Washington Melarang Ekspor Limbah Mineral Kritis ke China
Dailynesia.com – Pemerintahan Presiden Donald Trump kembali mengambil langkah tegas terhadap China melalui kebijakan baru yang melarang ekspor limbah tungsten dan limbah baterai litium. Langkah resmi dari Departemen Perdagangan AS ini bertujuan memperkuat industri daur ulang serta produksi mineral kritis di dalam negeri. Pengumuman mengenai pemblokiran “harta karun” tersebut disampaikan pada hari Kamis waktu setempat. Keputusan ini menjadi bagian dari strategi lebih luas untuk mengurangi ketergantungan Amerika Serikat terhadap rantai pasok mineral strategis dari China.
Aturan Baru Mulai Berlaku Agustus 2026
Kebijakan ini akan mulai berlaku pada tanggal 27 Agustus 2026 dengan durasi satu tahun. Menurut laporan Reuters pada Jumat (7/8/2026), langkah ini merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pekan lalu. Aturan tersebut memberikan kewenangan kepada pemerintah federal untuk membatasi ekspor limbah yang mengandung mineral kritis bernilai tinggi ke China dan negara lain. Implementasi aturan ini diharapkan dapat mengubah pola perdagangan mineral kritis secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Larangan ini mencakup black mass, yaitu material hasil penghancuran baterai lithium-ion bekas yang masih mengandung logam bernilai seperti litium, nikel, kobalt, dan mangan. Selain itu, pemerintah AS juga melarang ekspor limbah yang mengandung tungsten, logam yang digunakan untuk memperkeras baja dan banyak dimanfaatkan dalam industri pertahanan. Kedua jenis limbah ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi jika diproses di dalam negeri.
Strategi Mengurangi Ketergantungan pada China
Kebijakan terbaru ini menjadi bagian dari strategi Washington mengurangi ketergantungan terhadap China, yang selama ini mendominasi pengolahan mineral kritis dunia. Mineral tersebut merupakan bahan baku penting bagi berbagai industri, mulai dari baterai kendaraan listrik (EV) hingga sistem persenjataan. China saat ini mengolah lebih dari 60 persen dari total pasokan mineral kritis global, menjadikannya pemain kunci dalam ekonomi dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS semakin gencar menggunakan berbagai instrumen, seperti pembatasan ekspor, tarif impor, hingga insentif bagi industri domestik untuk membangun rantai pasok mineral kritis di dalam negeri. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing terkait akses terhadap mineral strategis. Para analis memperkirakan kebijakan ini akan berdampak positif bagi sektor manufaktur Amerika Serikat dalam jangka panjang.
Peluang Pengecualian dan Tantangan Industri
Meski demikian, pemerintah tetap membuka peluang pengecualian. Perusahaan dapat mengajukan izin ekspor apabila mampu membuktikan bahwa larangan tersebut akan menyebabkan kesulitan yang tidak semestinya (undue hardship) atau kerugian yang tidak dapat diperbaiki (irreparable harm). Proses pengajuan pengecualian ini akan melibatkan evaluasi komprehensif dari Departemen Perdagangan AS.
Data Basel Action Network menunjukkan AS mengekspor hampir 33.000 metrik ton limbah elektronik dan limbah logam setiap bulan. Sebagian besar masih mengandung mineral kritis yang sebenarnya dapat didaur ulang. Selama ini, praktik tersebut menuai kritik dari industri daur ulang AS. Pelaku industri menilai mempertahankan limbah tersebut di dalam negeri akan membantu meningkatkan pasokan bahan baku mineral kritis bagi industri nasional. Hal ini juga dapat menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan limbah.
Namun, tantangan masih membayangi. Kapasitas fasilitas daur ulang di AS saat ini belum mampu mengolah seluruh limbah yang dihasilkan. Selain itu, sejumlah perusahaan daur ulang mengalami tekanan keuangan dalam 18 bulan terakhir. Li-Cycle dan Ascend Elements, misalnya, telah mengajukan perlindungan kebangkrutan. Pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan finansial tambahan untuk membantu perusahaan-perusahaan ini bangkit.
Respons Pelaku Industri
CEO perusahaan daur ulang tungsten Amermin, Ryan McAdams, menyambut baik kebijakan tersebut, tetapi menilai larangan ekspor saja belum cukup.
“Larangan ini hanya solusi sementara. Kebijakan ini memberi kami lebih banyak waktu, tetapi kami tetap harus membangun infrastruktur pengolahan limbah di dalam negeri,” ujarnya.
Ia mengungkapkan Amermin sebenarnya telah memperoleh hibah sebesar US$11,5 juta (sekitar Rp189,8 miliar, asumsi kurs Rp16.500/US$) dari Departemen Energi AS pada tahun lalu. Namun, dana tersebut hingga kini belum dicairkan sehingga pembangunan fasilitas daur ulang komersial perusahaan mengalami keterlambatan. McAdams berharap pemerintah dapat mempercepat proses pencairan dana tersebut agar proyek dapat berjalan sesuai jadwal.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kebijakan Baru
Berapa lama kebijakan larangan ekspor ini berlaku? Kebijakan ini akan berlaku selama satu tahun, dimulai dari tanggal 27 Agustus 2026.
Apakah ada pengecualian untuk perusahaan tertentu? Ya, perusahaan dapat mengajukan izin ekspor jika dapat membuktikan adanya kesulitan yang tidak semestinya atau kerugian yang tidak dapat diperbaiki.
Bagaimana dampaknya bagi industri EV di AS? Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok mineral kritis untuk kendaraan listrik, mengurangi ketergantungan pada impor dari China.
Perusahaan mana saja yang terdampak secara finansial? Li-Cycle dan Ascend Elements adalah dua perusahaan daur ulang yang telah mengajukan perlindungan kebangkrutan dalam 18 bulan terakhir.

