Israel “Cemburu” Jika AS Deal dengan Iran, Netanyahu Ungkap Alasannya

3 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
05cea4e0-59f9-491c-94c7-6036041bec50-0

Israel Cemburu Jika AS Deal dengan Iran, Netanyahu Ungkap Alasannya

Keputusan AS Memicu Perhatian Tel Aviv

Dailynesia.com – Jakarta, Pemerintah Israel kini mulai merasa cemas terhadap arah negosiasi yang sedang dijalankan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Iran. Sejumlah sumber dalam negeri mengungkapkan bahwa Tel Aviv khawatir Washington akan mencapai kesepakatan damai dengan Teheran sebelum semua target utama perang berhasil dicapai. Kekhawatiran ini muncul di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung antara AS dan Iran, setelah serangkaian pertempuran seminggu mengguncang Timur Tengah dan memicu kenaikan harga energi global.

Kekhawatiran Israel Terhadap Skenario Terburuk

Menurut para pejabat Israel, kesepakatan sebagian hanya akan memberi ruang baru bagi Iran, tanpa benar-benar menghentikan kemampuannya dalam pembentukan senjata. Seorang sumber Israel kepada CNN mengatakan skenario terburuk adalah jika Trump menerima kesepakatan yang memungkinkan Iran melanjutkan sebagian dari program nuklirnya, sementara isu rudal dan jaringan proksi dikesampingkan.

“Perhatian utama adalah Trump akan lelah dengan pembicaraan dan menyepakati kesepakatan apa pun, dengan konsesi di menit-menit terakhir,” kata sumber Israel, dikutip Rabu (13/5/2026).

Sumber itu menambahkan bahwa pejabat AS sudah memberikan jaminan bahwa stok uranium diperkaya Iran akan menjadi fokus utama dalam pembicaraan. Namun, ketiadaan pembahasan mengenai rudal balistik dan kelompok proksi Iran dianggap sebagai masalah besar oleh Tel Aviv.

Durasi perang yang berlangsung selama lebih dari 10 minggu menunjukkan bahwa Iran telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal ke wilayah Israel dan negara-negara Arab Teluk, selain meluncurkan rangkaian serangan dengan drone. Dalam konteks ini, Israel khawatir kesepakatan parsial yang hanya meringankan tekanan ekonomi Teheran justru akan menstabilkan rezim Iran dan menambah dana operasionalnya.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan bahwa Iran menyadari posisi saat ini tidak berkelanjutan. “Mereka tahu betul realitas mereka saat ini tidak berkelanjutan,” katanya. “Rudal balistik mereka hancur, fasilitas produksinya dibongkar, angkatan laut mereka tenggelam, dan proksi mereka melemah,” tambahnya.

Kebutuhan untuk menyeimbangkan kepentingan geopolitik dan ekonomi menjadi fokus utama dalam pembicaraan. Topics Covered menunjukkan bahwa AS dan Israel memiliki prioritas berbeda: Washington ingin menutup kemungkinan perang melalui diplomasi, sementara Tel Aviv mengkhawatirkan bahwa keputusan yang terlalu cepat bisa memperkuat Iran secara politik dan militer. Sumber yang mengikuti proses negosiasi mengatakan, Israel tetap waspada terhadap keputusan AS yang bisa memengaruhi keselamatan negara mereka.

Peluang tercapainya kesepakatan damai permanen masih jauh dari pasti. AS dan Iran masih memiliki perbedaan besar terkait pembukaan Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran. Dalam perang, Trump sempat menyatakan keinginan untuk menghancurkan program rudal Iran, mengakhiri dukungan Teheran terhadap kelompok proksi regional, serta menutup fasilitas nuklir Iran. Namun, fokus negosiasi kini hanya pada uranium diperkaya, khususnya hingga level senjata.

Perubahan ini terlihat dalam pernyataan Netanyahu. Dalam pidatonya di Yerusalem bulan Februari lalu, ia menyebut ada lima syarat utama bagi kesepakatan yang bisa diterima Israel. Namun, pekan lalu, Netanyahu hanya menekankan satu poin. “Tujuan paling penting adalah penghapusan material yang diperkaya dari Iran, seluruh material yang diperkaya, dan pembongkaran kemampuan pengayaan Iran,” ujarnya dalam pidato video sebelum rapat kabinet keamanan Israel.

MORE FROM THIS CATEGORY