Tech

Bank Besar Dijebol Maling, Uang Senilai Rp 1,9 Triliun Lenyap Seketika

ilustrasi-bank-pexels-1780705715270_169

Penipuan AI Menyerang Bank Italia, Dana hingga Rp1,94 Triliun Sempat Dialihkan

Dailynesia.com – Teknologi kecerdasan buatan kembali menjadi alat dalam kejahatan finansial berskala besar. Fideuram, unit perbankan swasta milik Intesa Sanpaolo—bank terbesar di Italia—menjadi sasaran penipuan yang memicu perpindahan dana senilai 95 juta euro, atau sekitar Rp1,94 triliun.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana pesan digital yang tampak meyakinkan, dikombinasikan dengan suara hasil tiruan AI, dapat menembus proses pengambilan keputusan di lingkungan lembaga keuangan. Transaksi tersebut bermula pada Februari 2026 dan melibatkan instruksi yang diyakini berasal dari jajaran pimpinan bank.

Pesan WhatsApp Memicu Rangkaian Transfer

Paolo Molesini, yang saat itu menjabat sebagai ketua Fideuram, menerima pesan WhatsApp yang seolah dikirim oleh Carlo Messina, CEO Intesa Sanpaolo. Isi pesan itu meminta bantuan segera untuk menjalankan transaksi keuangan internasional.

Penipu kemudian memperkuat skenarionya melalui panggilan telepon. Penelepon menggunakan suara yang sangat mirip dengan seorang mitra senior dari firma hukum terkemuka, sosok yang digambarkan berperan untuk memverifikasi instruksi pemindahan dana.

Suara tersebut ternyata bukan milik pengacara yang sebenarnya. Pelaku memakai teknologi kloning suara berbasis AI untuk menirukan karakter vokal target secara meyakinkan. Kombinasi pesan tertulis dan konfirmasi suara membuat instruksi itu tampak sah, sehingga Molesini meminta bagian keuangan Fideuram menjalankan serangkaian transfer ke rekening di luar negeri.

Mayoritas aliran dana diarahkan ke rekening yang terkait dengan China dan Hong Kong. Metode ini menunjukkan risiko besar ketika verifikasi transaksi hanya mengandalkan kanal komunikasi yang dapat dipalsukan, khususnya ketika pelaku mampu menyamar sebagai figur yang memiliki otoritas tinggi.

Lebih dari Separuh Dana Berhasil Dipulihkan

Sistem keamanan Fideuram akhirnya menangkap indikasi ketidakwajaran pada transaksi tersebut. Peringatan kemudian diteruskan kepada otoritas perbankan dan aparat penegak hukum di sejumlah negara, sehingga upaya pelacakan dana dapat segera dilakukan.

Koordinasi antara pihak berwenang di China, Portugal, dan Italia menghasilkan pemulihan sekitar 53 juta euro, setara kira-kira Rp1 triliun. Dana yang berhasil diselamatkan itu menjadi bagian terbesar dari nilai transaksi yang sempat dialihkan.

Namun, pemulihan belum mencakup seluruh uang. Sekitar 36 juta euro, atau kurang lebih Rp732 miliar, masih belum ditemukan. Sisa dana itu berpindah melalui jaringan rekening lintas negara yang kompleks sebelum kemudian dicuci dan diubah menjadi aset kripto.

Perpindahan aset ke kripto dapat menyulitkan penelusuran apabila dana telah melalui banyak rekening dan layanan berbeda. Dalam perkara seperti ini, kecepatan respons menjadi krusial karena jeda singkat dapat memberi pelaku kesempatan memecah, memindahkan, atau mengonversi dana ke bentuk lain.

Tidak Ada Eksekutif Fideuram yang Diselidiki

Otoritas memastikan Paolo Molesini dan eksekutif Fideuram lainnya bukan pihak yang sedang diselidiki dalam perkara tersebut. Molesini telah meninggalkan posisinya sebagai ketua pada Maret 2026 dengan alasan pribadi. Pada saat itu, manajemen tidak merinci latar belakang pengunduran dirinya.

Sementara itu, Kejaksaan Milan telah menetapkan seorang warga negara asing yang tinggal di luar Eropa sebagai tersangka utama dalam dugaan penipuan berbasis komputer tersebut. Intesa Sanpaolo dan Fideuram belum memberikan komentar resmi mengenai insiden ini.

Voice Cloning Menjadi Ancaman Serius

Kasus Fideuram menambah perhatian terhadap penggunaan voice cloning dalam aksi penipuan. Teknologi ini dapat menghasilkan suara yang menyerupai orang tertentu, lalu dipakai untuk membangun rasa percaya atau menekan korban agar mengambil keputusan cepat.

Ancaman ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas suara tiruan. Pelaku juga dapat memanfaatkan konteks, jabatan, kebiasaan komunikasi, dan rasa urgensi untuk membuat permintaan palsu terlihat masuk akal. Ketika pesan teks, panggilan suara, serta instruksi transaksi datang secara berurutan, korban bisa merasa bahwa semua tahapan telah diverifikasi.

Langkah pencegahan yang relevan bagi organisasi adalah membedakan otoritas seseorang dari keaslian kanal komunikasinya. Permintaan transfer bernilai besar memerlukan verifikasi tambahan melalui prosedur yang terpisah, bukan sekadar konfirmasi dari nomor telepon, aplikasi pesan, atau suara yang terdengar familiar.

Risiko serupa sebelumnya juga muncul di Italia. Pada 2025, pengusaha Massimo Moratti menjadi sasaran pelaku yang meniru suara seorang menteri Italia. Penipuan itu hampir membuatnya mengirimkan dana mendekati 1 juta euro, meski uang tersebut akhirnya berhasil diamankan kembali.

Dua peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan AI dapat dimanfaatkan untuk membuat penipuan sosial menjadi semakin sulit dikenali. Bagi bank, perusahaan, maupun individu, kewaspadaan tidak cukup berhenti pada pengecekan nama pengirim atau suara penelepon. Prosedur konfirmasi independen dan keputusan yang tidak tergesa-gesa menjadi lapisan perlindungan penting ketika ada instruksi keuangan yang mendadak dan bernilai besar.

Frequently Asked Questions

What is Bank Besar Dijebol Maling Uang Senilai?

Bank Besar Dijebol Maling Uang Senilai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bank Besar Dijebol Maling Uang Senilai matter?

Bank Besar Dijebol Maling Uang Senilai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *