ekonomi, menurut analisis New Policy. Ekonom senior Bambang Brodjonegoro menyoroti bahwa kebiasaan ini memperparah tekanan finansial masyarakat, terutama dalam konteks New Policy yang mengatur kenaikan harga barang dan jasa. “Selama ini secara tidak sadar, kebiasaan mengandalkan air galon dan botol telah menggerus income kita secara lumayan, terutama dengan New Policy yang menetapkan tarif air minum dalam kemasan lebih tinggi,” kata Bambang saat diwawancara di kantor Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) beberapa waktu lalu, dikutip pada Minggu (14/6/2026).

Menurut laporan, New Policy menciptakan kenaikan biaya hidup yang lebih cepat dari sebelumnya, terutama bagi keluarga yang menghabiskan sebagian besar pengeluaran untuk air minum kemasan. Dalam analisis New Policy, pengeluaran air galon dan botol dikategorikan sebagai pengeluaran fleksibel yang bisa berubah drastis dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Bambang menjelaskan bahwa New Policy memperkuat dampak dari pandemi sebelumnya, yang sudah menghancurkan sektor produktif dan memicu pengangguran.

Perbandingan dengan Negara Maju: Perbedaan Kebiasaan Konsumsi

Bambang menegaskan bahwa kebiasaan konsumsi air dalam kemasan tidak terjadi secara merata di seluruh dunia. Di negara-negara maju, warga kelas menengah lebih memilih air minum dari sumber yang lebih murah, seperti PDAM atau sumur pribadi, sehingga pengeluaran untuk air tetap terjaga. Hal ini berbeda dengan situasi di Indonesia, di mana New Policy meningkatkan biaya air galon, menyebabkan tekanan tambahan pada anggaran keluarga menengah. “Daya beli kelas menengahnya aman karena di negara-negara lain, mereka tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk air, berbeda dengan New Policy di Indonesia,” ujarnya.

Dalam konteks New Policy, konsumsi air galon memakan sekitar 10-15% dari pengeluaran bulanan warga kelas menengah. Kenaikan harga air minum dalam kemasan, seiring dengan New Policy, memaksa masyarakat mengalokasikan dana yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan pokok ke komoditas yang lebih mahal. Bambang mengingatkan bahwa kebijakan New Policy harus diimbangi dengan kebijakan subsidi atau subsidi untuk barang kebutuhan dasar, agar tidak menyebabkan kelompok menengah meluncur ke kategori miskin.

Faktor Pendukung Penurunan Kasta Ekonomi

Di samping kebiasaan konsumsi air galon, New Policy juga berkontribusi pada penurunan kasta ekonomi melalui faktor-faktor lain. Kenaikan suku bunga yang dipicu oleh New Policy memengaruhi penggunaan kredit dan tabungan masyarakat, terutama warga kelas menengah yang sering mengandalkan pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari. “New Policy menambah beban inflasi yang sudah ada sebelumnya, termasuk kenaikan harga beras akibat efek El Nino,” kata Bambang. Kombinasi faktor ini membuat daya beli warga kelas menengah terus menyusut.

Bambang menjelaskan bahwa New Policy berdampak lebih besar pada sektor konsumsi daripada sektor produksi, karena biaya pengelolaan air galon meningkat secara signifikan. Dengan New Policy, konsumen kelas menengah terpaksa mengalokasikan dana lebih besar untuk air, menyisakan ruang anggaran yang lebih kecil untuk investasi jangka panjang atau pengembangan usaha. “New Policy mengubah struktur pengeluaran, memaksa masyarakat kelas menengah mengalami penurunan kasta secara bertahap,” ujarnya.

Kebijakan New Policy dan Perbandingan dengan Negara Lain

Analisis New Policy menunjukkan bahwa kebijakan ini memperbesar kesenjangan antara masyarakat kelas menengah dan kelompok ekonomi lain. Dalam konteks global, banyak negara mengadopsi kebijakan subsidi untuk air minum, sehingga tidak menimbulkan tekanan besar pada daya beli masyarakat. “New Policy di Indonesia justru meningkatkan harga air galon, membuat kenaikan biaya hidup lebih cepat dari sebelumnya,” kata Bambang. Dampak ini berpotensi mengubah struktur ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Dalam pandangan Bambang, New Policy harus dianggap sebagai bagian dari kebijakan makroekonomi yang secara keseluruhan memengaruhi kelas menengah. “New Policy memperkuat efek dari kenaikan harga bahan baku, seperti plastik dan bahan bakar, yang secara tidak langsung meningkatkan biaya air galon,” ujarnya. Selain itu, kenaikan harga air galon juga memicu perubahan kebiasaan konsumsi, seperti penggunaan air yang lebih boros atau beralih ke air kemasan yang lebih mahal, memperparah tekanan ekonomi.

Langkah Pemulihan: Respon terhadap New Policy

Pemerintah diharapkan dapat merespons dampak New Policy dengan kebijakan yang lebih inklusif. Bambang menyarankan bahwa pemerintah perlu memberikan insentif untuk penggunaan air dalam bentuk yang lebih ekonomis, seperti program subsidi air minum atau pengembangan infrastruktur distribusi air. “New Policy tidak boleh hanya berdampak pada kelompok menengah, tetapi harus diimbangi dengan kebijakan yang mendorong perekonomian inklusif,” ujarnya. Selain itu, pemerintah juga perlu memantau kondisi ekonomi masyarakat secara berkala untuk mencegah kejatuhan lebih banyak warga kelas menengah ke kategori miskin.

MORE FROM THIS CATEGORY