ESDM Beberkan Penyebab Sektor Tambang Terkontraksi di Kuartal II-2026

2 hours ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
area-tambang-terbuka-grasberg-dan-tambang-bawah-tanah-deep-mill-level-zone-dmlz-pt-freeport-indonesia-ptfi-pt-freeport-indones-1775944307191_169

ESDM Beberkan Penyebab Sektor Tambang Terkontraksi di Kuartal II-2026

Dailynesia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa ESDM Beberkan Penyebab Sektor Tambang mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen pada kuartal II tahun 2026. Penurunan ini menjadi perhatian serius para pelaku industri karena mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam operasional pertambangan nasional. Faktor utama yang mendorong kontraksi ini adalah merosotnya produksi bijih logam hingga 9,4 persen secara signifikan.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, memberikan penjelasan komprehensif mengenai kondisi tersebut. Menurut beliau, operasional tambang Grasberg blok F di Provinsi Papua Tengah belum sepenuhnya pulih pasca insiden longsor dan aliran lumpur yang terjadi pada September 2025. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi volume produksi dan berdampak pada kinerja sektor pertambangan secara keseluruhan.

Faktor Penurunan Produksi Batu Bara dan Lignit

Selain masalah di Papua, produksi batu bara dan lignit juga mengalami penurunan sebesar 1,41 persen. Hal ini sejalan dengan penataan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan serta stabilitas harga di pasar internasional. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa produksi tidak melebihi permintaan global yang cenderung fluktuatif.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan sektor pertambangan mengalami kontraksi pada kuartal II 2026. Salah satunya disebabkan oleh penurunan drastis produksi tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) akibat insiden longsor. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Tri Winarno mengatakan penurunan produksi PTFI memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor pertambangan secara keseluruhan.

Gini kalau terkait dengan tembaga memang karena produksi Freeport turun drastis karena longsoran itu yang pertama, ujar Tri di Kementerian ESDM, dikutip Jumat (7/8/2026).

Kinerja Sektor Tetap Stabil Meski Produksi Turun

Meski demikian, kontraksi yang terlihat dalam data produksi tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sektor pertambangan. Dirjen Minerba menjelaskan bahwa kinerja sektor tambang relatif tetap terjaga karena terdongkrak kenaikan harga komoditas. Hal ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi sektor pertambangan masih tetap kuat meskipun volume produksi mengalami penurunan.

Jadi poinnya kalau misalnya dari sisi nilai uangnya itu hampir sama tetapi secara produksi kita turun. Kenapa? Karena secara harga naik gitu lho. Clear?, ujarnya.

Ia juga menjelaskan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di wilayah Maluku-Papua dipengaruhi oleh kinerja sektor pertambangan di Papua Tengah. Wilayah tersebut memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB Papua Tengah, yakni 27,26%, dengan aktivitas pertambangan Freeport sebagai penopang utama ekonomi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya sektor pertambangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kontraksi Sektor Tambang

Apa penyebab utama kontraksi sektor tambang di kuartal II 2026? Penyebab utamanya adalah penurunan produksi bijih logam sebesar 9,4 persen, terutama akibat belum pulihnya operasional tambang Grasberg blok F pasca insiden longsor September 2025.

Bagaimana dampak penurunan produksi terhadap nilai ekonomi sektor tambang? Meskipun produksi turun, nilai ekonomi sektor tambang tetap stabil karena adanya kenaikan harga komoditas yang mengimbangi penurunan volume produksi.

Wilayah mana yang paling terdampak oleh kontraksi sektor tambang? Wilayah Maluku-Papua mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, dengan Papua Tengah memiliki kontribusi 27,26% terhadap PDRB regional yang ditopang oleh aktivitas pertambangan Freeport.

Apakah penurunan produksi batu bara juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah? Ya, penurunan produksi batu bara dan lignit sebesar 1,41 persen sejalan dengan penataan kuota produksi dalam RKAB 2026 untuk menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga pasar.

More from this category