Teheran Terjepit di Antara Sanksi dan Putus Akses Dolar: Neraca Perdagangan Iran Tergerus 35%
Dailynesia.com – Perang dagang yang tak pernah diumumkan secara resmi kini menghantam jantung ekonomi Iran. Tekanan berlapis dari Washington — mulai dari pembatasan langsung terhadap ekspor minyak hingga pengepungan terhadap jalur pembayaran di negara ketiga — telah mendorong arus perdagangan Iran ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Masoud Pezeshkian mengakui bahwa volume ekspor dan impor negara itu menyusut antara 25 hingga 35 persen, dengan kontraksi impor yang lebih dalam daripada ekspor. Pengakuan ini, disampaikan dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah, menandai pergeseran narasi resmi Teheran yang selama ini cenderung meminimalkan efek sanksi.
“Mengatakan bahwa sanksi sama sekali tidak berdampak tidak sesuai dengan fakta,” ujar Pezeshkian.
Yang belum diungkap secara gamblang adalah periode waktu maupun basis statistik yang menjadi acuan angka 25–35 persen tersebut. Tanpa kejelasan metodologis, sulit mengukur apakah penurunan itu bersifat musiman atau struktural, namun arah datanya konsisten dengan tren defisit yang tercatat dalam laporan resmi Bank Sentral Iran.
Defisit yang Membentang Tiga Tahun
Data yang dikompilasi dari sumber Bank Sentral Iran menunjukkan bahwa neraca perdagangan Teheran tidak pernah kembali ke zona surplus sejak kuartal keempat 2022. Pola defisit yang berkepanjangan ini mencerminkan erosi kapasitas ekspor — terutama minyak dan petrokimia — sekaligus ketergantungan impor yang sulit ditekan dalam jangka pendek.
Puncak tekanan terjadi pada kuartal ketiga 2024, ketika defisit membengkak hingga 6,01 miliar dolar AS. Pada periode itu, ekspor hanya menyentuh 12,24 miliar dolar sementara impor menembus 18,25 miliar dolar. Selisih sebesar enam miliar dolar dalam satu kuartal menjadi rekor negatif dalam rentang data yang tersedia. Setelahnya, defisit menyusut bertahap: 934 juta dolar pada kuartal keempat 2024, 1,40 miliar dolar pada kuartal pertama 2025, lalu 1,03 miliar dolar pada kuartal kedua 2025.
Pada kuartal ketiga 2025, defisit kembali menyempit menjadi 490 juta dolar. Ekspor naik ke 15,29 miliar dolar dan impor tercatat 15,78 miliar dolar. Meski perbaikan ini tampak positif, selisih yang masih negatif menegaskan bahwa Iran belum mampu menyeimbangkan kembali arus barangnya. Bagi negara yang 90 persen pendapatannya bergantung pada ekspor hidrokarbon, setiap gangguan pada jalur pengiriman dan pembayaran langsung menerjemah menjadi kontraksi fiskal.
Dorongan “Ekonomi Perlawanan” dan Upaya Melepaskan Diri dari Dolar
Di tengah kontraksi perdagangan, Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei mengeluarkan pesan tertulis yang menegaskan ulang prioritas ekonomi negara. Ia menyerukan agar pemerintah memperkuat produksi domestik, secara bertahap memangkas peran dolar dalam transaksi ekonomi, dan menjadikan apa yang disebut “Ekonomi Perlawanan” (Resistance Economy) sebagai kerangka kebijakan utama.
“Sama pentingnya untuk memberikan perhatian khusus terhadap pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produksi, secara bertahap mengurangi peran utama dolar AS, dan pada akhirnya menjadikan Resistance Economy sebagai fokus utama,” tulis Khamenei.
Ekonomi Perlawanan, istilah yang telah lama menjadi jargon kebijakan Teheran, pada intinya menuntut tiga hal: substitusi impor melalui manufaktur lokal, diversifikasi mitra dagang ke luar orbit Barat, dan pembangunan infrastruktur pembayaran alternatif. Dalam praktiknya, Iran telah menguji berbagai mekanisme — pembayaran dalam yuan Tiongkok, pertukaran mata uang lokal dengan negara tetangga, perdagangan barter, serta penggunaan perusahaan perantara yang berbadan hukum di yurisdiksi lain.
Realitasnya, melepaskan diri dari dolar bukan perkara sederhana. Mayoritas perdagangan komoditas global, pembiayaan perdagangan, dan penyelesaian antarbank masih terikat pada sistem yang berpusat pada dolar. Bank-bank di luar Amerika Serikat umumnya tetap memerlukan rekening koresponden di lembaga keuangan AS untuk memproses transaksi dalam dolar. Artinya, satu keputusan dari Washington dapat memutus akses sebuah bank asing terhadap sistem pembayaran internasional tanpa bank tersebut pernah beroperasi di tanah Amerika.
Washington Menjangkau Bank Negara Ketiga
Strategi tersebut kini memasuki fase yang lebih agresif. Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN), lembaga di bawah Kementerian Keuangan AS yang mengawasi aliran dana dan memerangi pencucian uang, mengusulkan penetapan Banque Misr UAE sebagai lembaga keuangan berstatus primary money laundering concern. Penetapan semacam itu memberi Washington wewenang untuk memblokir akses bank tersebut terhadap sistem pembayaran dolar AS.
FinCEN memperkirakan lima cabang Banque Misr di Uni Emirat Arab memproses sekitar 1,8 miliar dolar untuk 103 perusahaan yang diduga terkait dengan jaringan keuangan bayangan Iran. Skala transaksi ini menunjukkan bahwa bank-bank di negara Teluk — yang selama ini menjadi koridor utama bagi perdagangan Iran — kini berada dalam jangkauan langsung penegakan hukum Amerika.
Jaringan Bayangan dan 9 Miliar Dolar yang Mengalir
Untuk melewati hambatan sanksi, Iran membangun apa yang disebut jaringan keuangan bayangan. Menurut FinCEN, jaringan ini melibatkan tempat penukaran uang di dalam negeri Iran serta perusahaan perantara yang didirikan di Uni Emirat Arab dan Hong Kong. Fungsi utamanya: menyamarkan pemilik dana, mengaburkan asal transaksi, dan menyembunyikan penerima akhir dari hasil penjualan minyak serta komoditas Iran.
Estimasi FinCEN menunjukkan sekitar 9 miliar dolar transaksi yang berpotensi terhubung dengan jaringan perbankan bayangan Iran mengalir melalui rekening koresponden AS sepanjang tahun 2024. Angka itu setara dengan lebih dari setengah total ekspor Iran dalam satu tahun — sebuah proporsi yang menjelaskan mengapa Teheran memandang setiap gangguan pada jalur dolar sebagai ancaman eksistensial bagi stabilitas fiskalnya.
Implikasinya melampaui ranah ekonomi semata. Ketika akses dolar dipotong, biaya transaksi perdagangan Iran melonjak, mitra dagang kehilangan insentif untuk bertransaksi, dan cadangan devisa menyusut lebih cepat. Bagi negara yang sudah tiga tahun berjalan dalam defisit, setiap tambahan hambatan pada jalur pembayaran bukan sekadar ketidaknyamanan teknis — melainkan percepatan menuju krisis likuiditas yang dapat melumpuhkan kemampuan pemerintah membayar gaji, subsidi energi, dan kewajiban utang dalam mata uang asing.
Di titik ini, pilihan kebijakan Teheran menyempit. Mempercepat substitusi impor membutuhkan waktu dan investasi yang belum tersedia. Membangun sistem pembayaran paralel membutuhkan kepercayaan mitra dagang yang sulit diperoleh di tengah ketidakpastian sanksi. Sementara itu, Washington terus memperluas radius tekanannya dari bank-bank Iran ke bank-bank negara ketiga, mengubah setiap transaksi dolar yang menyentuh Teheran menjadi potensi target penegakan hukum. Dalam dinamika ini, Iran tidak lagi sekadar berhadapan dengan sanksi langsung — melainkan dengan arsitektur keuangan global yang secara aktif dirancang untuk mengecualikannya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Iran Terjepit?
Iran Terjepit is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Iran Terjepit matter?
Iran Terjepit matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

