Tak Terduga! Daerah Pantura Jawa Ini Ternyata Sudah Tenggelam

3 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
kondisi-genangan-banjir-di-ruas-jalan-karanganyar-demak-rabu-2032024_169

Solving Problems: Daerah Pantura Jawa Ini Ternyata Sudah Tenggelam

Potret Erosi Serius di Pantura Jawa

Dailynesia.com – Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sejumlah daerah di Pantura Jawa, kawasan pesisir utara pulau Jawa, mengalami erosi berat hingga 65,8% dari garis pantai aslinya. Fakta ini mengungkapkan krisis lingkungan yang mengancam ekosistem alami, kehidupan masyarakat, dan infrastruktur ekonomi lokal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) serta Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pantura Tangguh, Indonesia Lestari” yang berlangsung di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, 30 April 2026. Peneliti BRIN mengingatkan bahwa masalah ini tidak hanya lokal, tetapi menjadi isu nasional yang perlu segera diatasi dalam rangka Solving Problems terhadap perubahan iklim.

Penyebab Kerentanan Pantura Jawa

Kerentanan Pantura Jawa diakui oleh peneliti BRIN, Tubagus Solihuddin, yang menyoroti peran tata guna lahan dan aktivitas manusia dalam memperparah kondisi. Daerah tersebut berada di atas formasi geologi yang belum terkonsolidasi, seperti endapan pluvial dan delta, membuatnya rentan terhadap erosi, pemampatan, serta intrusi air laut. “Perubahan lingkungan di hulu sungai, termasuk pengaliran air yang diarahkan ke tempat tertentu, membawa dampak signifikan,” jelas Tubagus. Ia menambahkan bahwa pengembangan permukiman dan ekonomi di Pantura Jawa memicu ekstraksi sumber daya laut yang intensif, yang akhirnya mengganggu keseimbangan alami.

Analisis garis pantai menggunakan data satelit Sentinel (2000–2024) menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Erosi terjadi di daerah delta yang seharusnya menjadi pengumpul sedimen, sementara akresi hanya mencapai 34,2%. Fenomena ini menggarisbawahi bahwa Solving Problems di Pantura Jawa tidak cukup hanya dengan upaya mitigasi lokal, tetapi membutuhkan penanganan holistik, termasuk pengelolaan sumber daya air dan penguatan ketahanan pesisir.

Kerusakan ekosistem di Pantura Jawa semakin parah karena struktur morfologis yang dominan dataran rendah. Wilayah ini mengalami elevasi kurang dari 10 meter, menyumbang 83% dari panjang total Pantai Utara Jawa. Di Tanjung Pontang, Serang, 1,72 kilometer persegi daratan hilang akibat erosi yang dipicu oleh pembelokan Sungai Ciujung Baru. Di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut merambah hingga 4 kilometer ke daratan, menghancurkan infrastruktur publik dan merendam 1.000 hektare tambak warga. Situbondo juga mencatatkan penurunan tanah hingga 15,5 sentimeter dalam 32 tahun terakhir, mengancam keberlanjutan pertanian dan permukiman.

Dampak perubahan lingkungan ini bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial. Kenaikan muka air laut (SLR) mencapai 0,41–0,42 sentimeter per tahun sejak 1993, mengakibatkan ambelasan tanah dan banjir yang semakin sering. Di Demak, laju amblesan tanah mencapai 16 cm per tahun, sementara Jakarta dan Sidoarjo juga mengalami penurunan hingga 15 cm. Peneliti menyebut bahwa daerah seperti Legonkulon, Subang, dan Krangkeng, Indramayu, menjadi contoh nyata bahwa Solving Problems terhadap perubahan iklim memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga penelitian.

Berdasarkan data geospasial (2017–2023), 70% wilayah Pantura Jawa mengalami penurunan muka tanah, yang berpotensi meningkatkan risiko banjir dan kekeringan. Situasi ini semakin kritis di tengah pertumbuhan populasi yang pesat, dengan kebutuhan akan ruang hidup dan ekonomi mengarah pada ekspansi permukiman tanpa pertimbangan lingkungan. Dampaknya, masyarakat kehilangan akses air tawar, lahan pertanian, dan keberlanjutan usaha pariwisata, yang merupakan tulang punggung perekonomian wilayah tersebut.

“Kita harus mengambil tindakan segera untuk menghadapi krisis pantura ini. Selama ini, masalah erosi, abrasi, dan intrusi air laut dianggap sebagai ancaman minor, tetapi kini menjadi isu besar yang memerlukan Solving Problems global,” kata Tubagus Solihuddin. Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, termasuk penggunaan teknologi untuk memantau perubahan garis pantai dan mengambil kebijakan yang tepat waktu.

MORE FROM THIS CATEGORY