20 Tahun Rekor Terburuk! IHSG Jadi Bursa Saham Paling Lemah di Dunia

3 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
5114d4b4-b393-414c-849b-45d3eb92d53c-0

IHSG Jadi Bursa Saham Terlemah dalam 20 Tahun

Dailynesia.com – Dalam Latest Program terkini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja terburuk dalam 20 tahun terakhir. Meski mengakhiri sesi perdagangan dengan kenaikan 1,10% ke 6162,05, peningkatan tersebut tak cukup menyembuhkan penurunan signifikan yang terjadi sepanjang minggu ini. IHSG tercatat turun 8,35% dalam sepekan, menjadikannya mengalami penurunan dua minggu beruntun. Total pelemahan sejak 5-21 Mei 2026 mencapai 15,04%, yang merupakan rekor tertinggi sejak 2006.

Perbandingan dengan Histori Pasar Global

Jika dibandingkan dengan indeks pasar global lainnya, IHSG tercatat sebagai salah satu yang paling terpuruk. Penurunan ini menempatkannya pada posisi terburuk di dunia dalam periode satu tahun terakhir. Dalam tahun 2026 sendiri, IHSG turun 28,74%, yang lebih parah dibandingkan rekor terburuk sebelumnya pada 2005-2006. Selama masa pandemi, penurunan IHSG terpanjang hanya mencapai tujuh hari, seperti pada akhir Februari 2020 dan awal Januari 2021. Namun, tahun ini mencatatkan 20 tahun rekor terburuk sebagai bukti ketidakstabilan pasar yang berkelanjutan.

Penyebab Utama Penurunan IHSG

Penurunan IHSG dikaitkan dengan berbagai faktor, salah satunya adalah kebijakan pemerintah yang menetapkan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai 1 Januari 2027. Kebijakan ini menjadi sorotan karena dianggap memberikan tekanan terhadap kepercayaan investor. “Faktor-faktor ini menciptakan ketidakpastian penurunan yang lebih besar terhadap peringkat Indonesia,” tulis S&P dikutip Reuters.

“Kebijakan pemerintah yang diumumkan dalam Latest Program memicu sentimen negatif di pasar modal,” komentar Moody’s dalam laporan terbaru. Lembaga pemeringkat ini mengingatkan bahwa perubahan besar-besaran dalam regulasi ekonomi dapat mengganggu kepercayaan pelaku usaha dan menekan suasana investasi. Meski ada potensi meningkatkan aliran devisa, kebijakan ini berisiko memunculkan ketidakseimbangan pasar serta menambah beban psikologis investor.

Kondisi Ekonomi Global yang Memengaruhi IHSG

Penurunan IHSG tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang kurang menguntungkan. Perubahan kebijakan di berbagai negara, seperti kenaikan suku bunga agresif oleh Bank Indonesia, semakin memperparah tekanan pada pasar. Dalam Latest Program, Bank Indonesia meningkatkan suku bunga sebesar 50 Bps menjadi 5,25% pada Kamis pekan ini, sebagai upaya menekan inflasi yang terus menguat. Namun, langkah ini berdampak negatif pada investasi jangka pendek dan menyebabkan penurunan kapitalisasi pasar IHSG hingga Rp 5.214 triliun.

Di samping itu, harga minyak yang tidak kunjung turun juga menjadi sorotan. Kenaikan harga bahan bakar ini berpotensi menaikkan inflasi, sehingga memicu perubahan kebijakan moneter. Dalam Latest Program, pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau dinamika ini untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut terhadap perekonomian. Pasar modal domestik terus didominasi oleh aksi jual besar-besaran, dengan nilai transaksi harian meningkat 16% menjadi Rp21,8 triliun, meski frekuensi transaksi turun 6,5% ke 2,4 juta kali.

Pengaruh pada Investor dan Sektor Ekonomi

Kondisi IHSG yang memburuk telah memberikan dampak signifikan pada psikologi investor. Berbagai faktor seperti kebijakan pemerintah, kenaikan suku bunga, dan harga minyak yang stabil mengurangi minat pembelian saham. Dalam Latest Program, analis pasar menyebutkan bahwa kecemasan akan ketidakpastian ekonomi menyebabkan aliran dana keluar dari pasar modal. Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya optimis kini terpaksa mempertimbangkan risiko lebih besar, terutama di sektor pertambangan dan energi.

Menurut data terbaru, volume saham yang diperdagangkan mencapai 36,67 miliar, menunjukkan tekanan yang masih berlangsung terhadap sektor saham nasional. Kebijakan sentralisasi ekspor melalui DSI dianggap sebagai pemicu utama, karena mengubah struktur distribusi komoditas strategis. Para ahli ekonomi memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa mempercepat penurunan IHSG jika tidak didukung oleh kebijakan fiskal yang lebih fleksibel.

Analisis Lebih Lanjut dari Pemeringkat Global

Dalam Latest Program, pemeringkat global seperti S&P dan Moody’s terus memantau dinamika IHSG. Kritik tajam terhadap kebijakan DSI menunjukkan bahwa perubahan regulasi ekspor bisa berdampak luas pada kepercayaan pasar. Moody’s menambahkan bahwa langkah ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi jangka panjang, terutama dalam konteks pertumbuhan ekonomi yang perlahan.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya dianggap stabil kini terancam karena kebijakan yang diumumkan dalam Latest Program,” tulis analis Moody’s. Dengan penurunan IHSG yang mencapai 28,74% dalam sepanjang tahun 2026, Indonesia semakin diuji dalam menjaga daya tarik investasi. Perubahan ini juga memengaruhi perdagangan saham di berbagai sektor, terutama sektor pertambangan dan energi yang menjadi bagian dari kapitalisasi pasar terbesar.

Kebijakan ekspor yang diumumkan dalam Latest Program memicu ketidakpuasan di kalangan investor. Meski tujuan dari kebijakan ini adalah memperkuat devisa, dampaknya justru mengganggu pertumbuhan pasar. Pemerintah perlu memastikan bahwa langkah-langkah ini tidak mengabaikan kebutuhan pelaku usaha dan kepentingan investor jangka panjang. Dengan IHSG menjadi bursa saham terlemah dalam 20 tahun terakhir, tantangan di depannya akan semakin berat.

MORE FROM THIS CATEGORY