Video: Sambut Insentif EV, Pengusaha Siap Genjot Penjualan
Dailynesia.com – Akan menjadi pendorong utama dalam meningkatkan adopsi kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Dalam wawancara dengan Serliana Salsabila, CNBC Indonesia, Stephen Mulyadi, Direktur Utama PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD), menjelaskan bahwa insentif ini berpotensi mengubah dinamika pasar otomotif nasional. “Kebijakan Special Plan adalah langkah strategis untuk mendukung industri EV, khususnya dalam mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat komponen dalam negeri,” ujarnya. Dengan adanya insentif sebanyak 100.000 unit untuk tahun 2026, para pengusaha optimis akan ada peningkatan signifikan dalam penjualan kendaraan listrik.
The Special Plan: An Overview
Special Plan dirancang sebagai bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk mencapai target transisi energi menuju kendaraan ramah lingkungan. Program ini mencakup berbagai kebijakan, seperti pengurangan pajak, subsidi, dan dukungan infrastruktur, yang bertujuan untuk menurunkan biaya pembelian EV dan mendorong konsumen untuk beralih dari kendaraan konvensional. Stephen Mulyadi menekankan bahwa keberhasilan kebijakan ini bergantung pada keterlibatan industri dan kejelasan regulasi yang berkelanjutan. “Special Plan adalah peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan industri EV di Indonesia, selama kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten dan transparan,” tambahnya.
Menurut Stephen Mulyadi, industri otomotif Indonesia perlu memanfaatkan Special Plan untuk meningkatkan kompetitivitas. “Kami sudah memulai proses perakitan motor listrik secara penuh, serta memproduksi baterai lokal. Ini adalah langkah konkret untuk mendukung Special Plan dan menunjukkan komitmen industri terhadap inovasi,” jelasnya. Langkah-langkah seperti ini diharapkan dapat mengurangi biaya produksi dan mempercepat pengembangan teknologi EV di dalam negeri. Pemerintah juga berharap insentif ini akan menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Strategies to Maximize the Impact of the Special Plan
Dalam memanfaatkan Special Plan, para pengusaha fokus pada penguatan komponen dalam negeri. Stephen Mulyadi menjelaskan bahwa UNTD sedang berupaya memproduksi komponen seperti motor dan baterai secara lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor. “Dengan menaikkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), kami dapat menikmati manfaat insentif yang lebih besar,” katanya. Peningkatan TKDN juga akan membantu menurunkan biaya produksi, sehingga menguntungkan konsumen dan meningkatkan daya saing produk EV di pasar internasional.
Di samping itu, insentif dari Special Plan diharapkan dapat mendorong keterlibatan produsen lokal dalam rantai pasok EV. Stephen Mulyadi menyoroti bahwa kebijakan ini memberikan ruang bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah (UKM) untuk berkembang. “Kami berharap Special Plan akan menjadi peluang bagi industri manufaktur lokal untuk memperluas skala produksi dan membangun jaringan distribusi yang lebih kuat,” tuturnya. Selain itu, insentif ini juga diperkirakan akan meningkatkan minat masyarakat terhadap produk ramah lingkungan, yang sebelumnya masih terbatas karena harga EV yang relatif mahal.
Dalam konteks geopolitik global yang terus berubah, perusahaan juga memperhatikan dampak dari melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap biaya bahan baku impor. Stephen Mulyadi menjelaskan bahwa dengan Special Plan, perusahaan dapat mengurangi risiko kenaikan harga bahan baku dari Tiongkok. “Kami terus mengembangkan komponen lokal untuk memastikan kemandirian produksi, bahkan di tengah tekanan inflasi,” katanya. Strategi ini diharapkan dapat membantu industri EV tetap stabil dan berkelanjutan meskipun terjadi perubahan ekonomi global.
Special Plan juga memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan industri EV. Stephen Mulyadi mengungkapkan bahwa UNTD telah mengadakan kolaborasi dengan perusahaan Tiongkok untuk mengadaptasi teknologi dan sistem produksi. “Kerja sama dengan Tiongkok membantu kami dalam menyelesaikan masalah ketersediaan teknologi, tetapi kami tetap fokus pada pengembangan komponen lokal,” jelasnya. Dengan pendekatan ini, perusahaan berharap bisa menciptakan produk EV yang lebih murah dan ramah lingkungan, sekaligus mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.
Menurut analisis, Special Plan diperkirakan akan meningkatkan volume penjualan EV di Indonesia hingga 30% pada tahun 2026. Ini berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi hijau dan ketersediaan pekerjaan di sektor manufaktur. Stephen Mulyadi menambahkan bahwa selain insentif langsung, pemerintah juga perlu memperkuat regulasi untuk mendukung pengembangan infrastruktur pengisian baterai. “Tanpa infrastruktur yang memadai, insentif Special Plan mungkin tidak cukup untuk memacu adopsi EV secara massal,” katanya. Dengan demikian, keberhasilan Special Plan tergantung pada koordinasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.

