Special Plan: Samsung TV Business Faces 2.3 Triliun Rupiah Loss, Struggles Against Chinese Competitors
Dailynesia.com – Dalam upaya meningkatkan daya saing, Samsung Electronics meluncurkan Special Plan yang menargetkan restrukturisasi bisnis di berbagai sektor, termasuk industri TV. Langkah ini terungkap setelah perusahaan mengumumkan penghentian penjualan produk TV dan perangkat rumah tangga di Tiongkok, Rabu (6/5/2026). Special Plan dirancang untuk mengurangi tekanan kompetitif dari merek lokal seperti TCL, yang kini menjadi ancaman utama di pasar global. “Kami sedang menganalisis berbagai strategi untuk meminimalisir dampak ke konsumen dan memperkuat posisi mitra bisnis melalui Special Plan ini,” jelas Samsung dalam pernyataan resminya, dikutip dari Reuters, Jumat (8/5/2026).
Penyebab Kerugian dan Tantangan Global
Keputusan Samsung menghentikan operasional TV di Tiongkok bukanlah hal baru. Sebelumnya, media Korea Selatan sudah memberitakan rencana perusahaan tersebut untuk mengubah strategi bisnis, terutama di sektor TV. Dalam beberapa bulan terakhir, persaingan semakin ketat karena kehadiran merek-merek asal Tiongkok yang menawarkan produk berkualitas tinggi dengan harga lebih terjangkau. Special Plan juga menargetkan peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran untuk menghadapi tuntutan pasar yang terus berubah. Dalam laporan Counterpoint, TCL dinyatakan menjadi pesaing utama Samsung, dengan kerja sama strategis dengan Sony yang memperkuat dominasi mereka di industri TV.
Penggantian Kepemimpinan dan Kinerja Bisnis
Sebagai bagian dari Special Plan, Samsung melakukan penggantian kepala bisnis TV untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk mengoptimalkan manajemen dan menghadapi tantangan di pasar Tiongkok. Meskipun bisnis chip memori mencatat pertumbuhan signifikan, sektor TV dan perangkat rumah tangga masih mengalami kerugian hingga 200 miliar won (Rp2,3 triliun) pada tahun lalu, menurut laporan keuangan terbaru. Tantangan ini semakin berat karena persaingan yang ketat dan tekanan tarif dari Amerika Serikat, yang mengurangi daya beli konsumen di wilayah tersebut.
Selain itu, brand HP Samsung juga mengalami penurunan pangsa pasar di Tiongkok, dengan kehilangan daya tarik konsumen kepada Apple dan merek lokal lainnya. Special Plan berupaya memperbaiki situasi ini dengan fokus pada inovasi produk dan pengembangan layanan tambahan. Namun, keberhasilannya masih tergantung pada kemampuan mengadaptasi strategi dengan dinamika pasar yang semakin kompetitif.
“Samsung harus lebih proaktif dalam memperkuat Special Plan mereka, terutama di Tiongkok, jika ingin tetap relevan dalam industri TV global,” kata peneliti pasar dari Counterpoint.
Di sisi positif, bisnis chip memori Samsung terus tumbuh karena permintaan yang meningkat di tengah gelombang teknologi AI. Namun, perusahaan tetap waspada terhadap kompetitor kecil di Tiongkok seperti ChangXin Memory Technologies, yang menawarkan solusi murah namun berkualitas. Special Plan juga mencakup upaya pengembangan inovasi di sektor ini, agar tetap mempertahankan keunggulan dalam persaingan global.
Kerugian yang tercatat di sektor TV menjadi sorotan, terutama karena konsumen semakin beralih ke merek lokal yang menawarkan fitur serupa dengan harga lebih terjangkau. Dengan Special Plan, Samsung berharap dapat mengevaluasi strategi pemasaran, memperbaiki harga, dan meningkatkan kualitas produk untuk mengembalikan kepercayaan konsumen. Meski begitu, ada kemungkinan perusahaan akan mengevaluasi bisnis di Tiongkok secara lebih mendalam dalam beberapa bulan ke depan.

