Senjata AS Disebut “Sakaratul Maut”, Trump & Pentagon Pasang Kuda-Kuda

50 minutes ago  ·  4 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
usa-trump-1785371156663_169-1

Trump dan Pentagon Tolak Klaim Krisis Senjata AS

Dailynesia.com – Jakarta — Pejabat Gedung Putih bersama Pentagon secara tegas menepis berbagai laporan yang menyebutkan pasokan senjata ofensif maupun defensif Amerika Serikat telah menyentuh level kritis. Penurunan drastis cadangan amunisi militer ini dilaporkan terjadi setelah lima bulan konflik dengan Iran berlangsung.

Menurut Al Jazeera pada Kamis (6/8/2026), Presiden Donald Trump menyanggah keras tuduhan bahwa negaranya mengalami kelangkaan senjata. Dalam pernyataannya pada hari Selasa, ia justru mengarahkan jari ke mantan Presiden Joe Biden. Trump mengklaim Biden telah membagikan amunisi pencegat Patriot secara cuma-cuma ke Ukraina dan negara-negara Eropa.

“Kami memiliki jauh lebih banyak amunisi daripada siapa pun di dunia, dan jauh lebih banyak daripada yang kami butuhkan, terlepas dari kenyataan bahwa jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah diberikan oleh Joe Biden yang Korup dan Pemerintahan Biden ke Ukraina dan Eropa tanpa biaya, dalam salah satu dari banyak tindakan mereka yang sangat bodoh,” ujar Trump.

Lebih lanjut, Trump menambahkan bahwa produksi dalam negeri akan segera dimulai. Ia berjanji akan mendistribusikan lebih banyak senjata kepada sekutu Eropa dan wilayah lainnya.

Bantahan Pentagon dan Laporan CNN

Sean Parnell, juru bicara Pentagon, juga menolak keras narasi bahwa militer AS sedang menghadapi kekurangan amunisi yang parah. Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Amerika merupakan yang terkuat di dunia dan memiliki semua yang diperlukan untuk beroperasi sesuai kehendak Presiden.

“Kami telah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan kemampuan yang dalam untuk melindungi rakyat dan kepentingan kita,” tuturnya.

Sementara itu, laporan CNN pada hari Senin mengungkap gambaran yang berbeda. Militer AS dikabarkan telah menghabiskan 80 persen pencegat THAAD dan sekitar setengah dari pencegat Patriot. Kondisi ini menempatkan persediaan pada level yang sangat rendah.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth segera membantah angka 80 persen tersebut. Ia juga menolak karakterisasi ancaman yang disampaikan dalam laporan tersebut. Melalui platform X pada hari Senin, Hegseth menulis kata-kata “tidak benar” dan “memalukan” sebagai responsnya.

Analisis CSIS dan Kekurangan Rudal

Studi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis pada 27 Juli memberikan data serupa. Analisis tersebut menghitung bahwa militer AS hanya menyisakan sedikit lebih dari sepertiga rudal Patriot dan sekitar separuh THAAD.

CSIS memproyeksikan pemulihan pasokan akan memakan waktu minimal tiga tahun. Proyeksi ini memperhitungkan adanya kucuran dana baru untuk mengisi kembali gudang senjata.

Reuters dan CBS News secara terpisah melaporkan bahwa rudal ofensif jarak jauh ATACMS dan PrSM juga telah banyak terpakai. Dua sumber menyatakan bahwa hampir seluruh rudal tersebut telah digunakan. Masing-masing misil tersebut menelan biaya sekitar US$1 juta atau setara Rp17,8 miliar.

Kekhawatiran di Balik Pintu Tertutup

Pemerintahan Trump sejauh ini belum secara terbuka mengakui ancaman yang ditimbulkan oleh krisis persediaan senjata. Namun, pemerintah telah mengajukan anggaran pertahanan sebesar US$95 miliar (Rp1.692 triliun) untuk Tahun Anggaran 2027. Selain itu, terdapat permintaan dana tambahan sebesar US$21 miliar (Rp375 triliun) untuk mengisi ulang gudang.

Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, dilaporkan telah berkali-kali menyampaikan kekhawatirannya mengenai situasi ini di balik pintu tertutup. The New York Times menyebutkan bahwa kekhawatiran pasokan senjata menjadi salah satu faktor Trump mundur dari eskalasi yang lebih besar pada akhir Juli lalu.

Keputusan untuk mengurangi intensifikasi konflik ini diambil setelah nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran untuk menghentikan pertempuran pada bulan Juni mengalami kegagalan. Runtuhnya kesepakatan tersebut sempat memicu serangan berbalas dari kedua belah pihak selama hampir dua minggu penuh.

Dampak terhadap Kemampuan Tempur

Mark Cancian, pensiunan kolonel Korps Marinir AS dan penasihat senior CSIS, menilai kekurangan senjata ATACMS dan PrSM akan menurunkan kemampuan angkatan darat untuk melancarkan serangan jarak jauh. Ia menyebut pasukan AS nantinya harus menggunakan mekanisme alternatif seperti JASSM atau Tomahawk.

Cancian menambahkan bahwa strategi baru ini akan melibatkan serangan jarak dekat yang lebih membahayakan pasukan di lapangan. Untuk ATACMS dan PrSM, jika persediaan hampir habis atau habis total, maka alternatif pengiriman melalui udara atau laut harus digunakan.

Frequently Asked Questions

What is Senjata AS Disebut Sakaratul Maut Trump?

Senjata AS Disebut Sakaratul Maut Trump is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Senjata AS Disebut Sakaratul Maut Trump matter?

Senjata AS Disebut Sakaratul Maut Trump matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

MORE FROM THIS CATEGORY