China Siap Tindak Balas Ketat Terhadap Amerika Serikat
Dailynesia.com – Pemerintah Tiongkok kini mengancam akan memberikan respons keras kepada Amerika Serikat. Ancaman ini muncul menyusul keputusan Washington yang kembali memperketat aturan impor untuk produk teknologi dari Negeri Tirai Bambu.
Kementerian Perdagangan Tiongkok menyoroti bahwa Federal Communications Commission (FCC) telah berulang kali mengabaikan sikap menahan diri yang selama ini ditunjukkan Beijing. Langkah tegas ini menyusul pengumuman FCC pekan lalu yang memasukkan perangkat robotik canggih buatan luar negeri, termasuk robot humanoid, ke dalam daftar pembatasan impor. Alasan utama yang dikemukakan adalah keamanan siber.
Meskipun FCC tidak secara eksplisit menyebutkan nama negara tertentu dalam pengumumannya, Beijing meyakini bahwa kebijakan tersebut jelas menargetkan produk-produk asal Tiongkok. Perlu dicatat bahwa FCC menyatakan pengecer masih diperbolehkan mengimpor model yang sebelumnya telah mendapat persetujuan.
Peringatan Serius dari Beijing
Kementerian Perdagangan Tiongkok menyebut bahwa pembatasan yang terus diperluas oleh FCC terhadap barang-barang Tiongkok telah “merusak secara serius stabilitas ekonomi dan perdagangan China-AS.” Beijing pun mendesak AS untuk mencabut keputusan tersebut dan memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika Washington tidak mengubah kebijakannya.
“Dua kartu utama yang bisa dimainkan China adalah memperketat kembali penjualan logam tanah jarang (rare earth) kepada perusahaan-perusahaan Amerika, serta semakin membatasi akses perusahaan AS seperti Tesla dan NVIDIA ke pasar China,” ujar Marc Einstein, analis dari Counterpoint Research.
Pernyataan keras dari Kementerian Perdagangan Tiongkok ini muncul menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan menerima Presiden Tiongkok Xi Jinping pada September mendatang. Di saat yang sama, eskalasi persaingan teknologi antara kedua negara terus meningkat.
Dampak Terhadap Produsen Robot dan Pasar Saham
Analisis dari Counterpoint Research menunjukkan bahwa kebijakan terbaru AS ini menjadi kabar buruk bagi produsen robot humanoid Tiongkok yang sedang mempersiapkan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) dalam beberapa bulan mendatang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan bahwa Amerika dapat menjatuhkan sanksi terhadap Tiongkok terkait dugaan pencurian model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Meski demikian, Trump pada Kamis mengisyaratkan bahwa AS mungkin akan mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati terkait kontrol AI demi mempertahankan kepemimpinan teknologi AS atas Tiongkok.
Menurut data Counterpoint Research, tiga perusahaan asal Tiongkok—yaitu Agibot, Unitree, dan UBTech—menguasai pangsa pasar pemasangan robot humanoid terbesar tahun lalu. Sementara itu, robot Optimus milik Tesla berada di posisi kelima.
Imbas dari isu ini, saham UBTech yang tercatat di Bursa Hong Kong sempat anjlok lebih dari 6% pada perdagangan Kamis pagi. Di sisi lain, Unitree dan Agibot diketahui telah mengajukan rencana IPO.
Di Amerika Utara, distributor robot humanoid Tiongkok, Robostore, mengaku telah bersiap menghadapi pembatasan baru tersebut dengan memperluas kemampuan operasionalnya di wilayah AS. CEO Robostore, Teddy Haggerty, menyampaikan bahwa perusahaan kini sedang memperkuat kapabilitas operasional yang berbasis di AS, meski tidak membeberkan detail lengkapnya.

