Keresahan Pengusaha Warteg Akibat Pelemahan Rupiah, Meski Tidak Menggunakan Dolar AS
Dailynesia.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan signifikan dalam perdagangan Senin (18/5/2026). Di pasar keuangan, mata uang Garuda mencapai level terendah sepanjang masa dengan harga Rp17.600 per dolar AS. Data dari Refinitiv menunjukkan rupiah melemah 1,15% pada pukul 10.20 WIB, mencapai Rp17.660/US$. Angka ini lebih rendah dibandingkan pembukaan perdagangan pagi hari, yang tercatat di Rp17.630/US$. Selain itu, rupiah juga terus mengalami tekanan, sehingga pada pukul 12.27 WIB, kurs dolar mencapai Rp17.670, turun 1,2% dari penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026) pekan lalu.
Ketidaknyamanan di Era Ekonomi Terintegrasi
Pelemahan rupiah, meski tidak langsung menyentuh transaksi usaha warung tegal, tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha. Presiden Prabowo Subianto mengatakan, masyarakat pedesaan tidak terlalu terpengaruh oleh kurs dolar AS karena aktivitas sehari-hari mereka menggunakan rupiah. “Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar bilang Indonesia akan runtuh atau kacau. Namun, orang rakyat di desa tidak perlu dolar, kok,” ujar Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
“Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar ‘Indonesia akan collapse, akan chaos’… Orang rakyat di desa nggak pake dolar kok,” kata Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Mukroni, Ketua Koordinator Warung Tegal Nusantara (Kowantara), menyampaikan pandangan berbeda. Meskipun pedagang warung tegal tidak langsung bertransaksi dengan dolar AS, tekanan pelemahan rupiah menyebar hingga ke sektor usaha kecil. “Secara langsung, pelaku usaha warteg memang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS. Namun, secara tidak langsung, pelemahan rupiah ini sangat berdampak pada biaya produksi dan produktivitas kami,” kata Mukroni.
Dampak pada Bahan Baku dan Biaya Produksi
Pelemahan rupiah membuat harga bahan baku impor naik, yang berdampak langsung pada operasional warung tegal. Mukroni menjelaskan bahwa usaha ini sangat rentan terhadap perubahan harga bahan-bahan pokok. “Warteg adalah lini usaha yang sangat sensitif terhadap harga bahan baku. Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga-harga barang berbasis impor dan rantai pasok global, yang kemudian merembet ke pasar domestik,” ujarnya.
Contoh nyata dampak tersebut adalah kenaikan harga kedelai impor, bahan baku utama tahu dan tempe. “Komoditas utama warteg seperti tempe dan tahu sangat bergantung pada harga kedelai impor. Begitu rupiah melemah, harga kedelai naik, dan ukuran tempe atau tahu di pasar terpaksa mengecil atau harganya meningkat,” tambah Mukroni. Selain kedelai, biaya kemasan plastik juga ikut terdampak. Bahan baku plastik ini berasal dari industri petrokimia yang sangat dipengaruhi oleh harga minyak global dan kurs dolar AS. “Bahan baku plastik kemasan untuk layanan take-away berbasis petrokimia, harganya sangat dipengaruhi oleh kurs dan harga minyak global. Ini meningkatkan overhead cost kami,” jelas Mukroni.
Kemacetan Daya Beli Pelanggan
Pelemahan rupiah juga mengurangi daya beli konsumen warung tegal, terutama mereka yang berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah dan pekerja informal. “Ketika harga barang-barang secara umum naik akibat inflasi, termasuk dampak pelemahan rupiah, daya beli mereka turun. Akibatnya, omset harian warteg ikut tertekan,” ujar Mukroni.
Mukroni menyoroti perbedaan antara teori dan realitas di lapangan. Meskipun transaksi sehari-hari masyarakat menggunakan rupiah, dolar AS tetap memengaruhi harga barang yang mereka beli. “Secara psikologis atau transaksi harian, betul bahwa pedagang warteg atau petani di desa menggunakan rupiah. Namun, di era ekonomi yang sudah terintegrasi, dolar mengalir ke desa lewat harga barang yang mereka konsumsi,” tambahnya.
Stakeholder Warteg: Masa Depan yang Tidak Pasti
Menurut Mukroni, masyarakat pedesaan tidak hanya terdampak dari sisi harga barang, tetapi juga biaya produksi. Contohnya, petani desa yang membutuhkan pupuk dan pakan ternak impor. “Petani di desa tetap terkena dampak karena pupuk dan pakan ternak memiliki komponen impor yang besar,” sebut Mukroni. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah memiliki dampak yang lebih luas daripada yang dibayangkan.
Di tengah tekanan kurs rupiah, Prabowo optimistis kondisi Indonesia tetap stabil, baik dari sisi pangan maupun energi. Namun, pernyataannya dianggap tidak sepenuhnya menggambarkan realitas usaha kecil di lapangan. “Meskipun posisi rupiah telah menyentuh level terendah, kondisi Indonesia masih aman. Kami yakin tidak ada masalah besar dalam hal ketersediaan bahan pangan atau energi,” kata Prabowo.
Mukroni menilai, pernyataan Presiden tentang desa yang tidak terkena dampak dolar AS justru mengundang pertanyaan. “Mengenai pernyataan bahwa masyarakat di akar rumput tidak terdampak signifikan, karena tidak menggunakan dolar, kami melihat ada celah realitas atau gap antara teori tersebut dengan kondisi riil di lapangan,” ujarnya. Menurutnya, meski transaksi sehari-hari dilakukan dengan rupiah, inflasi dan kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh pelemahan rupiah membuat daya beli konsumen menurun.
Dalam konteks ekonomi global, pelemahan rupiah bukan hanya soal kurs, tetapi juga ketergantungan pada barang-barang impor. Hal ini menimbulkan tekanan pada usaha kecil, termasuk warung tegal yang dianggap sepele oleh banyak orang. “Warteg, yang dianggap hanya usaha sederhana, justru rentan terhadap perubahan harga bahan baku dan biaya operasional. Karena itu, mereka merasa ‘pusing’ dengan kondisi terkini,” kata Mukroni.
Indonesia, yang memiliki sektor ekonomi diversifikasi, terlihat mengalami tekanan dari berbagai sisi. Meskipun pemerintah berupaya mengendalikan inflasi dan stabilitas kurs, perubahan harga bahan baku impor tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi usaha mikro. “Dolar AS mungkin tidak digunakan secara langsung oleh pedagang di desa, tetapi dampaknya terasa hingga ke level usaha paling dasar,” tambah Mukroni. Ini menjadi tantangan bagi pengusaha kecil, yang sehari-hari menghadapi tekanan harga bahan baku dan kompetisi pasar.
Di sisi lain, pelemahan rupiah mengingatkan tentang ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap impor. Sejumlah bahan pangan dan bahan produksi, seperti minyak, pupuk, dan plastik, terus mengalami kenaikan harga. “Masalahnya, rupiah terus melemah, dan ini berdampak langsung ke sektor usaha yang dijalankan warga desa,” ujar Mukroni. Perlu ada kebijakan yang lebih tepat untuk menangani tekanan kurs dan memastikan daya beli masyarakat tetap stabil.
Perbedaan Pandangan dan Kebutuhan Reformasi
Meski Prabowo menekankan bahwa

